KEBUTUHAN OKSIGENASI
Tujuan Instruksional Umum
Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi.
Tujuan Instruksional Khusus
Setelah menyelesaikan bab ini, peserta didik akan mampu untuk :
1. Menjelaskan pengertian oksigenasi
2. Menjelaskan tujuan pemberian oksigen
3. Menguraikan stuktur anatomi sistem pernapasan serta fungsinya
4. Menguraikan fisiologi sistem pernapasan ( ventilasi, difusi dan transportasi )
5. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pernapasan
6. Menjelaskan masalah-masalah yang timbul dalam pemenuhan kebutuhan oksigen
7. Mengidentifikasi tindakan keperawatan untuk mempertahankan dan memenuhi kebutuhan pertukaran O2 dan CO2 :
a. Pengaturan posisi
b. Latihan nafas dalam
c. Batuk efektif
d. Hidrasi
e. Inhalasi
f. Pemberian O2
g. Fisioterapi dada (vibrasi dan perkusi)
h. Postural drainage
i. Massage punggung
j. Pengumpulan dahak
8. Menjelaskan pengkajian fungsi pernapasan
9. Menjelaskan kemungkinan diagnosa keperawatan yang timbul
10. Menjelaskan perencanaan, tujuan yang akan dicapai secara umum
11. Menjelaskan intervensi keperawatan serta evaluasi
I. PENGERTIAN OKSIGENASI
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.
II. TUJUAN PEMBERIAN OKSIGENASI
1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
2. Untuk menurunkan kerja paru-paru
3. Untuk menurunkan kerja jantung
III. ANATOMI SISTEM PERNAPASAN
A. Saluran Nafas Atas
1. Hidung
• Terdiri atas bagian eksternal dan internal
• Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago
• Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum
• Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung
• Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara terus menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia
• Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru
• Hidung juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru
• Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghidu) karena reseptor olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalan dengan pertambahan usia
2. Faring
• Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring
• Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring (laringofaring)
• Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif
3. Laring
• Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea
• Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas :
- Epiglotis : daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring selama menelan
- Glotis : ostium antara pita suara dalam laring
- Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini membentuk jakun (Adam’s apple)
- Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring (terletak di bawah kartilago tiroid)
- Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid
- Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi suara (pita suara melekat pada lumen laring)
• Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi
• Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batu
4. Trakea
• Disebut juga batang tenggorok
• Ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut karina
B. Saluran Nafas Bawah
1. Bronkus
• Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri
• Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus)
• Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental
• Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf
2. Bronkiolus
• Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus
• Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas
3. Bronkiolus Terminalis
• Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia)
4. Bronkiolus respiratori
• Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori
• Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas konduksi dan jalan udara pertukaran gas
5. Duktus alveolar dan Sakus alveolar
• Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar
• Dan kemudian menjadi alveoli
6. Alveoli
• Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2
• Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2
• Terdiri atas 3 tipe :
- Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli
- Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)
- Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan
PARU
• Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut
• Terletak dalam rongga dada atau toraks
• Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar
• Setiap paru mempunyai apeks dan basis
• Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris
• Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus
• Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya
PLEURA
• Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
• Terbagi mejadi 2 :
- Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada
- Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru
• Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru
• Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru
IV. FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN
Bernafas / pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli
3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)
V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERNAPASAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi adalah :
1. Tahap Perkembangan
Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang kecil dan jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada bentuk thorak dan pola napas.
2. Lingkungan
Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi. Makin tinggi daratan, makin rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2 yang dapat dihirup individu. Sebagai akibatnya individu pada daerah ketinggian memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat, juga kedalaman pernapasan yang meningkat.
Sebagai respon terhadap panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah akan mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari permukaan tubuh akan mengakibatkan curah jantung meningkat sehingga kebutuhan oksigen juga akan meningkat. Pada lingkungan yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi pembuluh darah perifer, akibatnya meningkatkan tekanan darah yang akan menurunkan kegiatan-kegiatan jantung sehingga mengurangi kebutuhan akan oksigen.
3. Gaya Hidup
Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman pernapasan dan denyut jantung, demikian juga suplay oksigen dalam tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu dapat menjadi predisposisi penyakit paru.
4. Status Kesehatan
Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat pada terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu penyakit-penyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek sebaliknya terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi kardiovaskuler yang mempengaruhi oksigen adalah anemia, karena hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida maka anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari sel.
5. Narkotika
Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam pernapasan ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu bila memberikan obat-obat narkotik analgetik, perawat harus memantau laju dan kedalaman pernapasan.
6. Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan
Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat mempengarhi pernapasan yaitu :
a. Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru
b. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru
c. Transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan dari sel jaringan.
Gangguan pada respirasi yaitu hipoksia, perubahan pola napas dan obstruksi sebagian jalan napas.
Hipoksia yaitu suatu kondisi ketika ketidakcukupan oksigen di dalam tubuh yang diinspirasi sampai jaringan. Hal ini dapat berhubungan dengan ventilasi, difusi gas atau transpor gas oleh darah yang dapat disebabkan oleh kondisi yang dapat merubah satu atau lebih bagian-bagian dari proses respirasi. Penyebab lain hipoksia adalah hipoventilasi alveolar yang tidak adekuat sehubungan dengan menurunnya tidal volume, sehingga karbondioksida kadang berakumulasi didalam darah.
Sianosis dapat ditandai dengan warna kebiruan pada kulit, dasar kuku dan membran mukosa yang disebabkan oleh kekurangan kadar oksigen dalam hemoglobin. Oksigenasi yang adekuat sangat penting untuk fungsi serebral. Korteks serebral dapat mentoleransi hipoksia hanya selama 3 - 5 menit sebelum terjadi kerusakan permanen. Wajah orang hipoksia akut biasanya terlihat cemas, lelah dan pucat.
7. Perubahan pola nafas
Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama jaraknya dan sedikit perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang terdapat napas cuping hidung karena usaha inspirasi yang meningkat, denyut jantung meningkat. Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi duduk dan berdiri seperti pada penderita asma.
8. Obstruksi jalan napas
Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang saluran pernapasan di sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas bagian atas meliputi : hidung, pharing, laring atau trakhea, dapat terjadi karena adanya benda asing seperti makanan, karena lidah yang jatuh kebelakang (otrhopharing) bila individu tidak sadar atau bila sekresi menumpuk disaluran napas.
Obstruksi jalan napas di bagian bawah melibatkan oklusi sebagian atau lengkap dari saluran napas ke bronkhus dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang terbuka merupakan intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan yang tepat. Onbstruksi sebagian jalan napas ditandai dengan adanya suara mengorok selama inhalasi (inspirasi).
VI. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1. Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan)
Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara fisik maupun psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui hubungan dan pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit, dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap pengetahuan klien tentang masalahnya/penyakitnya.
2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST)
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh klien pada saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan utama seharusnya mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala, dan Time)
3. Riwayat perkembangan
a. Neonatus : 30 - 60 x/mnt
b. Bayi : 44 x/mnt
c. Anak : 20 - 25 x/mnt
d. Dewasa : 15 - 20 x/mnt
e. Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun
4. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami masalah / penyakit yang sama.
5. Riwayat sosial
Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya : merokok, pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll.
6. Riwayat psikologis
Disini perawat perlu mengetahui tentang :
a. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
b. Pengaruh sakit terhadap cara hidup
c. Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
d. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapi
7. Riwayat spiritual
8. Pemeriksaan fisik
a. Hidung dan sinus
Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna, bengkak, eksudat, darah), kesimetrisan hidung.
Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris
b. Faring
Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak
c. Trakhea
Palpasi : dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari tengah pada bagian bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga kedudukan trakhea dapat diketahui.
d. Thoraks
Inspeksi :
• Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis klavikulanya menjadi elevasi ke atas.
• Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada bayi berbentuk bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama dengan diameter tranversal (1 : 1). Pada orang dewasa perbandingan diameter antero-posterior dan tranversal adalah 1 : 2
Beberapa kelainan bentuk dada diantaranya : Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter tranversal sempit, diameter antero-posterior membesar dan sternum sangat menonjol ke depan. Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan dengan pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter antero-posterior mengecil. Barrel chest ditandai dengan diameter antero-posterior dan tranversal sama atau perbandingannya 1 : 1.
Kelainan tulang belakang diantaranya : Kiposis atau bungkuk dimana punggung melengkung/cembung ke belakang. Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung berbentuk cekung. Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu sisi.
• Pola napas, dalam hal ini perlu dikaji kecepatan/frekuensi pernapasan apakah pernapasan klien eupnea yaitu pernapasan normal dimana kecepatan 16 - 24 x/mnt, klien tenang, diam dan tidak butuh tenaga untuk melakukannya, atau tachipnea yaitu pernapasan yang cepat, frekuensinya lebih dari 24 x/mnt, atau bradipnea yaitu pernapasan yang lambat, frekuensinya kurang dari 16 x/mnt, ataukah apnea yaitu keadaan terhentinya pernapasan.
Perlu juga dikaji volume pernapasan apakah hiperventilasi yaitu bertambahnya jumlah udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang dalam dan panjang ataukah hipoventilasi yaitu berkurangnya udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang lambat.
Perlu juga dikaji sifat pernapasan apakah klien menggunakan pernapasan dada yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan dada, ataukah pernapasan perut yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan perut.
Perlu juga dikaji ritme/irama pernapasan yang secara normal adalah reguler atau irreguler, ataukah klien mengalami pernapasan cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian menjadi lambat dan kadang diselingi apnea, atau pernapasan kusmaul yaitu pernapasan yang cepat dan dalam, atau pernapasan biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya tidak teratur dan diselingi periode apnea.
Perlu juga dikaji kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak napas yang menetap dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi, ataukah ortopnea yaitu kemampuan bernapas hanya bila dalam posisi duduk atau berdiri.
Perlu juga dikaji bunyi napas, dalam hal ini perlu dikaji adanya stertor/mendengkur yang terjadi karena adanya obstruksi jalan napas bagian atas, atau stidor yaitu bunyi yang kering dan nyaring dan didengar saat inspirasi, atau wheezing yaitu bunyi napas seperti orang bersiul, atau rales yaitu bunyi yang mendesak atau bergelembung dan didengar saat inspirasi, ataukah ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan kering serta di dengar saat ekspirasi.
Perlu juga dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalami batuk produktif yaitu batuk yang diikuti oleh sekresi, atau batuk non produktif yaitu batuk kering dan keras tanpa sekresi, ataukah hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah
• Status sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi apakah takhikardi yaitu denyut nadi lebih dari 100 x/mnt, ataukah bradikhardi yaitu denyut nadi kurang dari 60 x/mnt.
Juga perlu dikaji tekanan darah apakah hipertensi yaitu tekanan darah arteri yang tinggi, ataukah hipotensi yaitu tekanan darah arteri yang rendah.
Juga perlu dikaji tentang oksigenasi pasien apakah terjadi anoxia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam jaringan kurang, atau hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam darah kurang, atau hipoxia yaitu berkurangnya persediaan oksigen dalam jaringan akibat kelainan internal atau eksternal, atau cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada mukosa membran, kuku atau kulit akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb, ataukah clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat kekurangan oksigen dalam waktu yang lama.
Palpasi :
Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus.
Taktil vremitus adalah vibrasi yang dapat dihantarkan melalui sistem bronkhopulmonal selama seseorang berbicara. Normalnya getaran lebih terasa pada apeks paru dan dinding dada kanan karena bronkhus kanan lebih besar. Pada pria lebih mudah terasa karena suara pria besar
VII. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Pola napas tidak efektif
3. Gangguan pertukaran gas
4. Penurunan kardiak output
5. Rasa berduka
6. Koping tidak efektif
7. Perubahan rasa nyaman
8. Potensial/resiko infeksi
9. Interaksi sosial terganggu
10. Intoleransi aktifitas, dll sesuai respon klien
1. Bersihan jalan napas tidak efektif
Yaitu tertumpuknya sekresi atau adanya obstruksi pada saluran napas.
Tanda-tandanya :
• Bunyi napas yang abnormal
• Batuk produktif atau non produktif
• Cianosis
• Dispnea
• Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan
Kemungkinan faktor penyebab :
• Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan obstruksi
• Kecelakaan atau trauma (trakheostomi)
• Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan dada
• Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan
• Hilangnya kesadaran akibat anasthesi
• Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental dan sulit untuk di expektoran
• Immobilisasi
• Penyakit paru menahun yang memudahkan penumpukan sekresi
2. Pola napas tidak efektif
Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah suplay O2 kejaringan tidak adekuat
Tanda-tandanya :
• Dispnea
• Peningkatan kecepatan pernapasan
• Napas dangkal atau lambat
• Retraksi dada
• Pembesaran jari (clubbing finger)
• Pernapasan melalui mulut
• Penambahan diameter antero-posterior
• Cianosis, flail chest, ortopnea
• Vomitus
• Ekspansi paru tidak simetris
Kemungkinan faktor penyebab :
• Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi, obesitas, nyeri
• Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat anasthesi
• Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan kolaps paru
• CPPO seperti : empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli
• Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi
• Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan spasme bronchial atau oedema
• Penimbunan CO2 akibat penyakit paru
3. Gangguan pertukaran gas
Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis respiratori dan alkalosis respiratori.
4. Penurunan kardiak output
Tanda-tandanya :
• Kardiak aritmia
• Tekanan darah bervariasi
• Takikhardia atau bradikhardia
• Cianosis atau pucat
• Kelemahan, vatigue
• Distensi vena jugularis
• Output urine berkurang
• Oedema
• Masalah pernapasan (ortopnea, dispnea, napas pendek, rales dan batuk)
Kemungkinan penyebab :
• Disfungsi kardiak output akibat penyakit arteri koroner, penyakit jantung
• Berkurangnya volume darah akibat perdarahan, dehidrasi, reaksi alergi dan reaksi kegagalan jantung
• Cardiak arrest akibat gangguan elektrolit
• Ketidakseimbangan elektrolit seperti kelebihan potassiom dalam darah
VIII. RENCANA KEPERAWATAN
1. Mempertahankan terbukanya jalan napas
A. Pemasangan jalan napas buatan
Jalan napas buatan (artificial airway) adalah suatu alat pipa (tube) yang dimasukkan ke dalam mulut atau hidung sampai pada tingkat ke-2 dan ke-3 dari lingkaran trakhea untuk memfasilitasi ventilasi dan atau pembuangan sekresi
Rute pemasangan :
• Orotrakheal : mulut dan trakhea
• Nasotrakheal : hidung dan trakhea
• Trakheostomi : tube dimasukkan ke dalam trakhea melalui suatu insisi yang diciptakan pada lingkaran kartilago ke-2 atau ke-3
• Intubasi endotrakheal
B. Latihan napas dalam dan batuk efektif
Biasanya dilakukan pada pasien yang bedrest atau post operasi
Cara kerja :
• Pasien dalam posisi duduk atau baring
• Letakkan tangan di atas dada
• Tarik napas perlahan melalui hidung sampai dada mengembang
• Tahan napas untuk beberapa detik
• Keluarkan napas secara perlahan melalui mulut dampai dada berkontraksi
• Ulangi langkah ke-3 sampai ke-5 sebanyak 2-3 kali
• Tarik napas dalam melalui hidung kemudian tahan untuk beberapa detik lalu keluarkan secara cepat disertai batuk yang bersuara
• Ulangi sesuai kemampuan pasien
• Pada pasien pot op. Perawat meletakkan telapak tangan atau bantal pada daerah bekas operasi dan menekannya secara perlahan ketika pasien batuk, untuk menghindari terbukanya luka insisi dan mengurangi nyeri
C. Posisi yang baik
• Posisi semi fowler atau high fowler memungkinkan pengembangan paru maksimal karena isi abdomen tidak menekan diafragma
• Normalnya ventilasi yang adekuat dapat dipertahankan melalui perubahan posisi, ambulasi dan latihan
D. Pengisapan lendir (suctioning)
Adalah suatu metode untuk melepaskan sekresi yang berlebihan pada jalan napas, suction dapat dilakukan pada oral, nasopharingeal, trakheal, endotrakheal atau trakheostomi tube.
E. Pemberian obat bronkhodilator
Adalah obat untuk melebarkan jalan napas dengan melawan oedema mukosa bronkhus dan spasme otot dan mengurangi obstruksi dan meningkatkan pertukaran udara.
Obat ini dapat diberikan peroral, sub kutan, intra vena, rektal dan nebulisasi atau menghisap atau menyemprotkan obat ke dalam saluran napas.
2. Mobilisasi sekresi paru
A. Hidrasi
Cairan diberikan 2secara oral dengan cara menganjurkan pasien mengkonsumsi cairan yang banyak - 2,5 liter perhari, tetapi dalam batas kemampuan/cadangan jantung.
B. Humidifikasi
Pengisapan uap panas untuk membantu mengencerkan atau melarutkan lendir.
C. Postural drainage
Adalah posisi khuus yang digunakan agar kekuatan gravitasi dapat membantu di dalam pelepasan sekresi bronkhial dari bronkhiolus yang bersarang di dalam bronkhus dan trakhea, dengan maksud supaya dapat membatukkan atau dihisap sekresinya.
Biasanya dilakukan 2 - 4 kali sebelum makan dan sebelum tidur / istirahat.
Tekniknya :
• Sebelum postural drainage, lakukan :
- Nebulisasi untuk mengalirkan sekret
- Perkusi sekitar 1 - 2 menit
- Vibrasi 4 - 5 kali dalam satu periode
• Lakukan postural drainage, tergantung letak sekret dalam paru.
3. Mempertahankan dan meningkatkan pengembangan paru
A. Latihan napas
Adalah teknik yang digunakan untuk menggantikan defisit pernapasan melalui peningkatan efisiensi pernapasan yang bertujuan penghematan energi melalui pengontrolan pernapasan
Jenis latihan napas :
• Pernapasan diafragma
• Pursed lips breathing
• Pernapasan sisi iga bawah
• Pernapasan iga dan lower back
• Pernapasan segmental
B. Pemasangan ventilasi mekanik
Adalah alat yang berfungsi sebagai pengganti tindakan pengaliran / penghembusan udara ke ruang thoraks dan diafragma. Alat ini dapat mempertahankan ventilasi secara otomatis dalam periode yang lama.
Ada dua tipe yaitu ventilasi tekanan negatif dan ventilasi tekanan positif.
C. Pemasangan chest tube dan chest drainage
Chest tube drainage / intra pleural drainage digunakan setelah prosedur thorakik, satu atau lebih chest kateter dibuat di rongga pleura melalui pembedahan dinding dada dan dihubungkan ke sistem drainage.
Indikasinya pada trauma paru seperti : hemothoraks, pneumothoraks, open pneumothoraks, flail chest.
Tujuannya :
• Untuk melepaskan larutan, benda padat, udara dari rongga pleura atau rongga thoraks dan rongga mediastinum
• Untuk mengembalikan ekspansi paru dan menata kembali fungsi normal kardiorespirasi pada pasien pasca operasi, trauma dan kondisi medis dengan membuat tekanan negatif dalam rongga pleura.
Tipenya :
a. The single bottle water seal system
b. The two bottle water
c. The three bottle water
4. Mengurangi / mengoreksi hipoksia dan kompensasi tubuh akibat hipoksia
Dengan pemberian O2 dapat melalui :
• Nasal canule
• Bronkhopharingeal khateter
• Simple mask
• Aerosol mask / trakheostomy collars
• ETT (endo trakheal tube)
5. Meningkatkan transportasi gas dan Cardiak Output
Dengan resusitasi jantung paru (RJP), yang mencakup tindakan ABC, yaitu :
A : Air way adalah mempertahankan kebersihan atau membebaskan jalan napas
B : Breathing adalah pemberian napas buatan melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung
C : Circulation adalah memulai kompresi jantung atau memberikan sirkulasi buatan
Jadi secara umum intervensi keperawatan mencakup di dalamnya :
a. Health promotion
• Ventilasi yang memadai
• Hindari rokok
• Pelindung / masker saat bekerja
• Hindari inhaler, tetes hidung, spray (yang dapat menekan nervus 1)
• Pakaian yang nyaman
b. Health restoration and maintenance
• Mempertahankan jalan napas dengan upaya mengencerkan sekret
• Teknik batuk dan postural drainage
• Suctioning
• Menghilangkan rasa takut dengan penjelasan, posisi fowler/semi fowler, significant other
• Mengatur istirahat dan aktifitas dengan memberikan HE yang bermanfaat, fasilitasi lingkungan, tingkatkan rasa nyaman, terapi yang sesuai, ROM
• Mengurangi usaha bernapas dengan ventilasi yang memeadai, pakaian tipis dan hangat, hindari makan berlebih dan banyak mengandung gas, atur posisi
• Mempertahankan nutrisi dan hidrasi juga dengan oral hygiene dan makanan yang mudah dikunyah dan dicerna
• Mempertahankan eliminasi dengan memberikan makanan berserat dan ajarkan latihan
• Mencegah dan mengawasi potensial infeksi dengan menekankan prinsip medikal asepsis
• Terapi O2
• Terapi ventilasi
• Drainage dada
IX. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN DAN EVALUASI
Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi dan evaluasi dilakukan sesuai tujuan dan kriteria termasuk di dalamnya evaluasi proses.
——————————————————————————————
4 tanggapan ke “KEBUTUHAN OKSIGENASI”
25 08 2007
mislia (05:13:46) :
KEBUTUHAN OKSIGENASI
DAN INFEKSI
OLEH :
MISLIA (2103115)
SELFIANA PAEMBONAN (2102020)
SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN
GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2007
1. Alveoli mensekresikan surfaktan melalui sel-sel alveoli tipe……
Jawab :
Alveoli mensekresikan surfaktan melalui tiga tipe yaitu :
- Sel-sel alveolar tipe I yaitu sel epitel yang membentuk dinding alveoli
- Sel-sel alveolar tipe II adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps) dan alveolus mudah dikembangkan. Surfaktan adalah suatu fosfolipid yang bekerja seperti suatu deterjem untuk memisahkan molekul-molekul air di alveolus sehingga melemahkan ikatan dia antara molekul-molekul tersebut. Hal inilah yang menurunkan tegangan permukaan dan kecenderungan untuk kolaps. Menurut hukum Laplace semakin kecil jari-jari suatu bola, semakin besar tekanan yang diperlukan untuk mengembangkannya. Namun apabila terdapat surfaktanmaka alfeolus kecil memerlukan tekanan yang lebih kecil daripada alfeolus yang lebih besar karena surfaktan terkonsentrasi tinggi sehingga sangat menurunkan tegangan permukaan alfeolus.
- Sel-sel alfeolus tipe III adalah magrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan
2. Antibodi yang beresponterhadap reaksi alergi adalah ………
Jawab :
IgE merupakan antibodi nreaginik yang berperan pada reaksi hipersensitifitas tipe cepat. Berat molekulnya 190.000 dengan angka sedimentasinya 85, waktu paruhnya 2 hari, mempunyai aktifitas terhadap sel-sel jaringan (terutama mast cell) pada spesies yang sama, menjadi perantara pada reaksi praunits-Kustner. Tidak dapat melewati plasenta mengikat abdoment, hanya sedikit konsentrasinya dalam darah yang berfungsi untuk melindungi respon reaksi alergi. Orang yang mengidap alergi membentuk banyak antibodi IgE.
3. Bila terdapat sekret menumpuk pada jalan nafas, terdengar bunyi nafas abnormal, pernafasan lebih dari normal, maka diagnosa keperawatan yang tepat adalah …….
Jawab :
1. Diagnosa keperawatan yang tepat adalah dengan tindakan peredah adalah hidrasi adekuat (minum air) dan inhalasi larutan atau inhalasi uap yang mengandung methos atau aerosol yang diberikan dengan satu jenis nabuliser, selanjutnya pasien disuruh batuk efektif dengan sekuat tenaga selama tiga kali.
2. Diagnosa keperawatannya adalah bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trakeabronkial, pembentukan edema, peningkatan produiksi sputum.
4. Cairan udara yang terjebak pada ringga toraks dapat dikeluarkan dengan tindakan ………
Jawab :
Dapat dilakukan dengan tindakan pembedahan/pemasangan WSD.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi adalah …….
Jawab :
1. Curah jantung (cardiacaoutpu CO) dengan melihat curah jantung maka kita dapat mengetahui kecepatan denyut jantung atau volume sekuncup. Indeks jantung dihitung secara klinis dan menggambarkan asupan kinerja jantung seseorang.
2. Jumlah sel darah merah, sel darah merah mengandung protein hemoglobin yang mengangkut sebagian besar oksigen yang diambil di paru ke sel-sel di seluruh tubuh
3. Hematokrit darah
4. Latihan (eksercise)
6. Fungsi hidung adalah………..
Jawab :
- Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru
- Berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru.
7. Garis terdepan pertahanan tubuh adalah …..
Jawab :
Kulit, mulut, hidung, vagina
8. Hasil pengkajian pada data menunjukkan adanya dispnea, pernafasan 30X/menit, dispnea tampak retraksi dada, dan ekspansi paru tidak simetris. Dari data di atas dapat ditegakkan diagnosa sebagai berikut :
Jawab :
Diagnosa keperawatannya adalah pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen (obstruksi jalan nafas oleh sekresi, spasme bronkus, jebakan udara).
9. IgG ditemukan banyak dalam …………..
Jawab :
IgG ditemukan banyak dalamdarah dan antibodi utama dalam jaringan
10. Infeksi adalah ………….
Jawab :
Infeksi adalah masuknya mikroorganisme ke dalam jaringan tubuh dan berkembang biak. Infeksi dapat terjadi pada bagian tubuh yang mengalami luka, infeksi juga dapat terjadi pada alat-alat tubuh atau organ-organ tubuh apabila mengalami trauma dan apabila kebersihannya kurang diperhatikan. Infeksi juga dapat terjadi pada pasien yang dirawat di rumah sakit (Infeksi nsokomial).
11. Infeksi nosokomial adalah ………..
Jawab :
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi pada waktu penderita dirawat di rumah sakit sedang dalam masa inkubasi dan infeksi tersebut, yang terjadi karena adanya interaksi antara host, agent, dan environment. Infeksi nosokomial juga dikatakan apabila infeksi didapatkan di rumah sakit walaupun gejala klinis baru timbul setelah keluar dari rumah sakit.
12. Jakun (Adam’s people) terbentuk dari ………….
Jawab :
Jakun terbentuk dari kelenjar tiroid yang terdiri dari tulang-tulang rawan.
13. Jenis-jenis pleura adalah ……….
Jawab :
Ada 2 jenis pleura yaitu
- Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada
- Pleura viseralis yang menyelubungi setiap paru-paru
14. Jenis-jenis exudate
Jawab :
Ada 2 jenis yaitu purulent exudate dan sanguneus (hemorrhagic) exudate)
15. Jumlah leukosit normal darah adalah
Jawab :
4500 – 11.000 perkunik milimeter
16. Kemampuan mikroorganisme untuk menimbulkan reaksi lokal umum disebut ………..
Jawab :
Disebut patogenitas. Adapun tanda-tanda dari patogenitas adalah sebagai berikut color, rubor, tumor, dan functiolaesa.
17. Kemampuan mikrooraginsme menyebabkan penyakit disebut …….
Jawab :
Disebut virulence. Ada 5 group mikroorganisme yang biasnya menyerang yaitu bakteri, virus, jamur, protozoa dan ricketsia.
18. Masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh sampai menghasilkan gejala disebut ……..
Jawab :
Masa inkubasi. Lamanya masa inkubasi sangat bervariasi tergantung dari mikroorganisme itu sendiri.
19. Mediator kimia yang dilepaskan oleh jaringan yang cedera adalah …
Jawab :
- Bradikin
- Serotinin
- Prostaglandin
20. Melubangi trakea pada kartilago 2-3 untuk mempertahankan jalan napas tetap terbuka disebut ……..
Jawab :
Tyroidectomi / trakeostomy
21. Oksigen diangkut oleh darah ke seluruh jaringan tubuh, proses ini disebut ………..
Jawab :
Transpor oksigen
22. Paru kiri terdapat ………….. lobus
Jawab :
Paru kiri adalah paru yang lebih kecil daripada paru kanan. Paru kiri memiliki 2 lobus yaitu lobus kiri atas dan lobus kiri bawah. Lobus kiri atas terdapat beberapa segmen yaitu apikoposterior, anterior, superior, interior. Dan lobus kiri bawah juga memliki beberapa segmen antara lain apikal (superior), mediobasal (cardial), enterobasat, laterobasal, dan posterobasal.
23. Perbandingan antara dada berbanding transfersal dengan anterior posterior dewasa normal adalah ………
Jawab :
1 : 2
24. Percabangan bronkus disebut …..
Jawab :
Disebut Karina. Pada karina ini memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronspasme dan batuk yang kuat jika dirangsang
25. Pernafasan normal (frekuensi 16: 24x/menit) disebut
Jawab :
Pernafasan vesikuler yang dimana ekspirasi sama dengan inspirasi
26. Perutakaran oksigen dan carbondioksida berlangsung di ……
Jawab :
Berlangsung di alveolus dan paru-paru
27. Pita suara terdapat di
Jawab :
pita suara terdapat di laring
28. Posisi yang dianjurkan untuk memaksimalkan ekspansi dada adalah …….
Jawab :
- Posisi pertama menyangga diri dengan tangan atau menyangga dengan siku di meja upaya untuk tetap mengangkat klatikula sehingga memperluas kemampuan ekspoansi dada
- Dapat juga dilakukan dengan posisi trakea.
29. Udara dari atmosfir ke dan keluar paru disebut proses………
Jawab :
Disebut proses difusi yaitu pemasukan oksigen dan pengeluaran karbondioksida
30. Protein yang mengikat zat besi untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang terdapat pada air liur adalah :
Jawab :
Lacroferin
31. Respoon awal peradangan adalah …..
Jawab :
Pada tahap awal kontriksi pembulouh darah terjadi hanya beberapa saat, kontriksi awal ini ini secara cepat diikuti oleh dilatasi pembuluh darah. Banyak darah mengalir ke luka sehingga terjadi peningkatan suplai darah yang ditandai dengan gejala-gejala kemerahan dan panas. Selama tahap awal respon radang, aliran darah melemah pada saluran yang membesar. Dan memberikan kemudahan mobilisasi sejumlah leukosit shingga meningkat pada jaringan yang cedera. Secara normal sel darah (eritrosit, leukosit dan platelet) mengalir sepanjang pusat pembuluh darah, sementara arus plasma mengalir berlawanan dengan dinding pembuluh darah.
32. Saluran pernafasan yang tidak memiliki kelenjar lendir dan silia adalah ……..
Jawab :
Faring, larings, trakea.
33. Sekret yang terakumulasi pada jalan nafas pada pasien dengan gangguan penurunan kesadaran dan pada pasien dengan penurunan refleks batuk, dapat dihilangkan dengan tindakan ……
Jawab :
Auskultasi
34. Struktur yang berfungsi sebagai alat cerna dan pernafasan adalah
Jawab :
- Struktur pada alat cerna yaitu :
1. Mulut
2. esofagus
3. Lambung
4. Usus halus terdiri dari duodenum, jejenum, ileum
5. Usus besar terdiri dari kolon dan rektum
- Struktur pada alat pernafasan meliputi :
1. Hidung
2. Faring
3. laring
4. Trakea
5. Bronkus
6. Bronkiolus
7. Bronkiolus terminalis
8. Bronkiolus respiratori
9. Duktus alveolar dan sakus alveolar
10. Alveoli
35. Tahap penyakit sesuai urutan yang benar adalah ……….
Jawab :
- Tahap I (masa inkubasi) yaitu waktu antara masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh sampai dengan mulainya timbul rasa sakit
- Tahap II (masa prodnormal) adalah masa dari munculnya gejala nonspesifik (lelah, lesu, demam dll) sampai munculnya gejala khas (spesifik)
- Tahap III (masa sakit) yaitu masa sakit dengan gejala-gejala yang khas dan nyeri pada daerah yang sakit
- Tahap IV (masa konvale\scent) adalah masa penyembuhan yang bisa berhari-hari atau berbulan-bulan. Tergantung dari cara menjaganya dan pengobatannya
36. Tanda dolor pada proses infeksi disebabkan karena ……
Jawab :
Tenda dolor pada proses infeksi disebabkan karena adanya perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Juga terjadi karena adanya pembengkakan jaringan yang meradang sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan lokal yang menimbulkan rasa sakit.
37. Tanda-tanda peradangan adalah ………….
Jawab :
1. Ruber, kemerahan yang menyertai peradangan, ruber kerja diakibatkan peningkatan aliran darah ke daerah yang meradang
2. Kalor, panas yang menyertai peradangan. Panas timbul akibat adanya peningkatan aliran darah
3. Turgor, membengkakkan daerah yang meradang, turgor terjadi akibat peningkatan permeabilitas kapiler sehingga protein-protein plasma dan eksudat masuk ke ruang intestinum
4. Dolor, nyeri peradangan. Nyeri terjadi akibat peregangan saraf oleh mediator-mediator peradangan
38. tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan transportasi gas dan CO adalah
Jawab :
Dengan aktivitas olah raga, maka akan meningkatkan konsentrasi oksigen di dalam darah masuk kapiler paru yang mungkin kurang dari 40 mmHg karena otot meningkatkan konsumsi oksigen, dan konsentrasi karbondioksida akan lebih besar dalam darah yang mengalir ke paru akan lebih besar dari jaringan yang aktif karena produksi metabolisme meningkat.
39. Urutan saluran nafas yang benar adalah ………….
Jawab :
Saluran nafas terdiri dari saluran nafas atas dan saluran nafas bawah
- Saluran nafas atas terdiri dari :
1. Hidung yang terdiri atas bagian eksternal dan internal
2. Faring yang terdiri atas tiga region yaitu nasal, (basofaring), orl (orofaring), laring (laringofaring)
3. Laring, atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea
4. Trakea yang disebut batang tengkorak, ujungnya bercabang menjadi dua menjadi mbronkus kanan dan bronkus kiri
- Saluran nafas bawah yang meliputi :
1. Bronkus yang terbagi jadi bronksu kanan dan kuru
2. Bronkiolus mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir, yang terbentuk selimut yang tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan nafas
3. Bronkiolus terminalis
4. Bronkiolus respiratori yang dianggap sebagai saluran transional antara jalan nafas konduksi dan jalan udara pertukaran gas
5. Duktur alveolar dan sakus alveolar
6. Alveoli yang berbentuk seperti buah anggir yang membentuk satrus terminalis terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk 1 lembar atau seluas 70 m dan merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2
40. Yang termasuk kelainan bentuk dada ……….
Jawab :
1. Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter transversal sempit diameter anterior-posterior membesar dan sternum sangat menonjol ke depan.
2. funnel chest yang merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan dengan pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter antere-posterior mengecil
3. barrel chest ditandai dengan diameter antere posterior dan transversal sama atau perbandingannya 1 : 1.
Kamis, 03 Februari 2011
KONSEP DASAR TIDUR
KONSEP DASAR TIDUR
Oleh : Junaedi, S.Kep
Tidur merupakan bagian hidup manusia yang memiliki porsi banyak, rata-rata hampir seperempat hingga sepertiga waktu digunakan untuk tidur. Tidur merupakan kebutuhan bukan suatu keadaan istirahat yang tidak bermanfaat. Tidur merupakan proses yang diperlukan oleh manusia untuk pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak (natural healing mechanism), memberi waktu organ tubuh untuk beristirahat, maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh. Disamping itu tidur bagi manusia dapat mengendalikan irama kehidupan sehari-hari. Salah satu fungsi tidur yang paling utama adalah untuk memungkinkan sistem syaraf pulih setelah digunakan selama satu hari.
DEFINISI
Tidur adalah suatu keadaan bawah sadar dimana orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya.
Tidur adalah suatu fenomena biologis yang terkait dengan irama alam semesta, irama sirkadian yang bersiklus 24 jam, terbit dan terbenamnya matahari, waktu malam dan siang hari, Tidur merupakan kebutuhan manusia yang teratur dan berulang untuk menghilangkan kelelahan jasmani dan kelelahan mental. Tidur merupakan perilaku normal ketika individu kehilangan kontak dengan lingkungannya untuk sementara.
Tidur harus dibedakan dengan koma, yang merupakan keadaan bawah sadar dimana orang tidak dapat dibangunkan.
Terdapat berbagai tahap dalam tidur; dari tidur yang sangat ringan sampai tidur yang sangat dalam.
Tidur dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu :
1. Tidur gelombang lambat; tipe ini gelombang otaknya sangat lambat, dan
2. Tidur dengan gerakan cepat mata (REM sleep); mata bergerak cepat.
Setiap malamnya, sebagian besar masa tidur terdiri atas gelombang lambat yang bervariasi; yakni tidur yang nyenyak/dalam, istirahat/ketenangan yang dialami seseorang pada jam-jam pertama tidur sesudah terjaga selama beberapa jam sebelumnya. Selama tidur, episode tidur REM timbul secara periodic, dan meliputi sekitar 25% dari seluruh tidur, dan pda orang dewasa muda normal terjadi setiap 90 menit. Tipe tidur ini tak begitu tenang dan biasanya berhubungan dengan mimpi yang hidup.
TIDUR GELOMBANG LAMBAT
Tahap tidur ini begitu tenangnya dan dapat dihubungkan dengan penurunan tonus pembuluh darah perifer dan fungsi-fungsi vegetatif tubuh lainnya. Selain itu, tekanan darah, frekuensi pernafasan dan kecepatan metabolisme basal (BMR) akan berkurang 10 sampai 30 persen.
Walaupun tidur gelombang lambat ini sering disebut “tidur tanpa mimpi”, tapi sebenarnya pada tahap tidur ini sering timbul mimpi, dan kadang-kadang bahkan mimpi buruk bisa terjadi pada tipe tidur ini.
Perbedaan antara mimpi-mimpi yang terjadi pada tidur gelombang lambat dengan REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi pada saat tidur gelombang lambat biasanya tak dapat diingat. Jadi, selama tidur gelombang lambat tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan.
TIDUR REM (Tidur Paradoksikal, Tidur Desinkronisasi)
Sepanjang tidur malam yang normal, tidur REM berlangsung selama 5 sampai 30 menit dan biasanya muncul rata-rata setiap 90 menit, dimana tidur REM yang pertama terjadi dalam waktu 80 sampai 100 menit sesudah orang tersebut tetidur.
Bila seseorang sangat mengantuk, setiap tidur REM berlangsung singkat dan bahkan mungkin tidak ada. Sebaliknya, karena orang semakin lebih nyenyak sepanjang malamnya, maka tidur REM juga semakin meningkat.
Terdapat beberapa hal yang sangat penting dalam tidur REM, yaitu :
1. Tidur REM biasanya berhubungan dengan mimpi yang aktif.
2. Pada tahap tidur REM biasanya orang akan lebih sulit dibangunkan daripada saat tidur gelombang lambat, walaupun telah diberi rangsangan sensorik, dan ternyata orang-orang terbangun dipagi hari sewaktu episode tidur REM, dan bukan saat tidur gelombang lambat.
3. Tonus otot diseluruh tubuh akan berkurang, dan ini menunjukkan adanya hambatan yang kuat pada serat-serat proyeksi spinal dari area eksitatorik batang otak.
4. Frekansi denyut jantung dan pernafasan biasanya akan menjadi ireguler, dan ini merupakan sifat dari keadaan tidur dengan mimpi.
5. Walaupun ada hambatan yang sangat kuat pada otot-otot perifer, masih timbul juga beberapa gerakan otot yang tidak teratur. Keadaan ini khususnya mencakup pergerakan cepat dari mata.
6. Pada tidur REM, otak menjadi sangat aktif, dan metabolisme di otak menjadi meningkat sebanyak 20%. Juga, pada electroencephalogram (EEG) terlihat pola gelombang yang serupa dengan yang terjadi selama keadaan siaga. Tidur tipe ini disebut tidur paradoksikal karena ini bersfat paradoks, yaitu seseorang dapat tertidur walaupun aktifitas otaknya nyata.
Ringkasnya bahwa tidur REM merupakan tipe tidur dimana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktifitas otak tidak disalurkan kea rah yang sesuai agar orang tersebut tanggap penuh terhadap keadaan sekelilingnya dan kemudian terbangun.
TEORI DASAR TIDUR
Teori Pasif
Mengatakan bahwa area eksitatori pada batang otak bagian atas, yang disebut system aktivasi reticular mengalami kelelahan setelah seharian terjaga dan karena itu menjadi inaktif.
Teori Proses Penghambatan Aktif
Teori ini berdasarkan percobaan yang memotong/menghambat batang otak setinggi regio midpontil yang kemudian dilakukan perekaman listrik ternyata otak masih terus terjaga. Dengan kata lain bahwa ada beberapa pusat yang terletak dibawah ketinggian mid pontil tadi pada batang otak yang bereaksi untuk bisa menyebabkan tidur walaupun ada bagian-bagian lain otak yang dihambat.
PERANGSANGAN PENYEBAB TIDUR
Daerah nuclei rafe, yang terletak di separuh bagian bawah pons dan medulla oblongata. Daerah ini merupakan lembaran tips nuclei yang terletak pada garis tengah. Nuklei ini menyebar dan menutupi bagian-bagian otak lainnya seperti thalamus, neokorteks, hipotalamus, dan sebagian besar system limbic dan bagian medulla spinalis. Serat-serat tersebut dapat menghambat sinyal-sinyal nyeri yang masuk. Nuklei ini banyak mensekresikan serotonin, dimana serotonin ini merupakan neurotransmitter utama yang berkaitan erat dengan respon nyeri. Sehingga, dapat dikatakan bahwa tidur terjadi karena adanya hambatan pada produksi serotonin.
Nuklei rafe ini merupakan pusat pencetus terjadinya tidur dan terjaga yang menghasilkan serotonin.
Selain adanya hambatan-hambatan yang dilakukan oleh serotinin yang dapat menimbulkan kondisi terjaga, juga adanya lesi pada nuklei rafe juga akan membuat kondisi seseorang dapat terjaga. Hal ini dikarenakan adanya pengeluaran serotonin pada jaringan yang rusak yang dapat mencetuskan respon nyeri yang berakibat seseorang dapat terjaga.
Lesi-lesi yang menyebabkan kondisi terjaga yang ekstrim juga dapat terjadi pada suprakiasma hipotalamus anterior.
Substansi lain yang dapat menyebabkan kondisi tidur adalah bahan yang berasal dari cairan serebrospinal atau darah dari binatang yang terjaga lama beberapa hari yang disebut muramil peptida, yaitu substansi dengan berat molekul rendah yang berakumulasi dengan cairan serebrospinal dan urin. Jika substansi teresebut disuntikan pada ventrikel ketiga, maka dalam beberapa menit akan timbul keadaan tidur alami.
Bahan lain yang berefek tidur adalah substansi nonpeptida yang telah diisolasi dari darah binatang yang tidur.
Penelitian ini yang merupakan awal adanya substansi dasar pemberian anestesi intrarechal dan sub dural dalam pembedahan.
KEMUNGKINAN PENYEBAB TIDUR REM
Sampai saat ini belum dimengerti penyebab tidur gelombang lambat secara teratur dengan diselingi tidur REM. Namun, obat yang kerjanya serupa dengan asetilkolin akan meningkatkan timbulnya tidur REM. Oleh karena itu, telah dapat didalilkan bahwa neuron-neuron besar pada formasio reticular batang otak bagian atas yang mensekresi asetilkolin mungkin melalui serat-seratnya yang luas, mengaktifkan sebagian besar daerah otak yang menyebabkan aktifitas berlebihan pada daerah-daerah tertentu di otak selama berlangsungnya tidur REM, walaupun sinyal-sinyalnya tidak dialirkan ke daerah otak yang sesuai untuk menimbulkan keadaan terjaga yang disadari, yang merupakan sifat keadaan siaga.
SIKLUS TIDUR
Bila pusat tidur tidak diaktifkan maka pembebasan dari inhibisi mesensefalik dan nuclei reticular pontil bagian atas membuat region ini menjadi aktif secara spontan. Keadaan ini justru akan merangsang korteks serebri dan system saraf perifer, yang kemudian keduanya akan mengirimkan banyak sinyal umpan balik positif kembali ke nuclei reticular yang sama agar system ini tetap aktif. Bagitu timbul keadaan siaga.
Sesudah otak tetap aktif selama beberapa jam, neuron-neuron dalam system aktivasi mungkin telah menjadi sangat letih, akibatnya siklus umpan balik korteks serebri ke nuclei reticular akan menurun atau memudar dan efek inhibisi akan diambil alih oleh pusat tidur, sehingga timbul peralihan yang sangat cepat dari keadaan terjaga menjadi keadaan tidur.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa selama keadaan tidur yang berkepanjangan, neuron-neuron yang bersifat eksitasi dari system aktivasi reticular mesensefalon secara bertahap akan semakin mudah dirangsang karena istirahat yang berkepanjangan, sedangkan neuron-neuron inhibisi dari system aktivasi reticular menjadi kurang mudah dirangsang karena aktifitasnya yang berlebihan yang menimbulkan kondisi terjaga.
"Tidur itu ada stadiumnya, tidur dangkal dan tidur dalam," kata Roan. Saat mulai tertidur hingga sekitar 1 - 1,5 jam kemudian, stadium tidur dangkal berubah menjadi dalam. Saat mencapai tidur dangkal kedua kalinya, bola mata tampak bergerak cepat (rapid eye movement sleep = REM Sleep). Ini berlangsung selama 15 - 20 menit, kemudian masuk lagi ke stadium tidur yang lebih dalam. Setelah lewat 1 - 2 jam, timbul kembali tidur REM tahap 2, yang berlangsung 15 - 20 menit. Selama 7 - 8 jam tidur bisa 4 - 5 kali tidur REM.
Tidur REM beberapa kali harus terjadi selama tidur. Kalau tidak, tidur berikutnya akan kacau. Seandainya selama dua minggu selalu terbangun atau dibangunkan dalam stadium tidur REM, dua minggu berikutnya badan menuntut tidur REM lebih banyak atau sering mengantuk. Kalau dalam keadaan normal tidur REM hanya 25% dari seluruh tujuh jam tidur, bila selama dua minggu terganggu, membutuhkan sampai 65%. Tidur REM ini memberikan ciri beberapa gangguan jiwa tertentu. Seseorang yang depresi, tidur REM yang 4 - 5 kali selama 7 jam, bergeser lebih dekat dengan awal tidur. Pada lansia, tidur REM bergeser dekat pagi hari.
Saat tidur terjadi pula perubahan gelombang listrik otak. Kalau dalam keadaan siaga (melek), frekuensi gelombang otaknya tinggi. Dalam keadaan istirahat dan memejamkan mata, otak mengeluarkan gelombang alfa dengan frekuensi 8 - 13 Hz. Menuju stadium tidur lebih dalam, gelombang otak akan memperlambat diri, menjadi 3-7 Hz. Gelombang ini disebut gelombang theta. Selanjutnya, bila tidur sangat dalam, timbul gelombang delta, 1 - 4 Hz. Menurut beberapa peneliti, semakin banyak gelombang kecil per detiknya, semakin lelap dan tenang tidur seseorang. Di kalangan penggemar meditasi, gelombang delta justru dicari karena membawa ketenangan sangat tinggi. Bila terjadi sebaliknya, tidur akan kurang lelap.
Betapapun masalah yang dihadapi seseorang, usahakan untuk mengatasinya sendiri tanpa bantuan obat. Misalnya, untuk membantu mengusir pemicu stres, ambillah selembar kertas, tuliskan masalahnya sebelum naik ke tempat tidur. Kalau Anda membawa pekerjaan kantor ke rumah, singkirkan pekerjaan beberapa jam sebelum jam tidur. Kalau masalah belum teratasi, tenangkan pikiran, bawalah tidur masalah Anda. Keesokan harinya, di kala pikiran lebih terang dan tubuh lebih segar, masalah akan lebih mudah teratasi. Percayalah!
In order to investigate the possibility that these periods of rapid eye movement sleep were in fact related to dream, Aserinsky and Kleitman, and later Bill Dement awakened subjects in the midst of the REM periods. They were able to elicit dream recall from approximately seventy percent of those awakenings. Since then numerous investigators have succeeded in replicating these findings in many laboratories throughout the world. Although the amount of dream recall obtained from REM sleep is now a well-substantiated phenomenon.
EFEK FISIOLOGI TIDUR
Keadaan tidur menimbulkan 2 (dua) macam efek fisiologis utama, yaitu :
1. Efek pada system syaraf sendiri;
2. Efek pada struktur tubuh lainnya.
Efek Pada Sistem Syaraf
Adanya transeksi medulla spinalis setinggi leher tak akan menunjukkan efek yang berbahaya pada tubuh di bawah tingkat pemotongannya itu, yang dianggap merupakan tempat asal timbulnya siklus tidur dan terjaga. Jadi, tidak adanya siklus tidur dan siaga ini di system syaraf pada setiap tempat di bawah otak tidak akan mengganggu atau merugikan organ-organ tubuh atau fungsi tubuh lainnya. Sebaliknya, jika berkurang keadaan tidur akan mempengaruhi fungsi system saraf pusat.
Dalam artian lain bahwa jika seseorang berada dalam kondisi terjaga yang berkepanjangan maka akan mempengaruhi mekanisme saraf lainnya, seperti orang akan lamban dalam berkonsentrasi, bingung, mudah tersinggung dan lain sebagainya. Bisa juga dianalogkan seperti sebuah kompeter yang dipaksa menyala terus menerus maka akan mengakibatkan kekacauan program (cepat panas, konsleting).
Sehingga efek utama dari tidur disini adalah untuk menjaga keseimbangan alami diantara pusat-pusat neuron.
Efek Pada Struktur Tubuh Lain
Adanya tidur akan menimbulkan beberapa respon fisiologis dalam tubuh diantaranya adalah :
• Terjadinya penurunan tekanan darah, arteri dan frekuensi nadi.
• Akan terjadi dilatasi pembuluh darah pada kulit;
• Aktivitas traktus gastrointestinal kedangkala meningkat;
• Relaksasi otot-otot tubuh;
• Kecepatan Basal Metabolisme Rate (BMR) akan menurun sebanyak 10 sampai 30%.
Pada waktu tidur individu menutup matanya, pupil mengecil, otot melemas, denyut jantung melemah, tekanan darah menurun dan metabolisme tubuh melambat (Kedja, 1990).Menurut Panteri (1993) neourofisiologi tidur, dapat digambarkan sebagai tahapan-tahapan tidur dengan poligrafi tidur yaitu electroenchelograph, electrocardiograph, dan electromiograph.
Selain itu juga kekurangan tidur dapat menimbulkan beberapa kondisi sebagai berikut :
• Mempunyai mata yang bengkak disebabkan kekurangan tidur.
• Sering merasa letih dan tertekan pada waktu pagi dan malam.
• Sering tertidur ketika berada dikhayalak ramai.
• Kurang aktif dan kurang mempunyai hubungan sosial.
• Sukar untuk menumpukan kepada isu yang dibincangkan dan fikiran sering merawang kepada pekara lain.
• Sering mendapat masalah kesehatan seperti kejang otot, sakit perut, pening, dan lain-lain.
• Sukar tidur, sering terjaga malam, atau terjaga terlalu awal.
• Takut waktu tidur kerena risau susah tidur.
• Mudah tersinggung.
• Mengambil obat-obatan dalam beberapa bulan kebelakangan ini.
• Sering menggunakan rokok, alkohol, ubat untuk menenangkan diri sebelum tidur.
• Ketagihan kepada ubat penenang.
GELOMBANG OTAK
Pada saat berbaring dalam keadaan masih terjaga ditunjukkan dengan gelombang otak beta (β) yang bercirikan frekuensi yang cepat yaitu 15 sampai 20 putaran per detik dan bertegangan rendah yaitu kurang dari lima puluh mikrovolt.
Selanjutnya dalam keadaan yang lelah dan siap tidur mulai untuk memejamkan mata, pada saat ini gelombang otak yang muncul mulai melambat frekwensinya, meninggi tegangannya dan menjadi lebih teratur. Gelombang ini dinamakan gelombang alpha (ά) yang memiliki 8 sampai 12 putaran per detik yang menggambarkan keadaan santai, tidak tegang tapi terjaga. Setelah beberapa menit dalam keadaan alpha kecepatan napas mulai melambat. Ini adalah transisi tidur awal (tidak nyenyak) yang ditandai oleh gelombang theta (γ) 50 hingga 100 mikrovolt, 4 hingga 8 putaran per detik. Dalam keadaan permulaan tidur ini, denyut jantung melambat dan menjadi stabil, napas menjadi pendek-pendek dan teratur. Tahap ini dapat berlangsung dari sepuluh detik hingga 10 menit dan kadang disertai dengan citra visual yang disebut halusinasi hipnagogik, karena otot rangka tiba-tiba mengendur dan kadang mengalami sensasi seperti jatuh, yang menyebabkan kita terbangun sebentar dengan gerakan yang menyentak, keadaan ini dinamakan tidur tahap pertama.Tidur tahap kedua ditandai dengan gelombang otak theta dengan disertai munculnya gelombang tunggal dengan amplitudo tinggi dan munculnya sleep spidle (jarum tidur, karena terlihat di monitor atau kertas perekam yang menunjukkan aktivitas otak). Pada tahap ini gerakan dan ketegangan otot menurun berlangsung sekitar 10 hingga 20 menit menandai permulaan tidur yang sebenarnya. Pada tahap ini seseorang biasanya tidak dapat merespon rangsang dari luar, dan rata-rata bila seseorang dibangunkan pada tahap ini akan merasa betul-betul telah tertidur.Tahap selanjutnya setelah 20–30 menit adalah memasuki tahap ketiga yaitu kombinasi theta dan delta (tegangan tinggi dengan frekuensi sangat rendah). Segera setelah tahap ke tiga ini dilanjutkan dengan tahap ke empat yaitu hilangnya sama sekali gelombang theta dan tinggal yang ada gelombang delta (δ) dengan 0,5–2 putaran per detik, amplitudo 100–200 mikrovolt.
Dalam tidur delta ini relaksasi otot terjadi sepenuhnya, tekanan darah menurun, denyut nadi dan pernafasan melambat. Pasokan darah ke otak berada pada batas minimal.Kondisi tidur normal ini tidak selamanya dirasakan oleh seseorang yang akan memasuki tidur.
GANGGUAN TIDUR
Gangguan dan kesulitan tidur seringkali mengganggu, baik ketika memasuki tahap pertama tidur ataupun ketika tidur berlangsung. Gangguan ini dapat terjadi karena adanya permasalahan psikis maupun fisik, yang dapat menimbulkan kesulitan seseorang untuk memasuki keadaan tenang. Keadaan cemas yang berlebihan akan menyebabkan otot-otot tidak dapat relaks dan pikiran tidak terkendali.
Gangguan tidur yang sering muncul dapat digolongkan menjadi 4 yaitu : (1) insomnia; gangguan masuk tidur dan mempertahankan tidur, (2) hypersomnia; gangguan mengantuk atau tidur berlebihan, (3) disfungsi kondisi tidur seperti somnabolisme, night teror, dan (4) gangguan irama tidur.
Adapula yang membagi masalah tidur yang biasa didapati adalah seperti berikut :
1. Insomnia;
2. Berdengkur dan Apnea;
3. Narcolepsy;
4. Sindrom Kaki Resah (Restless Leg Syndrome (RLS));
5. Masalah Pergerakan Anggota Berkala (Periodic Limb Movement Disorder (PLMD));
Insomnia
Insomnia berasal dari kata in artinya tidak dan somnus yang berarti tidur, jadi insomnia berarti tidak tidur atau gangguan tidur. Selanjutnya dijelaskan bahwa insomnia ada tiga macam, yaitu pertama, Initial Insomnia artinya gangguan tidur saat memasuki tidur. Kedua, Middle Insomnia yaitu terbangun di tengah malam dan sulit untuk tidur lagi. Ketiga, Late Insomnia yaitu sering mengalami gangguan tidur saat bangun pagi (Hawari, 1990).The Diagnostic and Statistical of Mental Disorder IV (DSM-IV) mendefinisikan gangguan insomnia primer adalah keluhan tentang kesulitan mengawali tidur dan/atau menjaga keadaan tidur atau keadaan tidur yang tidak restoratif minimal satu bulan terakhir (Espie, 2002).Menurut Hoeve (1992), insomnia merupakan keadaan tidak dapat tidur atau terganggunya pola tidur. Orang yang bersangkutan mungkin tidak dapat tidur, sukar untuk jatuh tidur, atau mudah terbangun dan kemudian tidak dapat tidur lagi. Hal ini terjadi bukan karena penderita terlalu sibuk sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk tidur, tetapi akibat dari gangguan jiwa terutama gangguan depresi, kelelahan, dan gejala kecemasan yang memuncak.Insomnia adalah ketidakmampuan atau kesulitan untuk tidur. Kesulitan tidur ini bisa menyangkut kurun waktu (kuantitas) atau kelelapan (kualitas) tidur. Penderita insomnia sering mengeluh tidak bisa tidur, kurang lama tidur, tidur dengan mimpi yang menakutkan, dan merasa kesehatannya terganggu. Penderita insomnia tidak dapat tidur pulas walaupun diberi kesempatan tidur sebanyak-banyaknya.
Pada keadaan normal, dari pemeriksaan kegiatan otak melalui elektro-ensefalografi (EEG), sepanjang masa tidur terjadi fase-fase yang silih berganti antara tidur sinkronik dan tidur asinkronik. Pergantian ini kira-kira setiap dua jam sekali. Fase tidur sinkronik ditandai dengan tidur nyenyak, dengan tubuh dalam keadaan tenang. Fase tidur asinkronik ditandai dengan kegelisahan dan reaksi-reaksi jasmaniah lainnya, seperti gerakan-gerakan bola mata yang merupakan fase mimpi. Orang normal yang tidurnya terganggu pada fase asinkronik akan merasa jengkel, tidak puas, dan menjadi murung (schenck et al., 2003). Penderita insomnia mengalami gangguan dalam masa peralihan dan kualitas dari fase-fase tidur, terutama pada fase asinkronik. Dari penelitian ternyata bahwa saat yang dianggap penderita sebagai terjaga di malam hari sebenarnya merupakan fase-fase mimpi. Sebaliknya, beberapa masa tidur yang singkat sebenarnya merupakan tidur yang sesungguhnya Insomnia dikelompokkan dalam tiga tipe. Tipe pertama adalah penderita yang tidak dapat atau sulit tidur selama 1 sampai 3 jam pertama. Namun, karena kelelahan akhirnya tertidur juga. Tipe ini biasanya dialami penderita usia muda yang sedang mengalami kecemasan. Tipe kedua, dapat tidur dengan mudah dan nyenyak, namun setelah 2 sampai 3 jam tidur terbangun. Kejadian ini bisa berlangsung berulang kali. Tipe ketiga, penderita dapat tidur dengan mudah dan nyenyak, namun pada pagi buta dia terbangun dan tidak dapat tidur lagi. Ini biasa dialami orang yang sedang mengalami depresi. Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini (Liu et al., 1999).
Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini. Dalam penelitian dilaporkan bahwa di Amerika Serikat sekitar 15 persen dari total populasi mengalami gangguan yang berbentuk gangguan tidur dalam bentuk insomnia yang cukup serius.
Gangguan tidur insomnia merupakan gangguan yang belum serius jika anda alami kurang dari sepuluh hari. Untuk mengatasi gangguan ini kita dapat menggunakan teknik-teknik relaksasi dan pemrograman bawah sadar. Yang penting kita harus dapat menjaga keseimbangan frekuensi gelombang otak agar sesering mungkin berada dalam kondisi relaks dan meditatif sehingga ketika kita harus tidur kita tidak mengalami kesulitan untuk menurunkan gelombang otak pada pemeriksaan dengan EEG ke frekuensi delta.
Penyebab Insomnia
Insomnia bisa disebabkan berbagai faktor, di antaranya karena hormonal, obat-obatan, dan kejiwaan, bisa juga karena faktor luar misalnya tekanan batin, suasana kamar tidur yang tidak nyaman, ribut atau perubahan waktu karena harus kerja malam. Selain itu kopi dan teh yang mengandung zat perangsang susunan syaraf pusat, tembakau yang mengandung nikotin, obat pengurus badan yang mengandung amfetamin, adalah contoh bahan yang dapat menimbulkan kesulitan tidur. Banyak ahli menyatakan, gangguan tidur tidak langsung berhubungan dengan menurunnya hormone, namun kondisi psikologis dan meningkatnya kecemasan, gelisah, serta emosi yang sering tidak terkontrol akibat menurunnya hormon estrogen, bisa menjadi salah satu sebab meningkatnya risiko gangguan tidur.Morin (Espie, 2002) menyebutkan penyebab insomnia yang utama adalah adanya permasalahan emosional, kognitif, dan fisiologis. Ketiganya berperanan terhadap terjadinya disfungsi kognitif, kebiasaan yang tidak sehat, dan akibat-akibat insomnia.
Terapi Relaksasi untuk Mengurangi Gangguan Insomnia
Salah satu cara untuk mengatasi insomnia adalah dengan metode relaksasi (Woolfolk et al. 1983). Relaksasi adalah salah satu teknik di dalam terapi perilaku yang pertama kali dikenalkan oleh Jacobson, seorang psikolog dari Chicago yang mengembangkan metode fisiologis melawan ketegangan dan kecemasan. Teknik ini disebutnya relaksasi progresif yaitu teknik untuk mengurangi ketegangan otot (Levy dkk., 1984). Jacobson berpendapat bahwa semua bentuk ketegangan termasuk ketegangan mental didasarkan pada kontraksi otot (Sheridan dan Radmacher, 1992). Jika seseorang dapat diajarkan untuk merelaksasikan otot mereka, maka mereka benar-benar relaks. Latihan relaksasi dapat digunakan untuk memasuki kondisi tidur karena dengan mengendorkan otot secara sengaja akan membentuk suasana tenang dan santai. Suasana ini diperlukan untuk mencapai kondisi gelombang alpha yaitu suatu keadaan yang diperlukan seseorang untuk memasuki fase tidur awal. Dasar teori relaksasi adalah sebagai berikut: pada sistem saraf manusia terdapat sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom. Fungsi sistem saraf pusat adalah mengendalikan gerakan-gerakan yang dikehendaki, misalnya gerakan tangan, kaki, leher, jari-jari, dan sebagainya. Sistem saraf otonom berfungsi mengendalikan gerakan-gerakan yang otomatis, misalnya fungsi digestif, proses kardiovaskuler, gairah seksual, dan sebagainya. Sistem saraf otonom terdiri dari sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis yang kerjanya saling berlawanan. Sistem saraf simpatis bekerja meningkatkan rangsangan atau memacu organ-organ tubuh, memacu meningkatnya detak jantung dan pernafasan, menurunkan temperatur kulit dan daya hantar kulit, serta akan menghambat proses digestif dan seksual. Sistem saraf parasimpatis menstimulasi turunnya semua fungsi yang dinaikkan oleh sistem saraf simpatis. Selama sistem-sistem tersebut befungsi normal dalam keseimbangan, bertambahnya akfivitas Sistem yang satu akan menghambat atau menaikan efek sistem yang lain. Pada waktu individu mengalami ketegangan dan kecemasan yang bekerja adalah sistem saraf simpatis, sedangkan pada waktu relaksasi yang bekerja adalah sistem saraf parasimpatis, dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan cara resiprok, sehingga timbul counter conditioning dan penghilangan (Prawitasari, 1988).Apabila individu melakukan relaksasi ketika ia mengalami ketegangan atau kecemasan, maka reaksi-reaksi fisiologis yang dirasakan individu akan berkurang, sehingga akan merasa rileks. Apabila kondisi fisiknya sudah rileks, maka kondisi psikisnya juga tenang (Lichstein, et al. 1993).Teknik relaksasi sudah dikenal lama dan banyak digunakan dalam berbagai terapi baik terapi permasalahan fisik maupun psikologis. Ada beberapa jenis relaksasi yang sudah dikenal antara lain relaksasi progresif, relaksasi diferensial dan relaksasi via letting go.
Narcolepsy
Narcolepsy adalah gangguan tidur yang diakibatkan oleh gangguan psikologis dan hanya bisa disembuhkan melalui bantuan pengobatan dari seorang dokter ahli jiwa. Penyakit ini berbeda dengan insomnia yang terjadi secara terus menerus. Justru penderita narcolepsy ini terkena serangan secara mendadak pada saat yang tidak tepat, seperti sedang memimpin rapat – biasanya terjadi serangan pada kondisi emosi yang tegang seperti : marah, takut atau jatuh cinta. Serangan narcolepsy dapat melumpuhkan seseorang dalam beberapa menit ketika dia masih sadar dan secara tiba-tiba membawanya ke alam mimpi.
Hypersomnia
Gangguan ini adalah kebalikan dari insomnia. Seringkali penderita dianggap memiliki gangguan jiwa atau malas. Para penderita hypersomnia membutuhkan waktu tidur yang sangat banyak dari ukuran normal. Meskipun penderita tidur melebihi ukuran normal, namun mereka selalu merasa letih dan lesu sepanjang hari. Namun gangguan ini tidaklah terlalu serius dan dapat diatasi sendiri oleh penderita dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen pengelolaan diri terhadap semua aktifitas kesehariannya secara baik.
Apnea
Apnea merupakan salah satu gangguan tidur yang cukup serius. Lebih dari 5 juta penduduk Amerika Serikat mengalami gangguan ini. Faktor risiko terkena gangguan ini antara lain : kelebihan berat badan (overweight), usia paruh baya terutama pada wanita, atau usia lanjut (lansia) yang pernah mengalami ketergantungan obat. Apnea adalah penyakit yang disebut juga ”to fall asleep at the wheel” karena sering dialami ketika penderita sedang mengemudikan mobil. Apnea terjadi karena fluktuasi atau irama yang tidak teratur dari denyut jantung dan tekanan darah. Ketika terserang, penderita seketika merasa mengantuk dan jatuh tertidur. Penderita apnea mengalami kesulitan bernafas bahkan berhenti bernafas pada saat tidur ketika terserang gangguan ini (dalam bahasa Jawa disebut ”tindihan”). Fluktuasi denyut jantung dan tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kematian seketika yang dapat terjadi pada sebagian besar penderita.
Masalah Anggota pergerakan Berkala atau dapat berupa perlaku yang menyimpang .
Gangguan tidur lainnya seperti berbicara atau berjalan dalam keadaaan tidur, ataupun menggertakkan gigi merupakan gangguan tidur yang tidak berbahaya. Namun berbahaya jika berjalan dalam tidur menemui obyek yang berbahaya (benda tajam, api, dll) atau terjatuh. Gangguan berbicara dalam tidur hanya akan mengganggu teman sekamarnya. Sedangkan menggertak gigi dapat merusak email gigi. Penyakit menggertakkan gigi geligi pada seseorang pada saat dalam kondisi tertidur ini disebut dengan bruxism.
Dengan mengetahui dan memahami berbagai jenis gangguan atau penyakit tidur kita dapat mengambil langkah yang diperlukan. Sepanjang masih bisa diatasi sendiri dengan teknik-teknik manajemen diri (relaksasi dan pemrograman bawah sadar, meditasi, dan pola hidup yang sehat dan seimbang), maka kita sebenarnya dapat menjadi bagian dari solusi masalah yang kita hadapi. Untuk gangguan atau penyakit yang serius seperti narcolepsy maupun apnea, kita harus berkonsultasi dengan dokter ahli, karena mengabaikan gangguan tersebut dapat berakibat fatal (mematikan) bagi penderita.
Akibat kurang tidur
Walaupun selama ini masalah tidur tidak dianggap sebagai masalah yang besar, kajian baru-baru ini menunjukkan bahawa masalah tidur boleh membawa kepada masalah jantung. Dalam satu kajian dari tempoh 1996 sehingga 1998, dan diterbitkan dalam journal "Occupational and Environmental Medicine" keluaran Juli, terdapat bukti bahawa risiko mengalami serangan jantung berganda bagi mereka yang bekerja lebih daripada 60 jam seminggu dan tidak tidur seperti normal. Kajian itu membabitkan 260 lelaki berusia antara 40 - 79 tahun yang dimasukkan kedalam hospital disebabkan serangan jantung kali pertama. Kajian tersebut turut membabitkan kumpulan kawalan seramai 445 orang seusia tanpa penyakit jantung.
PENYAKIT TIDUR
Penyakit tidur atau African trypanosomiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa genus Trypanosoma dan ditularkan oleh lalat tsetse. Penyakit ini mewabah di berbagai negara Afrika, dan saat ini diperkirakan antara 50.000 sampai 70.000 menderita penyakit ini.
Gejala awal adalah demam, sakit kepala, dan sakit di sendi, pembengkakan kelenjar limfa, anemia, dan penyakit ginjal. Penderita kemudian mengalami perubahan siklus tidur di mana mereka merasa ngantuk di siang hari dan tidak dapat tidur di malam hari. Bila tidak dirawat, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan sistem syaraf, koma, dan kematian. Selain gigitan lalat tsetse, penyakit ini dapat ditularkan dari ibu ke anak atau lewat transfusi darah.
OBAT TIDUR
Obat tidur (atau sedatif) dapat menyebabkan seseorang tenang dan tidur. Ada beberapa jenis obat tidur :
• Pil yang dapat membuat orang jatuh tertidur.
• Pil yang membantu orang tetap tertidur (tak terbangun semalaman).
• Pil yang menenangkan seseorang, tanpa membuatnya tertidur.
Beberapa obat tidur dapat bereaksi cepat, seperti 10-15 menit. Orang yang berpikir untuk menenggak obat tidur harus berkonsultasi dengan dokter, yang dapat memberikan obat tidur terbaik.
Sebagian besar obat tidur menyebabkan ketagihan, sehingga seseorang perlu resep obat dari dokter untuk mengkonsumsi obat tidur. Obat tidur jangan diminum dalam jangka panjang sebab menimbulkan ketagihan.
Orang yang biasa minum obat tidur bisa nampak sakit dan mengantuk. Karena obat tidur mempengaruhi kemampuan untuk bereaksi, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan :
• Mengoperasikan mesin
• Mengendarai mobil
• Meminum MiRas (akan menyebabkan reaksi obat makin menjadi.)
Beberapa orang kecanduan obat tidur. Bila mencoba menghentikannya, mereka biasa mengalami hal berikut :
• Insomnia (tidak bisa tidur)
• Gelisah (merasa takut)
• Sawan
TIDUR NYAMAN / SLEEPING MIND
Sleeping Mind adalah berfikir (menjalankan fungsi otak secara optimal) sambil tidur (beristirahat secara fisik). Artinya manfaat yang diperoleh adalah sebagaimana lazimnya manfaat yang diperoleh seseorang sebagai hasil dari proses berfikir, seperti pemecahan masalah, memperoleh gagasan-gagasan baru atau menjawab pertanyaan serta persoalan. Karena dilakukan sambil tidur maka manfaat-manfaat tersebut dapat diperoleh tanpa harus menggunakan waktu khusus untuk berfikir atau merenung. Ibarat kata pepatah SAMBIL BERENANG MINUM AIR, sambil beristirahat kita berfikir, fisik yang letih kembali segar, sambil beberapa persoalan juga terselesaikan.
Jika dibandingkan dengan proses intelektual dan proses kreatif seperti biasanya, Sleeping Mind memiliki beberapa kelebihan. Selain efisien dalam hal pemanfaatan waktu, Sleeping Mind juga bersifat original dan genuine. Karena proses yang terjadi pada dasarnya adalah mengambil dan mengolah resource dan informasi yang ada pada diri kita sendiri, yang telah terekam dan ter-file rapi dalam bawah sadar kita. Sehingga hasil pemikiran Sleeping Mind juga bersifat Unique, dalam arti untuk suatu persoalan yang sama, bisa jadi masing-masing orang akan menemukan jawaban yang berbeda-beda, namun cocok dan sesuai dengan masing-masing orang tersebut.
LANGKAH-LANGKAH PRAKTIS SLEEPING MIND
Pejamkan mata Anda sekarang! Apa yang Ada lihat? HITAM. Sekarang pikirkan suatu benda, apapun benda itu asal konkrit! Sekarang pejamkan mata Anda! Apa yang Anda lihat? Ya, BENDA itu yang terlihat. Mengapa? Karena pikiran Anda sedang bekerja memikirkan benda itu.
Sleeping Mind bekerja pada gelombang otak sekitar gelombang Alpha-Theta, yaitu diantara gelombang Beta (normal, state of awareness) dan Delta. Yang terakhir ini adalah kondisi tertidur lelap dan otak kita sudah tidak dapat menerima rangsang atau informasi dari indera kita. Kalangan Hypnotist dan Hypnotherapist menyebut gelombang Alpha-Theta sebagai Hypnosis State atau Suggestible State. Karena itu agar otak dapat bekerja dalam kondisi Sleeping Mind, kita harus mempertahankan gelombang otak agar tetap berada di gelombang Alpha-Theta. Perlahan-lahan kita tinggalkan gelombang Beta, seperti saat biasanya kita mulai tertidur, namun bertahan agar tidak keterusan sampai ke Delta.
Berikut langkah-langkah praktis untuk mencapai Sleeping Mind
1. Persiapan
Paparkan issue atau permasalahan yang ingin kita bahas senyata dan sedetail mungkin dalam selembar kertas. Baca berulang-ulang sampai secara visual kita bisa membacanya tanpa kita melihat kertas itu lagi. Kalau perlu keraskan suara Anda saat sehingga secara auditori telinga kita bisa mendengarnya meskipun pada saat kita sudah tidak membacanya lagi. Biarkan kertas dan alat tulis tetap berada di dekat tempat tidur karena akan digunakan untuk sesegera mungkin mencatat output dari Sleeping Mind.
2. Memulai
Lakukan Relaksasi. Nyamankan diri Anda secara fisik. Gunakan pakaian yang longgar. Lemaskan otot-otot yang tegang dan kendurkan bagian-bagian tubuh yang terasa kaku. Lalu pejamkan mata dan rasakan kenyamanan di seluruh tubuh sampai kendur dan ringan. Lakukan Affirmasi “Aku lakukan Sleeping Mind. Badanku tidur dengan nyaman. Pikiranku berfungsi optimal untuk menemukan jawaban atas persoalan ….. (sebutkan issue yang akan Anda pikirkan).
Perlahan-lahan munculkan secara visual (sambil tetap memejamkan mata) gambaran issue yang telah Anda tuliskan di selembar kertas tadi. Visualkan senyata mungkin tulisan-tulisan Anda di depan mata Anda. Jika tadi Anda membacanya dengan suara keras, dengarkan kembali di telinga Anda suara ketika Anda membacanya tadi.
3. Memproses
Perlahan-lahan rasakan tubuh Anda semakin ringan dan visualisasi Anda mulai mengabur (tidak se”vivid” ketika Anda mulai melakukan visualisasi). Rasakan bahwa Anda mulai tidak bisa menggerakkan anggota badan Anda, seperti menggeser kaki, menggerakkan leher atau memindahkan tangan. Tapi Anda masih tetap mendengar suara yang masuk ke telinga Anda. Jaga agar Anda tetap bisa menangkap suara dari luar meskipun Anda sudah tidak dapat bereaksi lagi terhadap rangsang tersebut. Saat ini Anda sudah mulai masuk ke Sleeping Mind.
4. Memetik Hasil
Perlahan-lahan Anda akan mulai memperoleh hasil dari Sleeping Mind. Visual Anda akan menangkap gambar atau tulisan-tulisan lain yang merupakan jawaban dari persoalan-persoalan yang tadi Anda ajukan. Telinga Anda akan mulai mendengar suara yang merupakan gagasan-gagasan baru atas rencana-rencana Anda. Anda merasakan ada keinginan-keinginan untuk melakukan aktivitas yang merupakan langkah-langkah konkrit untuk meyelesaikan permasalahan Anda.
Jika Anda tiba-tiba terjaga dari tidur dan kontak dengan realita, sesegera mungkin catat apa yang terakhir Anda lihat, dengar atau rasakan sebagai hasil dari Sleeping Mind Anda. Karena ini berasal dari Unconscious, jika Anda tidak segera mencatatnya, bisa jadi Anda akan segera kehilangan. Cara lain untuk segera me-record hasil Sleeping Mind Anda adalah dengan menyiapkan alat perekam seperti Ipod atau Tape Recorder.
Proses ini bisa dilanjutkan kembali bilamana kita kembali melanjutkan tidur kita. Baik untuk issue yang sama maupun issue yang lain. Pada saat-saat awal kita melatih Sleeping Mind, bisa jadi saat bangun tidur tubuh kita merasa kurang nyaman. Mungkin terasa pegal, berat atau seperti gejala kurang tidur lainnya. Hal ini normal dan manusiawi karena tubuh kita membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan sehari-hari. Dengan latihan yang teratur dan berulang-ulang, seluruh tubuh kita akan berdamai dengan kebiasaan baru kita (parts integration), dan lama-kelamaan ikut menikmatinya pula.
Kalau boleh mengambil referensi, ada seorang tokoh nasional (bahkan internasional) bangsa kita yang piawai menjalankan Sleeping Mind ini. Entah dipelajari atau bakat bawaan, beliau (yang pernah menjadi Presiden RI ini) justru lebih cerdas dan produktif dalam berfikir dalam kondisi ini dibanding dalam kondisi terjaga. Hal ini dikemukakan oleh seorang rekan yang pernah menjadi orang dekat beliau karena pernah menjadi Staf Ahli Ibu Negara dan Anggota Tim Media dan Komunikasi Juru Bicara Kepresidenan.
Apa salahnya kita menggunakan teknik yang sama untuk memperolah hasil yang terbaik dalam hidup kita. Jika kita sudah punya intelekualitas kita yang biasa kita gunakan dalama keadaan sadar sebagai suatu senjata, maka kini saatnya kita gunakan senjata lain yang belum kita manfaatkan secara optimal, yaitu menggunakan kecerdasan intelektual kita dalam keadaan tidur yaitu dengan menggunakan teknik Sleeping Mind. Bukankah memiliki dan menggunakan 2 senjata lebih baik ketimbang hanya mengandalkan 1 senjata? Selamat mengoptimalkan pikiran sambil menikmati tidur.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR
Pengkajian :
1. Pemeriksaan Fisik :
• Mempunyai mata yang bengkak pada palberae disebabkan kekurangan tidur.
• Sering mendapat masalah kesehatan seperti kejang otot, sakit perut, pening, dan lain-lain.
• Adanya perubahan pada tanda vital : demam, hipo/hypertensi, nadi cepat dan lemah.
2. Wawancara :
• Sering merasa letih dan tertekan pada waktu pagi dan malam.
• Sering tertidur ketika berada dikhalayak ramai.
• Kurang aktif dan kurang mempunyai hubungan sosial.
• Sukar untuk menumpukan kepada isu yang dibincangkan dan fikiran sering menerawang kepada pekara lain (sulit berkonsentrasi).
• Sukar tidur, sering terjaga malam, atau terjaga terlalu awal.
• Takut waktu tidur kerana risau susah tidur.
• Mudah tersinggung.
• Mengambil obat-obatan dalam beberapa bulan kebelakangan ini.
• Sering menggunakan rokok, alkohol, ubat untuk menenangkan diri sebelum tidur.
• Ketagihan kepada obat penenang.
Diagnosa, Intervensi Keperawatan :
1. Gangguan rasa nyaman : pusing (vertigo); berdebar, nyeri kepala berhubungan dengan adanya perubahan fisiologis tubuh akibat hypoksia mesensephalon.
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri otot, nyeri perut berhubungan dengan penurunan metabisme tubuh dan peningkatan asam lambung.
3. Gangguan aktifitas sehari – hari berhubungan dengan kelemahan fisik, letih, nyeri otot.
4. Gangguan persepsi sensori : penurunan konsentrasi berhubungan dengan penurunan aktifitas memori otak.
5. Gangguan komunikasi sosial berhubungan dengan kelemahan fisik; ketidaknyamanan fisik; ketidakmampuan berkonsentrasi.
6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan fragmentasi tidur, sering terjaga; nyeri; lingkungan yang tidak nyaman, etc. Ditandai dengan :
• Cemas;
• Lemah, letih;
• Kegelisahan; bingung;
• Tidak konsentrasi dan halusinasi;
• Terjaga dalam waktu lama; waktu tidur sedikit/sebentar;
• Jumlah waktu tidur kurang dari setengahnya dibanding orang normal.
Kriteria hasil :
• Waktu tidur pasien sama dengan orang normal;
• Pasien dapat tertidur nyenyak selama 90 menit pertama tanpa gangguan;
• Pasien tidak mengeluh adanya halusinasi, ilusi;
• Orientasi pasien baik terhadap waktu, tempat dan orang.
Intervensi Keperawatan :
• Lakukan pengkajian serta pengawasan terhadap segala keluhan tidur dan istirahat pasien.
• Kaji pola tidur pasien normal dan adanya riwayat gangguan tidur kronikpada pasien;
• Minimalkan adanya gangguan yang membuat pasien terjaga saat tidur pada 90 menit pertama tahap tidur;
• Perbaiki dan jaga lingkungan dan kondisi yang nyaman untuk persiapan tidur pasien;
• Buat kondisi pasien senyaman mungkin dalam mempersiapkan dan selama tidur dengan meminamalisir rangsang sensori yang ada, seperti nyeri, cemas, stress, halusinasi, dll.
• Jika dperlukan berikan obat tidur atas indikasi dan olaborasi dengan dokter.
• Berikan makanan dan minuman yang mengandung tryptophan (misalnya susu hangat atau turkey) yang dapat meningkatkan efek tidur.
• Lakukan tindakan yang bisa menyamankan pasien, misalnya mendongeng, masase, dl.
Kesimpulan
Tidur adalah kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi, gangguan tidur yang sering muncul adalah insomnia. Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini. penyebab insomnia yang utama adalah adanya permasalahan emosional, kognitif, dan fisiologis. Salah satu cara untuk mengatasi insomnia adalah dengan metode relaksasi. Latihan relaksasi dapat digunakan untuk memasuki kondisi tidur karena dengan mengendorkan otot secara sengaja akan membentuk suasana tenang dan santai. Suasana ini diperlukan untuk mencapai kondisi gelombang alpha yaitu suatu keadaan yang diperlukan seseorang untuk memasuki fase tidur.
DAFTAR PUSTAKA
Kedja, M. 1990. Fisiologi Tidur, Majalah Jiwa Th. XXV :2
Espie. Colin A. 2002.Insomnia : Conceptual Issue in the Development, Persistence, and Treatment of Sleep Disorder in Adult. Annual Reviews 53:21543
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak
Lichstein, Kenneth L., Johnson, Ronald S., 1993. Relaxation for Insomnia and Hypnotic Medication Use in Older Women. Psychology and Aging vol 8 No. 1 103-111
Borkovec TD,. 1982. Insomnia. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Vol 50, No 6 880-895
Guyton, Arthur, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Textbook of Medical Physiology), EGC, Jakarta, 945-949.
Panteri, IGP. 1993. Gangguan Tidur Insomnia dan Terapinya Suatu Kajian Pustaka. Majalah Ilmiah Unud th xx No 37.
Woolfolk, Robert L., McNulty Terrence F. 1983. Relaxation Treatment for Insomnia: A Componen Analysis. Journal of Consulitng and clinical Psychology. Vol 51 No 4, 495-503
Schenck, Carlos H. Mahowald, Mark. Sack, Robert., 2003, Assesment and Management of Insomnia, JAMA vol 289. No 19
Liu. Xianchen et al. 2000. Sleep Loss and Day Time Sleepiness in the General Adult Population of Japan Psychiatric research 93 1-11
Urden, Linda, 2000, Priority ini Critical care Nursing, 3RD Edition, Mosby, St Luis Philadelphia, 458-459.
Oleh : Junaedi, S.Kep
Tidur merupakan bagian hidup manusia yang memiliki porsi banyak, rata-rata hampir seperempat hingga sepertiga waktu digunakan untuk tidur. Tidur merupakan kebutuhan bukan suatu keadaan istirahat yang tidak bermanfaat. Tidur merupakan proses yang diperlukan oleh manusia untuk pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak (natural healing mechanism), memberi waktu organ tubuh untuk beristirahat, maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh. Disamping itu tidur bagi manusia dapat mengendalikan irama kehidupan sehari-hari. Salah satu fungsi tidur yang paling utama adalah untuk memungkinkan sistem syaraf pulih setelah digunakan selama satu hari.
DEFINISI
Tidur adalah suatu keadaan bawah sadar dimana orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya.
Tidur adalah suatu fenomena biologis yang terkait dengan irama alam semesta, irama sirkadian yang bersiklus 24 jam, terbit dan terbenamnya matahari, waktu malam dan siang hari, Tidur merupakan kebutuhan manusia yang teratur dan berulang untuk menghilangkan kelelahan jasmani dan kelelahan mental. Tidur merupakan perilaku normal ketika individu kehilangan kontak dengan lingkungannya untuk sementara.
Tidur harus dibedakan dengan koma, yang merupakan keadaan bawah sadar dimana orang tidak dapat dibangunkan.
Terdapat berbagai tahap dalam tidur; dari tidur yang sangat ringan sampai tidur yang sangat dalam.
Tidur dapat dibagi menjadi 2 tipe, yaitu :
1. Tidur gelombang lambat; tipe ini gelombang otaknya sangat lambat, dan
2. Tidur dengan gerakan cepat mata (REM sleep); mata bergerak cepat.
Setiap malamnya, sebagian besar masa tidur terdiri atas gelombang lambat yang bervariasi; yakni tidur yang nyenyak/dalam, istirahat/ketenangan yang dialami seseorang pada jam-jam pertama tidur sesudah terjaga selama beberapa jam sebelumnya. Selama tidur, episode tidur REM timbul secara periodic, dan meliputi sekitar 25% dari seluruh tidur, dan pda orang dewasa muda normal terjadi setiap 90 menit. Tipe tidur ini tak begitu tenang dan biasanya berhubungan dengan mimpi yang hidup.
TIDUR GELOMBANG LAMBAT
Tahap tidur ini begitu tenangnya dan dapat dihubungkan dengan penurunan tonus pembuluh darah perifer dan fungsi-fungsi vegetatif tubuh lainnya. Selain itu, tekanan darah, frekuensi pernafasan dan kecepatan metabolisme basal (BMR) akan berkurang 10 sampai 30 persen.
Walaupun tidur gelombang lambat ini sering disebut “tidur tanpa mimpi”, tapi sebenarnya pada tahap tidur ini sering timbul mimpi, dan kadang-kadang bahkan mimpi buruk bisa terjadi pada tipe tidur ini.
Perbedaan antara mimpi-mimpi yang terjadi pada tidur gelombang lambat dengan REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi pada saat tidur gelombang lambat biasanya tak dapat diingat. Jadi, selama tidur gelombang lambat tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan.
TIDUR REM (Tidur Paradoksikal, Tidur Desinkronisasi)
Sepanjang tidur malam yang normal, tidur REM berlangsung selama 5 sampai 30 menit dan biasanya muncul rata-rata setiap 90 menit, dimana tidur REM yang pertama terjadi dalam waktu 80 sampai 100 menit sesudah orang tersebut tetidur.
Bila seseorang sangat mengantuk, setiap tidur REM berlangsung singkat dan bahkan mungkin tidak ada. Sebaliknya, karena orang semakin lebih nyenyak sepanjang malamnya, maka tidur REM juga semakin meningkat.
Terdapat beberapa hal yang sangat penting dalam tidur REM, yaitu :
1. Tidur REM biasanya berhubungan dengan mimpi yang aktif.
2. Pada tahap tidur REM biasanya orang akan lebih sulit dibangunkan daripada saat tidur gelombang lambat, walaupun telah diberi rangsangan sensorik, dan ternyata orang-orang terbangun dipagi hari sewaktu episode tidur REM, dan bukan saat tidur gelombang lambat.
3. Tonus otot diseluruh tubuh akan berkurang, dan ini menunjukkan adanya hambatan yang kuat pada serat-serat proyeksi spinal dari area eksitatorik batang otak.
4. Frekansi denyut jantung dan pernafasan biasanya akan menjadi ireguler, dan ini merupakan sifat dari keadaan tidur dengan mimpi.
5. Walaupun ada hambatan yang sangat kuat pada otot-otot perifer, masih timbul juga beberapa gerakan otot yang tidak teratur. Keadaan ini khususnya mencakup pergerakan cepat dari mata.
6. Pada tidur REM, otak menjadi sangat aktif, dan metabolisme di otak menjadi meningkat sebanyak 20%. Juga, pada electroencephalogram (EEG) terlihat pola gelombang yang serupa dengan yang terjadi selama keadaan siaga. Tidur tipe ini disebut tidur paradoksikal karena ini bersfat paradoks, yaitu seseorang dapat tertidur walaupun aktifitas otaknya nyata.
Ringkasnya bahwa tidur REM merupakan tipe tidur dimana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktifitas otak tidak disalurkan kea rah yang sesuai agar orang tersebut tanggap penuh terhadap keadaan sekelilingnya dan kemudian terbangun.
TEORI DASAR TIDUR
Teori Pasif
Mengatakan bahwa area eksitatori pada batang otak bagian atas, yang disebut system aktivasi reticular mengalami kelelahan setelah seharian terjaga dan karena itu menjadi inaktif.
Teori Proses Penghambatan Aktif
Teori ini berdasarkan percobaan yang memotong/menghambat batang otak setinggi regio midpontil yang kemudian dilakukan perekaman listrik ternyata otak masih terus terjaga. Dengan kata lain bahwa ada beberapa pusat yang terletak dibawah ketinggian mid pontil tadi pada batang otak yang bereaksi untuk bisa menyebabkan tidur walaupun ada bagian-bagian lain otak yang dihambat.
PERANGSANGAN PENYEBAB TIDUR
Daerah nuclei rafe, yang terletak di separuh bagian bawah pons dan medulla oblongata. Daerah ini merupakan lembaran tips nuclei yang terletak pada garis tengah. Nuklei ini menyebar dan menutupi bagian-bagian otak lainnya seperti thalamus, neokorteks, hipotalamus, dan sebagian besar system limbic dan bagian medulla spinalis. Serat-serat tersebut dapat menghambat sinyal-sinyal nyeri yang masuk. Nuklei ini banyak mensekresikan serotonin, dimana serotonin ini merupakan neurotransmitter utama yang berkaitan erat dengan respon nyeri. Sehingga, dapat dikatakan bahwa tidur terjadi karena adanya hambatan pada produksi serotonin.
Nuklei rafe ini merupakan pusat pencetus terjadinya tidur dan terjaga yang menghasilkan serotonin.
Selain adanya hambatan-hambatan yang dilakukan oleh serotinin yang dapat menimbulkan kondisi terjaga, juga adanya lesi pada nuklei rafe juga akan membuat kondisi seseorang dapat terjaga. Hal ini dikarenakan adanya pengeluaran serotonin pada jaringan yang rusak yang dapat mencetuskan respon nyeri yang berakibat seseorang dapat terjaga.
Lesi-lesi yang menyebabkan kondisi terjaga yang ekstrim juga dapat terjadi pada suprakiasma hipotalamus anterior.
Substansi lain yang dapat menyebabkan kondisi tidur adalah bahan yang berasal dari cairan serebrospinal atau darah dari binatang yang terjaga lama beberapa hari yang disebut muramil peptida, yaitu substansi dengan berat molekul rendah yang berakumulasi dengan cairan serebrospinal dan urin. Jika substansi teresebut disuntikan pada ventrikel ketiga, maka dalam beberapa menit akan timbul keadaan tidur alami.
Bahan lain yang berefek tidur adalah substansi nonpeptida yang telah diisolasi dari darah binatang yang tidur.
Penelitian ini yang merupakan awal adanya substansi dasar pemberian anestesi intrarechal dan sub dural dalam pembedahan.
KEMUNGKINAN PENYEBAB TIDUR REM
Sampai saat ini belum dimengerti penyebab tidur gelombang lambat secara teratur dengan diselingi tidur REM. Namun, obat yang kerjanya serupa dengan asetilkolin akan meningkatkan timbulnya tidur REM. Oleh karena itu, telah dapat didalilkan bahwa neuron-neuron besar pada formasio reticular batang otak bagian atas yang mensekresi asetilkolin mungkin melalui serat-seratnya yang luas, mengaktifkan sebagian besar daerah otak yang menyebabkan aktifitas berlebihan pada daerah-daerah tertentu di otak selama berlangsungnya tidur REM, walaupun sinyal-sinyalnya tidak dialirkan ke daerah otak yang sesuai untuk menimbulkan keadaan terjaga yang disadari, yang merupakan sifat keadaan siaga.
SIKLUS TIDUR
Bila pusat tidur tidak diaktifkan maka pembebasan dari inhibisi mesensefalik dan nuclei reticular pontil bagian atas membuat region ini menjadi aktif secara spontan. Keadaan ini justru akan merangsang korteks serebri dan system saraf perifer, yang kemudian keduanya akan mengirimkan banyak sinyal umpan balik positif kembali ke nuclei reticular yang sama agar system ini tetap aktif. Bagitu timbul keadaan siaga.
Sesudah otak tetap aktif selama beberapa jam, neuron-neuron dalam system aktivasi mungkin telah menjadi sangat letih, akibatnya siklus umpan balik korteks serebri ke nuclei reticular akan menurun atau memudar dan efek inhibisi akan diambil alih oleh pusat tidur, sehingga timbul peralihan yang sangat cepat dari keadaan terjaga menjadi keadaan tidur.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa selama keadaan tidur yang berkepanjangan, neuron-neuron yang bersifat eksitasi dari system aktivasi reticular mesensefalon secara bertahap akan semakin mudah dirangsang karena istirahat yang berkepanjangan, sedangkan neuron-neuron inhibisi dari system aktivasi reticular menjadi kurang mudah dirangsang karena aktifitasnya yang berlebihan yang menimbulkan kondisi terjaga.
"Tidur itu ada stadiumnya, tidur dangkal dan tidur dalam," kata Roan. Saat mulai tertidur hingga sekitar 1 - 1,5 jam kemudian, stadium tidur dangkal berubah menjadi dalam. Saat mencapai tidur dangkal kedua kalinya, bola mata tampak bergerak cepat (rapid eye movement sleep = REM Sleep). Ini berlangsung selama 15 - 20 menit, kemudian masuk lagi ke stadium tidur yang lebih dalam. Setelah lewat 1 - 2 jam, timbul kembali tidur REM tahap 2, yang berlangsung 15 - 20 menit. Selama 7 - 8 jam tidur bisa 4 - 5 kali tidur REM.
Tidur REM beberapa kali harus terjadi selama tidur. Kalau tidak, tidur berikutnya akan kacau. Seandainya selama dua minggu selalu terbangun atau dibangunkan dalam stadium tidur REM, dua minggu berikutnya badan menuntut tidur REM lebih banyak atau sering mengantuk. Kalau dalam keadaan normal tidur REM hanya 25% dari seluruh tujuh jam tidur, bila selama dua minggu terganggu, membutuhkan sampai 65%. Tidur REM ini memberikan ciri beberapa gangguan jiwa tertentu. Seseorang yang depresi, tidur REM yang 4 - 5 kali selama 7 jam, bergeser lebih dekat dengan awal tidur. Pada lansia, tidur REM bergeser dekat pagi hari.
Saat tidur terjadi pula perubahan gelombang listrik otak. Kalau dalam keadaan siaga (melek), frekuensi gelombang otaknya tinggi. Dalam keadaan istirahat dan memejamkan mata, otak mengeluarkan gelombang alfa dengan frekuensi 8 - 13 Hz. Menuju stadium tidur lebih dalam, gelombang otak akan memperlambat diri, menjadi 3-7 Hz. Gelombang ini disebut gelombang theta. Selanjutnya, bila tidur sangat dalam, timbul gelombang delta, 1 - 4 Hz. Menurut beberapa peneliti, semakin banyak gelombang kecil per detiknya, semakin lelap dan tenang tidur seseorang. Di kalangan penggemar meditasi, gelombang delta justru dicari karena membawa ketenangan sangat tinggi. Bila terjadi sebaliknya, tidur akan kurang lelap.
Betapapun masalah yang dihadapi seseorang, usahakan untuk mengatasinya sendiri tanpa bantuan obat. Misalnya, untuk membantu mengusir pemicu stres, ambillah selembar kertas, tuliskan masalahnya sebelum naik ke tempat tidur. Kalau Anda membawa pekerjaan kantor ke rumah, singkirkan pekerjaan beberapa jam sebelum jam tidur. Kalau masalah belum teratasi, tenangkan pikiran, bawalah tidur masalah Anda. Keesokan harinya, di kala pikiran lebih terang dan tubuh lebih segar, masalah akan lebih mudah teratasi. Percayalah!
In order to investigate the possibility that these periods of rapid eye movement sleep were in fact related to dream, Aserinsky and Kleitman, and later Bill Dement awakened subjects in the midst of the REM periods. They were able to elicit dream recall from approximately seventy percent of those awakenings. Since then numerous investigators have succeeded in replicating these findings in many laboratories throughout the world. Although the amount of dream recall obtained from REM sleep is now a well-substantiated phenomenon.
EFEK FISIOLOGI TIDUR
Keadaan tidur menimbulkan 2 (dua) macam efek fisiologis utama, yaitu :
1. Efek pada system syaraf sendiri;
2. Efek pada struktur tubuh lainnya.
Efek Pada Sistem Syaraf
Adanya transeksi medulla spinalis setinggi leher tak akan menunjukkan efek yang berbahaya pada tubuh di bawah tingkat pemotongannya itu, yang dianggap merupakan tempat asal timbulnya siklus tidur dan terjaga. Jadi, tidak adanya siklus tidur dan siaga ini di system syaraf pada setiap tempat di bawah otak tidak akan mengganggu atau merugikan organ-organ tubuh atau fungsi tubuh lainnya. Sebaliknya, jika berkurang keadaan tidur akan mempengaruhi fungsi system saraf pusat.
Dalam artian lain bahwa jika seseorang berada dalam kondisi terjaga yang berkepanjangan maka akan mempengaruhi mekanisme saraf lainnya, seperti orang akan lamban dalam berkonsentrasi, bingung, mudah tersinggung dan lain sebagainya. Bisa juga dianalogkan seperti sebuah kompeter yang dipaksa menyala terus menerus maka akan mengakibatkan kekacauan program (cepat panas, konsleting).
Sehingga efek utama dari tidur disini adalah untuk menjaga keseimbangan alami diantara pusat-pusat neuron.
Efek Pada Struktur Tubuh Lain
Adanya tidur akan menimbulkan beberapa respon fisiologis dalam tubuh diantaranya adalah :
• Terjadinya penurunan tekanan darah, arteri dan frekuensi nadi.
• Akan terjadi dilatasi pembuluh darah pada kulit;
• Aktivitas traktus gastrointestinal kedangkala meningkat;
• Relaksasi otot-otot tubuh;
• Kecepatan Basal Metabolisme Rate (BMR) akan menurun sebanyak 10 sampai 30%.
Pada waktu tidur individu menutup matanya, pupil mengecil, otot melemas, denyut jantung melemah, tekanan darah menurun dan metabolisme tubuh melambat (Kedja, 1990).Menurut Panteri (1993) neourofisiologi tidur, dapat digambarkan sebagai tahapan-tahapan tidur dengan poligrafi tidur yaitu electroenchelograph, electrocardiograph, dan electromiograph.
Selain itu juga kekurangan tidur dapat menimbulkan beberapa kondisi sebagai berikut :
• Mempunyai mata yang bengkak disebabkan kekurangan tidur.
• Sering merasa letih dan tertekan pada waktu pagi dan malam.
• Sering tertidur ketika berada dikhayalak ramai.
• Kurang aktif dan kurang mempunyai hubungan sosial.
• Sukar untuk menumpukan kepada isu yang dibincangkan dan fikiran sering merawang kepada pekara lain.
• Sering mendapat masalah kesehatan seperti kejang otot, sakit perut, pening, dan lain-lain.
• Sukar tidur, sering terjaga malam, atau terjaga terlalu awal.
• Takut waktu tidur kerena risau susah tidur.
• Mudah tersinggung.
• Mengambil obat-obatan dalam beberapa bulan kebelakangan ini.
• Sering menggunakan rokok, alkohol, ubat untuk menenangkan diri sebelum tidur.
• Ketagihan kepada ubat penenang.
GELOMBANG OTAK
Pada saat berbaring dalam keadaan masih terjaga ditunjukkan dengan gelombang otak beta (β) yang bercirikan frekuensi yang cepat yaitu 15 sampai 20 putaran per detik dan bertegangan rendah yaitu kurang dari lima puluh mikrovolt.
Selanjutnya dalam keadaan yang lelah dan siap tidur mulai untuk memejamkan mata, pada saat ini gelombang otak yang muncul mulai melambat frekwensinya, meninggi tegangannya dan menjadi lebih teratur. Gelombang ini dinamakan gelombang alpha (ά) yang memiliki 8 sampai 12 putaran per detik yang menggambarkan keadaan santai, tidak tegang tapi terjaga. Setelah beberapa menit dalam keadaan alpha kecepatan napas mulai melambat. Ini adalah transisi tidur awal (tidak nyenyak) yang ditandai oleh gelombang theta (γ) 50 hingga 100 mikrovolt, 4 hingga 8 putaran per detik. Dalam keadaan permulaan tidur ini, denyut jantung melambat dan menjadi stabil, napas menjadi pendek-pendek dan teratur. Tahap ini dapat berlangsung dari sepuluh detik hingga 10 menit dan kadang disertai dengan citra visual yang disebut halusinasi hipnagogik, karena otot rangka tiba-tiba mengendur dan kadang mengalami sensasi seperti jatuh, yang menyebabkan kita terbangun sebentar dengan gerakan yang menyentak, keadaan ini dinamakan tidur tahap pertama.Tidur tahap kedua ditandai dengan gelombang otak theta dengan disertai munculnya gelombang tunggal dengan amplitudo tinggi dan munculnya sleep spidle (jarum tidur, karena terlihat di monitor atau kertas perekam yang menunjukkan aktivitas otak). Pada tahap ini gerakan dan ketegangan otot menurun berlangsung sekitar 10 hingga 20 menit menandai permulaan tidur yang sebenarnya. Pada tahap ini seseorang biasanya tidak dapat merespon rangsang dari luar, dan rata-rata bila seseorang dibangunkan pada tahap ini akan merasa betul-betul telah tertidur.Tahap selanjutnya setelah 20–30 menit adalah memasuki tahap ketiga yaitu kombinasi theta dan delta (tegangan tinggi dengan frekuensi sangat rendah). Segera setelah tahap ke tiga ini dilanjutkan dengan tahap ke empat yaitu hilangnya sama sekali gelombang theta dan tinggal yang ada gelombang delta (δ) dengan 0,5–2 putaran per detik, amplitudo 100–200 mikrovolt.
Dalam tidur delta ini relaksasi otot terjadi sepenuhnya, tekanan darah menurun, denyut nadi dan pernafasan melambat. Pasokan darah ke otak berada pada batas minimal.Kondisi tidur normal ini tidak selamanya dirasakan oleh seseorang yang akan memasuki tidur.
GANGGUAN TIDUR
Gangguan dan kesulitan tidur seringkali mengganggu, baik ketika memasuki tahap pertama tidur ataupun ketika tidur berlangsung. Gangguan ini dapat terjadi karena adanya permasalahan psikis maupun fisik, yang dapat menimbulkan kesulitan seseorang untuk memasuki keadaan tenang. Keadaan cemas yang berlebihan akan menyebabkan otot-otot tidak dapat relaks dan pikiran tidak terkendali.
Gangguan tidur yang sering muncul dapat digolongkan menjadi 4 yaitu : (1) insomnia; gangguan masuk tidur dan mempertahankan tidur, (2) hypersomnia; gangguan mengantuk atau tidur berlebihan, (3) disfungsi kondisi tidur seperti somnabolisme, night teror, dan (4) gangguan irama tidur.
Adapula yang membagi masalah tidur yang biasa didapati adalah seperti berikut :
1. Insomnia;
2. Berdengkur dan Apnea;
3. Narcolepsy;
4. Sindrom Kaki Resah (Restless Leg Syndrome (RLS));
5. Masalah Pergerakan Anggota Berkala (Periodic Limb Movement Disorder (PLMD));
Insomnia
Insomnia berasal dari kata in artinya tidak dan somnus yang berarti tidur, jadi insomnia berarti tidak tidur atau gangguan tidur. Selanjutnya dijelaskan bahwa insomnia ada tiga macam, yaitu pertama, Initial Insomnia artinya gangguan tidur saat memasuki tidur. Kedua, Middle Insomnia yaitu terbangun di tengah malam dan sulit untuk tidur lagi. Ketiga, Late Insomnia yaitu sering mengalami gangguan tidur saat bangun pagi (Hawari, 1990).The Diagnostic and Statistical of Mental Disorder IV (DSM-IV) mendefinisikan gangguan insomnia primer adalah keluhan tentang kesulitan mengawali tidur dan/atau menjaga keadaan tidur atau keadaan tidur yang tidak restoratif minimal satu bulan terakhir (Espie, 2002).Menurut Hoeve (1992), insomnia merupakan keadaan tidak dapat tidur atau terganggunya pola tidur. Orang yang bersangkutan mungkin tidak dapat tidur, sukar untuk jatuh tidur, atau mudah terbangun dan kemudian tidak dapat tidur lagi. Hal ini terjadi bukan karena penderita terlalu sibuk sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk tidur, tetapi akibat dari gangguan jiwa terutama gangguan depresi, kelelahan, dan gejala kecemasan yang memuncak.Insomnia adalah ketidakmampuan atau kesulitan untuk tidur. Kesulitan tidur ini bisa menyangkut kurun waktu (kuantitas) atau kelelapan (kualitas) tidur. Penderita insomnia sering mengeluh tidak bisa tidur, kurang lama tidur, tidur dengan mimpi yang menakutkan, dan merasa kesehatannya terganggu. Penderita insomnia tidak dapat tidur pulas walaupun diberi kesempatan tidur sebanyak-banyaknya.
Pada keadaan normal, dari pemeriksaan kegiatan otak melalui elektro-ensefalografi (EEG), sepanjang masa tidur terjadi fase-fase yang silih berganti antara tidur sinkronik dan tidur asinkronik. Pergantian ini kira-kira setiap dua jam sekali. Fase tidur sinkronik ditandai dengan tidur nyenyak, dengan tubuh dalam keadaan tenang. Fase tidur asinkronik ditandai dengan kegelisahan dan reaksi-reaksi jasmaniah lainnya, seperti gerakan-gerakan bola mata yang merupakan fase mimpi. Orang normal yang tidurnya terganggu pada fase asinkronik akan merasa jengkel, tidak puas, dan menjadi murung (schenck et al., 2003). Penderita insomnia mengalami gangguan dalam masa peralihan dan kualitas dari fase-fase tidur, terutama pada fase asinkronik. Dari penelitian ternyata bahwa saat yang dianggap penderita sebagai terjaga di malam hari sebenarnya merupakan fase-fase mimpi. Sebaliknya, beberapa masa tidur yang singkat sebenarnya merupakan tidur yang sesungguhnya Insomnia dikelompokkan dalam tiga tipe. Tipe pertama adalah penderita yang tidak dapat atau sulit tidur selama 1 sampai 3 jam pertama. Namun, karena kelelahan akhirnya tertidur juga. Tipe ini biasanya dialami penderita usia muda yang sedang mengalami kecemasan. Tipe kedua, dapat tidur dengan mudah dan nyenyak, namun setelah 2 sampai 3 jam tidur terbangun. Kejadian ini bisa berlangsung berulang kali. Tipe ketiga, penderita dapat tidur dengan mudah dan nyenyak, namun pada pagi buta dia terbangun dan tidak dapat tidur lagi. Ini biasa dialami orang yang sedang mengalami depresi. Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini (Liu et al., 1999).
Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini. Dalam penelitian dilaporkan bahwa di Amerika Serikat sekitar 15 persen dari total populasi mengalami gangguan yang berbentuk gangguan tidur dalam bentuk insomnia yang cukup serius.
Gangguan tidur insomnia merupakan gangguan yang belum serius jika anda alami kurang dari sepuluh hari. Untuk mengatasi gangguan ini kita dapat menggunakan teknik-teknik relaksasi dan pemrograman bawah sadar. Yang penting kita harus dapat menjaga keseimbangan frekuensi gelombang otak agar sesering mungkin berada dalam kondisi relaks dan meditatif sehingga ketika kita harus tidur kita tidak mengalami kesulitan untuk menurunkan gelombang otak pada pemeriksaan dengan EEG ke frekuensi delta.
Penyebab Insomnia
Insomnia bisa disebabkan berbagai faktor, di antaranya karena hormonal, obat-obatan, dan kejiwaan, bisa juga karena faktor luar misalnya tekanan batin, suasana kamar tidur yang tidak nyaman, ribut atau perubahan waktu karena harus kerja malam. Selain itu kopi dan teh yang mengandung zat perangsang susunan syaraf pusat, tembakau yang mengandung nikotin, obat pengurus badan yang mengandung amfetamin, adalah contoh bahan yang dapat menimbulkan kesulitan tidur. Banyak ahli menyatakan, gangguan tidur tidak langsung berhubungan dengan menurunnya hormone, namun kondisi psikologis dan meningkatnya kecemasan, gelisah, serta emosi yang sering tidak terkontrol akibat menurunnya hormon estrogen, bisa menjadi salah satu sebab meningkatnya risiko gangguan tidur.Morin (Espie, 2002) menyebutkan penyebab insomnia yang utama adalah adanya permasalahan emosional, kognitif, dan fisiologis. Ketiganya berperanan terhadap terjadinya disfungsi kognitif, kebiasaan yang tidak sehat, dan akibat-akibat insomnia.
Terapi Relaksasi untuk Mengurangi Gangguan Insomnia
Salah satu cara untuk mengatasi insomnia adalah dengan metode relaksasi (Woolfolk et al. 1983). Relaksasi adalah salah satu teknik di dalam terapi perilaku yang pertama kali dikenalkan oleh Jacobson, seorang psikolog dari Chicago yang mengembangkan metode fisiologis melawan ketegangan dan kecemasan. Teknik ini disebutnya relaksasi progresif yaitu teknik untuk mengurangi ketegangan otot (Levy dkk., 1984). Jacobson berpendapat bahwa semua bentuk ketegangan termasuk ketegangan mental didasarkan pada kontraksi otot (Sheridan dan Radmacher, 1992). Jika seseorang dapat diajarkan untuk merelaksasikan otot mereka, maka mereka benar-benar relaks. Latihan relaksasi dapat digunakan untuk memasuki kondisi tidur karena dengan mengendorkan otot secara sengaja akan membentuk suasana tenang dan santai. Suasana ini diperlukan untuk mencapai kondisi gelombang alpha yaitu suatu keadaan yang diperlukan seseorang untuk memasuki fase tidur awal. Dasar teori relaksasi adalah sebagai berikut: pada sistem saraf manusia terdapat sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom. Fungsi sistem saraf pusat adalah mengendalikan gerakan-gerakan yang dikehendaki, misalnya gerakan tangan, kaki, leher, jari-jari, dan sebagainya. Sistem saraf otonom berfungsi mengendalikan gerakan-gerakan yang otomatis, misalnya fungsi digestif, proses kardiovaskuler, gairah seksual, dan sebagainya. Sistem saraf otonom terdiri dari sistem saraf simpatis dan sistem saraf parasimpatis yang kerjanya saling berlawanan. Sistem saraf simpatis bekerja meningkatkan rangsangan atau memacu organ-organ tubuh, memacu meningkatnya detak jantung dan pernafasan, menurunkan temperatur kulit dan daya hantar kulit, serta akan menghambat proses digestif dan seksual. Sistem saraf parasimpatis menstimulasi turunnya semua fungsi yang dinaikkan oleh sistem saraf simpatis. Selama sistem-sistem tersebut befungsi normal dalam keseimbangan, bertambahnya akfivitas Sistem yang satu akan menghambat atau menaikan efek sistem yang lain. Pada waktu individu mengalami ketegangan dan kecemasan yang bekerja adalah sistem saraf simpatis, sedangkan pada waktu relaksasi yang bekerja adalah sistem saraf parasimpatis, dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan cara resiprok, sehingga timbul counter conditioning dan penghilangan (Prawitasari, 1988).Apabila individu melakukan relaksasi ketika ia mengalami ketegangan atau kecemasan, maka reaksi-reaksi fisiologis yang dirasakan individu akan berkurang, sehingga akan merasa rileks. Apabila kondisi fisiknya sudah rileks, maka kondisi psikisnya juga tenang (Lichstein, et al. 1993).Teknik relaksasi sudah dikenal lama dan banyak digunakan dalam berbagai terapi baik terapi permasalahan fisik maupun psikologis. Ada beberapa jenis relaksasi yang sudah dikenal antara lain relaksasi progresif, relaksasi diferensial dan relaksasi via letting go.
Narcolepsy
Narcolepsy adalah gangguan tidur yang diakibatkan oleh gangguan psikologis dan hanya bisa disembuhkan melalui bantuan pengobatan dari seorang dokter ahli jiwa. Penyakit ini berbeda dengan insomnia yang terjadi secara terus menerus. Justru penderita narcolepsy ini terkena serangan secara mendadak pada saat yang tidak tepat, seperti sedang memimpin rapat – biasanya terjadi serangan pada kondisi emosi yang tegang seperti : marah, takut atau jatuh cinta. Serangan narcolepsy dapat melumpuhkan seseorang dalam beberapa menit ketika dia masih sadar dan secara tiba-tiba membawanya ke alam mimpi.
Hypersomnia
Gangguan ini adalah kebalikan dari insomnia. Seringkali penderita dianggap memiliki gangguan jiwa atau malas. Para penderita hypersomnia membutuhkan waktu tidur yang sangat banyak dari ukuran normal. Meskipun penderita tidur melebihi ukuran normal, namun mereka selalu merasa letih dan lesu sepanjang hari. Namun gangguan ini tidaklah terlalu serius dan dapat diatasi sendiri oleh penderita dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen pengelolaan diri terhadap semua aktifitas kesehariannya secara baik.
Apnea
Apnea merupakan salah satu gangguan tidur yang cukup serius. Lebih dari 5 juta penduduk Amerika Serikat mengalami gangguan ini. Faktor risiko terkena gangguan ini antara lain : kelebihan berat badan (overweight), usia paruh baya terutama pada wanita, atau usia lanjut (lansia) yang pernah mengalami ketergantungan obat. Apnea adalah penyakit yang disebut juga ”to fall asleep at the wheel” karena sering dialami ketika penderita sedang mengemudikan mobil. Apnea terjadi karena fluktuasi atau irama yang tidak teratur dari denyut jantung dan tekanan darah. Ketika terserang, penderita seketika merasa mengantuk dan jatuh tertidur. Penderita apnea mengalami kesulitan bernafas bahkan berhenti bernafas pada saat tidur ketika terserang gangguan ini (dalam bahasa Jawa disebut ”tindihan”). Fluktuasi denyut jantung dan tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan kematian seketika yang dapat terjadi pada sebagian besar penderita.
Masalah Anggota pergerakan Berkala atau dapat berupa perlaku yang menyimpang .
Gangguan tidur lainnya seperti berbicara atau berjalan dalam keadaaan tidur, ataupun menggertakkan gigi merupakan gangguan tidur yang tidak berbahaya. Namun berbahaya jika berjalan dalam tidur menemui obyek yang berbahaya (benda tajam, api, dll) atau terjatuh. Gangguan berbicara dalam tidur hanya akan mengganggu teman sekamarnya. Sedangkan menggertak gigi dapat merusak email gigi. Penyakit menggertakkan gigi geligi pada seseorang pada saat dalam kondisi tertidur ini disebut dengan bruxism.
Dengan mengetahui dan memahami berbagai jenis gangguan atau penyakit tidur kita dapat mengambil langkah yang diperlukan. Sepanjang masih bisa diatasi sendiri dengan teknik-teknik manajemen diri (relaksasi dan pemrograman bawah sadar, meditasi, dan pola hidup yang sehat dan seimbang), maka kita sebenarnya dapat menjadi bagian dari solusi masalah yang kita hadapi. Untuk gangguan atau penyakit yang serius seperti narcolepsy maupun apnea, kita harus berkonsultasi dengan dokter ahli, karena mengabaikan gangguan tersebut dapat berakibat fatal (mematikan) bagi penderita.
Akibat kurang tidur
Walaupun selama ini masalah tidur tidak dianggap sebagai masalah yang besar, kajian baru-baru ini menunjukkan bahawa masalah tidur boleh membawa kepada masalah jantung. Dalam satu kajian dari tempoh 1996 sehingga 1998, dan diterbitkan dalam journal "Occupational and Environmental Medicine" keluaran Juli, terdapat bukti bahawa risiko mengalami serangan jantung berganda bagi mereka yang bekerja lebih daripada 60 jam seminggu dan tidak tidur seperti normal. Kajian itu membabitkan 260 lelaki berusia antara 40 - 79 tahun yang dimasukkan kedalam hospital disebabkan serangan jantung kali pertama. Kajian tersebut turut membabitkan kumpulan kawalan seramai 445 orang seusia tanpa penyakit jantung.
PENYAKIT TIDUR
Penyakit tidur atau African trypanosomiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa genus Trypanosoma dan ditularkan oleh lalat tsetse. Penyakit ini mewabah di berbagai negara Afrika, dan saat ini diperkirakan antara 50.000 sampai 70.000 menderita penyakit ini.
Gejala awal adalah demam, sakit kepala, dan sakit di sendi, pembengkakan kelenjar limfa, anemia, dan penyakit ginjal. Penderita kemudian mengalami perubahan siklus tidur di mana mereka merasa ngantuk di siang hari dan tidak dapat tidur di malam hari. Bila tidak dirawat, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan sistem syaraf, koma, dan kematian. Selain gigitan lalat tsetse, penyakit ini dapat ditularkan dari ibu ke anak atau lewat transfusi darah.
OBAT TIDUR
Obat tidur (atau sedatif) dapat menyebabkan seseorang tenang dan tidur. Ada beberapa jenis obat tidur :
• Pil yang dapat membuat orang jatuh tertidur.
• Pil yang membantu orang tetap tertidur (tak terbangun semalaman).
• Pil yang menenangkan seseorang, tanpa membuatnya tertidur.
Beberapa obat tidur dapat bereaksi cepat, seperti 10-15 menit. Orang yang berpikir untuk menenggak obat tidur harus berkonsultasi dengan dokter, yang dapat memberikan obat tidur terbaik.
Sebagian besar obat tidur menyebabkan ketagihan, sehingga seseorang perlu resep obat dari dokter untuk mengkonsumsi obat tidur. Obat tidur jangan diminum dalam jangka panjang sebab menimbulkan ketagihan.
Orang yang biasa minum obat tidur bisa nampak sakit dan mengantuk. Karena obat tidur mempengaruhi kemampuan untuk bereaksi, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan :
• Mengoperasikan mesin
• Mengendarai mobil
• Meminum MiRas (akan menyebabkan reaksi obat makin menjadi.)
Beberapa orang kecanduan obat tidur. Bila mencoba menghentikannya, mereka biasa mengalami hal berikut :
• Insomnia (tidak bisa tidur)
• Gelisah (merasa takut)
• Sawan
TIDUR NYAMAN / SLEEPING MIND
Sleeping Mind adalah berfikir (menjalankan fungsi otak secara optimal) sambil tidur (beristirahat secara fisik). Artinya manfaat yang diperoleh adalah sebagaimana lazimnya manfaat yang diperoleh seseorang sebagai hasil dari proses berfikir, seperti pemecahan masalah, memperoleh gagasan-gagasan baru atau menjawab pertanyaan serta persoalan. Karena dilakukan sambil tidur maka manfaat-manfaat tersebut dapat diperoleh tanpa harus menggunakan waktu khusus untuk berfikir atau merenung. Ibarat kata pepatah SAMBIL BERENANG MINUM AIR, sambil beristirahat kita berfikir, fisik yang letih kembali segar, sambil beberapa persoalan juga terselesaikan.
Jika dibandingkan dengan proses intelektual dan proses kreatif seperti biasanya, Sleeping Mind memiliki beberapa kelebihan. Selain efisien dalam hal pemanfaatan waktu, Sleeping Mind juga bersifat original dan genuine. Karena proses yang terjadi pada dasarnya adalah mengambil dan mengolah resource dan informasi yang ada pada diri kita sendiri, yang telah terekam dan ter-file rapi dalam bawah sadar kita. Sehingga hasil pemikiran Sleeping Mind juga bersifat Unique, dalam arti untuk suatu persoalan yang sama, bisa jadi masing-masing orang akan menemukan jawaban yang berbeda-beda, namun cocok dan sesuai dengan masing-masing orang tersebut.
LANGKAH-LANGKAH PRAKTIS SLEEPING MIND
Pejamkan mata Anda sekarang! Apa yang Ada lihat? HITAM. Sekarang pikirkan suatu benda, apapun benda itu asal konkrit! Sekarang pejamkan mata Anda! Apa yang Anda lihat? Ya, BENDA itu yang terlihat. Mengapa? Karena pikiran Anda sedang bekerja memikirkan benda itu.
Sleeping Mind bekerja pada gelombang otak sekitar gelombang Alpha-Theta, yaitu diantara gelombang Beta (normal, state of awareness) dan Delta. Yang terakhir ini adalah kondisi tertidur lelap dan otak kita sudah tidak dapat menerima rangsang atau informasi dari indera kita. Kalangan Hypnotist dan Hypnotherapist menyebut gelombang Alpha-Theta sebagai Hypnosis State atau Suggestible State. Karena itu agar otak dapat bekerja dalam kondisi Sleeping Mind, kita harus mempertahankan gelombang otak agar tetap berada di gelombang Alpha-Theta. Perlahan-lahan kita tinggalkan gelombang Beta, seperti saat biasanya kita mulai tertidur, namun bertahan agar tidak keterusan sampai ke Delta.
Berikut langkah-langkah praktis untuk mencapai Sleeping Mind
1. Persiapan
Paparkan issue atau permasalahan yang ingin kita bahas senyata dan sedetail mungkin dalam selembar kertas. Baca berulang-ulang sampai secara visual kita bisa membacanya tanpa kita melihat kertas itu lagi. Kalau perlu keraskan suara Anda saat sehingga secara auditori telinga kita bisa mendengarnya meskipun pada saat kita sudah tidak membacanya lagi. Biarkan kertas dan alat tulis tetap berada di dekat tempat tidur karena akan digunakan untuk sesegera mungkin mencatat output dari Sleeping Mind.
2. Memulai
Lakukan Relaksasi. Nyamankan diri Anda secara fisik. Gunakan pakaian yang longgar. Lemaskan otot-otot yang tegang dan kendurkan bagian-bagian tubuh yang terasa kaku. Lalu pejamkan mata dan rasakan kenyamanan di seluruh tubuh sampai kendur dan ringan. Lakukan Affirmasi “Aku lakukan Sleeping Mind. Badanku tidur dengan nyaman. Pikiranku berfungsi optimal untuk menemukan jawaban atas persoalan ….. (sebutkan issue yang akan Anda pikirkan).
Perlahan-lahan munculkan secara visual (sambil tetap memejamkan mata) gambaran issue yang telah Anda tuliskan di selembar kertas tadi. Visualkan senyata mungkin tulisan-tulisan Anda di depan mata Anda. Jika tadi Anda membacanya dengan suara keras, dengarkan kembali di telinga Anda suara ketika Anda membacanya tadi.
3. Memproses
Perlahan-lahan rasakan tubuh Anda semakin ringan dan visualisasi Anda mulai mengabur (tidak se”vivid” ketika Anda mulai melakukan visualisasi). Rasakan bahwa Anda mulai tidak bisa menggerakkan anggota badan Anda, seperti menggeser kaki, menggerakkan leher atau memindahkan tangan. Tapi Anda masih tetap mendengar suara yang masuk ke telinga Anda. Jaga agar Anda tetap bisa menangkap suara dari luar meskipun Anda sudah tidak dapat bereaksi lagi terhadap rangsang tersebut. Saat ini Anda sudah mulai masuk ke Sleeping Mind.
4. Memetik Hasil
Perlahan-lahan Anda akan mulai memperoleh hasil dari Sleeping Mind. Visual Anda akan menangkap gambar atau tulisan-tulisan lain yang merupakan jawaban dari persoalan-persoalan yang tadi Anda ajukan. Telinga Anda akan mulai mendengar suara yang merupakan gagasan-gagasan baru atas rencana-rencana Anda. Anda merasakan ada keinginan-keinginan untuk melakukan aktivitas yang merupakan langkah-langkah konkrit untuk meyelesaikan permasalahan Anda.
Jika Anda tiba-tiba terjaga dari tidur dan kontak dengan realita, sesegera mungkin catat apa yang terakhir Anda lihat, dengar atau rasakan sebagai hasil dari Sleeping Mind Anda. Karena ini berasal dari Unconscious, jika Anda tidak segera mencatatnya, bisa jadi Anda akan segera kehilangan. Cara lain untuk segera me-record hasil Sleeping Mind Anda adalah dengan menyiapkan alat perekam seperti Ipod atau Tape Recorder.
Proses ini bisa dilanjutkan kembali bilamana kita kembali melanjutkan tidur kita. Baik untuk issue yang sama maupun issue yang lain. Pada saat-saat awal kita melatih Sleeping Mind, bisa jadi saat bangun tidur tubuh kita merasa kurang nyaman. Mungkin terasa pegal, berat atau seperti gejala kurang tidur lainnya. Hal ini normal dan manusiawi karena tubuh kita membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan sehari-hari. Dengan latihan yang teratur dan berulang-ulang, seluruh tubuh kita akan berdamai dengan kebiasaan baru kita (parts integration), dan lama-kelamaan ikut menikmatinya pula.
Kalau boleh mengambil referensi, ada seorang tokoh nasional (bahkan internasional) bangsa kita yang piawai menjalankan Sleeping Mind ini. Entah dipelajari atau bakat bawaan, beliau (yang pernah menjadi Presiden RI ini) justru lebih cerdas dan produktif dalam berfikir dalam kondisi ini dibanding dalam kondisi terjaga. Hal ini dikemukakan oleh seorang rekan yang pernah menjadi orang dekat beliau karena pernah menjadi Staf Ahli Ibu Negara dan Anggota Tim Media dan Komunikasi Juru Bicara Kepresidenan.
Apa salahnya kita menggunakan teknik yang sama untuk memperolah hasil yang terbaik dalam hidup kita. Jika kita sudah punya intelekualitas kita yang biasa kita gunakan dalama keadaan sadar sebagai suatu senjata, maka kini saatnya kita gunakan senjata lain yang belum kita manfaatkan secara optimal, yaitu menggunakan kecerdasan intelektual kita dalam keadaan tidur yaitu dengan menggunakan teknik Sleeping Mind. Bukankah memiliki dan menggunakan 2 senjata lebih baik ketimbang hanya mengandalkan 1 senjata? Selamat mengoptimalkan pikiran sambil menikmati tidur.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT DAN TIDUR
Pengkajian :
1. Pemeriksaan Fisik :
• Mempunyai mata yang bengkak pada palberae disebabkan kekurangan tidur.
• Sering mendapat masalah kesehatan seperti kejang otot, sakit perut, pening, dan lain-lain.
• Adanya perubahan pada tanda vital : demam, hipo/hypertensi, nadi cepat dan lemah.
2. Wawancara :
• Sering merasa letih dan tertekan pada waktu pagi dan malam.
• Sering tertidur ketika berada dikhalayak ramai.
• Kurang aktif dan kurang mempunyai hubungan sosial.
• Sukar untuk menumpukan kepada isu yang dibincangkan dan fikiran sering menerawang kepada pekara lain (sulit berkonsentrasi).
• Sukar tidur, sering terjaga malam, atau terjaga terlalu awal.
• Takut waktu tidur kerana risau susah tidur.
• Mudah tersinggung.
• Mengambil obat-obatan dalam beberapa bulan kebelakangan ini.
• Sering menggunakan rokok, alkohol, ubat untuk menenangkan diri sebelum tidur.
• Ketagihan kepada obat penenang.
Diagnosa, Intervensi Keperawatan :
1. Gangguan rasa nyaman : pusing (vertigo); berdebar, nyeri kepala berhubungan dengan adanya perubahan fisiologis tubuh akibat hypoksia mesensephalon.
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri otot, nyeri perut berhubungan dengan penurunan metabisme tubuh dan peningkatan asam lambung.
3. Gangguan aktifitas sehari – hari berhubungan dengan kelemahan fisik, letih, nyeri otot.
4. Gangguan persepsi sensori : penurunan konsentrasi berhubungan dengan penurunan aktifitas memori otak.
5. Gangguan komunikasi sosial berhubungan dengan kelemahan fisik; ketidaknyamanan fisik; ketidakmampuan berkonsentrasi.
6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan fragmentasi tidur, sering terjaga; nyeri; lingkungan yang tidak nyaman, etc. Ditandai dengan :
• Cemas;
• Lemah, letih;
• Kegelisahan; bingung;
• Tidak konsentrasi dan halusinasi;
• Terjaga dalam waktu lama; waktu tidur sedikit/sebentar;
• Jumlah waktu tidur kurang dari setengahnya dibanding orang normal.
Kriteria hasil :
• Waktu tidur pasien sama dengan orang normal;
• Pasien dapat tertidur nyenyak selama 90 menit pertama tanpa gangguan;
• Pasien tidak mengeluh adanya halusinasi, ilusi;
• Orientasi pasien baik terhadap waktu, tempat dan orang.
Intervensi Keperawatan :
• Lakukan pengkajian serta pengawasan terhadap segala keluhan tidur dan istirahat pasien.
• Kaji pola tidur pasien normal dan adanya riwayat gangguan tidur kronikpada pasien;
• Minimalkan adanya gangguan yang membuat pasien terjaga saat tidur pada 90 menit pertama tahap tidur;
• Perbaiki dan jaga lingkungan dan kondisi yang nyaman untuk persiapan tidur pasien;
• Buat kondisi pasien senyaman mungkin dalam mempersiapkan dan selama tidur dengan meminamalisir rangsang sensori yang ada, seperti nyeri, cemas, stress, halusinasi, dll.
• Jika dperlukan berikan obat tidur atas indikasi dan olaborasi dengan dokter.
• Berikan makanan dan minuman yang mengandung tryptophan (misalnya susu hangat atau turkey) yang dapat meningkatkan efek tidur.
• Lakukan tindakan yang bisa menyamankan pasien, misalnya mendongeng, masase, dl.
Kesimpulan
Tidur adalah kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi, gangguan tidur yang sering muncul adalah insomnia. Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis gangguan insomnia, yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan (early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga jenis gangguan tidur ini. penyebab insomnia yang utama adalah adanya permasalahan emosional, kognitif, dan fisiologis. Salah satu cara untuk mengatasi insomnia adalah dengan metode relaksasi. Latihan relaksasi dapat digunakan untuk memasuki kondisi tidur karena dengan mengendorkan otot secara sengaja akan membentuk suasana tenang dan santai. Suasana ini diperlukan untuk mencapai kondisi gelombang alpha yaitu suatu keadaan yang diperlukan seseorang untuk memasuki fase tidur.
DAFTAR PUSTAKA
Kedja, M. 1990. Fisiologi Tidur, Majalah Jiwa Th. XXV :2
Espie. Colin A. 2002.Insomnia : Conceptual Issue in the Development, Persistence, and Treatment of Sleep Disorder in Adult. Annual Reviews 53:21543
http://www.republika.co.id/suplemen/cetak
Lichstein, Kenneth L., Johnson, Ronald S., 1993. Relaxation for Insomnia and Hypnotic Medication Use in Older Women. Psychology and Aging vol 8 No. 1 103-111
Borkovec TD,. 1982. Insomnia. Journal of Consulting and Clinical Psychology. Vol 50, No 6 880-895
Guyton, Arthur, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Textbook of Medical Physiology), EGC, Jakarta, 945-949.
Panteri, IGP. 1993. Gangguan Tidur Insomnia dan Terapinya Suatu Kajian Pustaka. Majalah Ilmiah Unud th xx No 37.
Woolfolk, Robert L., McNulty Terrence F. 1983. Relaxation Treatment for Insomnia: A Componen Analysis. Journal of Consulitng and clinical Psychology. Vol 51 No 4, 495-503
Schenck, Carlos H. Mahowald, Mark. Sack, Robert., 2003, Assesment and Management of Insomnia, JAMA vol 289. No 19
Liu. Xianchen et al. 2000. Sleep Loss and Day Time Sleepiness in the General Adult Population of Japan Psychiatric research 93 1-11
Urden, Linda, 2000, Priority ini Critical care Nursing, 3RD Edition, Mosby, St Luis Philadelphia, 458-459.
Rencana Kerja Peningkatan Kemampuan Perawat Komunitas
Rencana Kerja Peningkatan Kemampuan Petugas Perkesmas (Perawat Komunitas)
Oleh : Junaedi
A. Identifikasi Masalah.
Menurunya derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas} diakibatkan oleh meningkatnya angka kesakitan pada keluarga sasaran khususnya keluarga rawan, keluarga yang rentan terhadap masalah kesehatan. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor, antara lain :
1. Meningkatnya suatu penyakit di masyarakat.
2. Kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas.
3. Kurang akuratnya data yang tersedia
4. Lingkungan yang tidak sehat dan bersih.
Selanjutnya dapat diidentifikasi masalah yang berhubungan langsung dengan masalah utama tersebut di atas adalah kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Kurangnya kerjasama lintas program terkait.
2. Kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
3. Kurangnya kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan pada perawat)
4. Kurangnya motivasi petugas.
B. Sasaran.
Dengan adanya identifikasi masalah diatas, maka penulis dapat mengemukakan sasaran yang ingin dicapai dalam rangka menuju pemecahan masalah . Adapun sasaran yang dimaksud adalah seperti di bawah ini.
Terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perkesmas diakibatkan dari tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap masalah kesehatan. Penurunan angka kesakitan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Tertanggulanginya suatu penyakit di masyarakat
2. Terwujudnya peningkayan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas (bidan dan perawat).
3. Tersedianya keakuratan data.
4. Terwujudnya lingkungan yang sehat dan bersih
Sedangkan yang menyebabkan terwujudnya peningkatan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas adalah :
1. Terwujudnya peningkatan kerjasama lintas program terkait.
Dengan sudah dilaksanakannya pelatihan petugas perawatan kesehatan masyarakat. Petugas dari perogram terkait sudah memahami dan mengerti tentang pelaksanaan dari Program Puskesmas. Bahwa program Puskesmas sangat mendukung untuk program puskesmas lainnya tertutama dalam pencapaian cakupan program Kesehatan Ibu dan Anak dan program Pemberantasan Penyakit menular temasuk Imunisasi.Program KIA dan Imunsasi adalah program primadona. Untuk program KIA dalam hal pencapaian cakupan K.1 dan K.4, sedangkan untuk pelayanan program Imunisasi petugas Puskesmas melakukan pembinaan pada keluarga DO (Drop Out).Dari program Gizi petugas Puskesmas membantu dalam hal pembinaan kelarga yang mempunyai bayi, anak balita, yang berat badannya berada dibawah garis merah (Balita BGM) dan ibu hamil /ibu nifas yang kekuranan enegi sera membantu dalam hal pelaksanaan pemberian makanan tambahan (PMT). Untuk program pemberantasan Penyakit Menular (P2M) petugas Puskesmas membantu memberikan bimbingan serta tindak lanjut untuk kasus-kasus penyakit menular maupun tidak menular.
2. Tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Dengan terpenuhinya sarana dan prasarana khususnya peralatan medis dan ruangan yang memadai dalam melaksanakan kegiatan akan menimbulkan suasana yang nyaman dan leluasa sehingga dapat membuat jiwa kita menjadi tenang. Adanya peralatan medis khusus untuk kegiatan program Puskesmas yang dipunyai oleh masing-masing petugas (bidan dan perawat) akam memudahkan kegiatan Puskesmas di masyarakat. Dan program perawatan kesehatan masyarakat bisa berjalan dengan lancar.
3. Terwujudnya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan perawat).
Seperti sudah diuraikan pada bab terdahulu bahwa kendala/hambatan yang ditemui dalam upaya peningkatan pelaksanaan kegiatan Perkesmas adalah faktor manusia sebagai pelaksana yang mempunyai kelemahan, yaitu kurangnya kemampuan/keterampilan petugas untuk melaksanakan tugas keperawatan.
Sebagai pendukung kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas bagi petugas bagi petugas khususnya perawat, bidan dan bidan-bidan didesa perlu adanya pelatihan, pembinaan yang terus menerus oleh atasan langsung atau dari pihak yang berkepentingan, melaksanakan petunjuk teknis pelajaran.
Dengan adanya usaha tersebut diatas diharapkan akan meningkatkan kemampuan/keterampilan bagi petugas Perkesmas, sehingga kegiatan perkesmas dapat dilaksanakan secara optimal dan pada akhirnya akan terjadi peningkatan, baik disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pencapaian cakupan/hasil kegiatan.
4. Terwujudnya motivasi kerja petugas.
Terwujudnya motivasi kerja dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas tidak lepas dari kemampuan/keterampilan petugas serta tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Hal ini secara tidak langsung membantu memotivasi petugas untuk melaksanakan tugas dengan baik. Motivasi kerja petugas dilihat dari keaktifan petugas dalam membina desa binaan.
C. Alternatif Pemecahan.
Selanjutnya guna mengidentifikasi pemecahan masalah dan penetuan sasaran yang ingin dicapai, maka perlu dibuat beberapa alternatif sebagai acuan untuk menuju rangkaian pemecahan masalah sehingga terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas khususnya perawat, bidan, dan bidan-bidan desa melalui kegiatan-kegiatan seperti :
1. Melaksanakan study banding ke Puskesmas teladan.
2. Melaksanakan pelatihan petugas perkesmas.
3. Melaksanakan pembinaan.
4. Melaksanakan pembuatan petunjuk teknis pelajaran.
Dari beberapa kegiatan tersebut diatas kegiatan yang bisa dilaksanakan dan berpengaruh langsung terhadap peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas yaitu kegiaatan pelatihan bagi perawat, bidan dan bidan-bidan desa selaku pelaksana kegiatan Perkesmas.
Dengan adanya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas oleh petugas yang selanjutnya akan memungkinkan tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap maslah kesehatan dan pada akhirnya memungkinkan terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Dengan adanya strategi pemecahan masalah dari sasaran yang diharapkan, dapatlah ditentukan sasaran umum dan sasaran khusus dari rencana kerja yang ingin dicapai. Adapun sasaran umum dan saran khusus yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Sasaran Umum :
Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas.
2. Sasaran Khusus :
Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat (bidan dan perawat) melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas
D. Langkah-Langkah Kegiatan.
Kegiatan yang kiranya diselenggarakan guna mencapai sasaran adalah dengan melaksanakan pelatihan petugas perawatan Kesehatan Masyarakat untuk mewujudkan peningkatan kemampuan/keterampilan bidan perawat.
Kegiatan tersebut diatas pelaksanaannya dapat dibagi menjadi beberapa tahapan kegiatan antara lain :
1. Persiapan yang terdiri dari pembentukan panitia, pencairan dana, pembuatan jadwal, penyiapan perlengkapan serta pemberitahuan peserta pelatihan.
2. Pelaksanaan terdiri dari pembukaan pelatihan, penyajian materi serta penutup.
3. Pengendalian meliputi pemantauan, penilaian serta pelaporan dari semua kegiatan yang dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, 1993, Jakarta, Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat
Depkes RI, 1996, Jakarta, Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat.
Oleh : Junaedi
A. Identifikasi Masalah.
Menurunya derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas} diakibatkan oleh meningkatnya angka kesakitan pada keluarga sasaran khususnya keluarga rawan, keluarga yang rentan terhadap masalah kesehatan. Hal ini disebabkan karena adanya beberapa faktor, antara lain :
1. Meningkatnya suatu penyakit di masyarakat.
2. Kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas.
3. Kurang akuratnya data yang tersedia
4. Lingkungan yang tidak sehat dan bersih.
Selanjutnya dapat diidentifikasi masalah yang berhubungan langsung dengan masalah utama tersebut di atas adalah kurangnya kegiatan Perawatan Kesehatan Masyarakat oleh petugas yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Kurangnya kerjasama lintas program terkait.
2. Kurangnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
3. Kurangnya kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan pada perawat)
4. Kurangnya motivasi petugas.
B. Sasaran.
Dengan adanya identifikasi masalah diatas, maka penulis dapat mengemukakan sasaran yang ingin dicapai dalam rangka menuju pemecahan masalah . Adapun sasaran yang dimaksud adalah seperti di bawah ini.
Terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka kegiatan Perkesmas diakibatkan dari tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap masalah kesehatan. Penurunan angka kesakitan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Tertanggulanginya suatu penyakit di masyarakat
2. Terwujudnya peningkayan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas (bidan dan perawat).
3. Tersedianya keakuratan data.
4. Terwujudnya lingkungan yang sehat dan bersih
Sedangkan yang menyebabkan terwujudnya peningkatan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat oleh petugas adalah :
1. Terwujudnya peningkatan kerjasama lintas program terkait.
Dengan sudah dilaksanakannya pelatihan petugas perawatan kesehatan masyarakat. Petugas dari perogram terkait sudah memahami dan mengerti tentang pelaksanaan dari Program Puskesmas. Bahwa program Puskesmas sangat mendukung untuk program puskesmas lainnya tertutama dalam pencapaian cakupan program Kesehatan Ibu dan Anak dan program Pemberantasan Penyakit menular temasuk Imunisasi.Program KIA dan Imunsasi adalah program primadona. Untuk program KIA dalam hal pencapaian cakupan K.1 dan K.4, sedangkan untuk pelayanan program Imunisasi petugas Puskesmas melakukan pembinaan pada keluarga DO (Drop Out).Dari program Gizi petugas Puskesmas membantu dalam hal pembinaan kelarga yang mempunyai bayi, anak balita, yang berat badannya berada dibawah garis merah (Balita BGM) dan ibu hamil /ibu nifas yang kekuranan enegi sera membantu dalam hal pelaksanaan pemberian makanan tambahan (PMT). Untuk program pemberantasan Penyakit Menular (P2M) petugas Puskesmas membantu memberikan bimbingan serta tindak lanjut untuk kasus-kasus penyakit menular maupun tidak menular.
2. Tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Dengan terpenuhinya sarana dan prasarana khususnya peralatan medis dan ruangan yang memadai dalam melaksanakan kegiatan akan menimbulkan suasana yang nyaman dan leluasa sehingga dapat membuat jiwa kita menjadi tenang. Adanya peralatan medis khusus untuk kegiatan program Puskesmas yang dipunyai oleh masing-masing petugas (bidan dan perawat) akam memudahkan kegiatan Puskesmas di masyarakat. Dan program perawatan kesehatan masyarakat bisa berjalan dengan lancar.
3. Terwujudnya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas (bidan dan perawat).
Seperti sudah diuraikan pada bab terdahulu bahwa kendala/hambatan yang ditemui dalam upaya peningkatan pelaksanaan kegiatan Perkesmas adalah faktor manusia sebagai pelaksana yang mempunyai kelemahan, yaitu kurangnya kemampuan/keterampilan petugas untuk melaksanakan tugas keperawatan.
Sebagai pendukung kelancaran dan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas bagi petugas bagi petugas khususnya perawat, bidan dan bidan-bidan didesa perlu adanya pelatihan, pembinaan yang terus menerus oleh atasan langsung atau dari pihak yang berkepentingan, melaksanakan petunjuk teknis pelajaran.
Dengan adanya usaha tersebut diatas diharapkan akan meningkatkan kemampuan/keterampilan bagi petugas Perkesmas, sehingga kegiatan perkesmas dapat dilaksanakan secara optimal dan pada akhirnya akan terjadi peningkatan, baik disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pelayanan terhadap masyarakat maupun disegi pencapaian cakupan/hasil kegiatan.
4. Terwujudnya motivasi kerja petugas.
Terwujudnya motivasi kerja dalam melaksanakan kegiatan Perkesmas tidak lepas dari kemampuan/keterampilan petugas serta tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Hal ini secara tidak langsung membantu memotivasi petugas untuk melaksanakan tugas dengan baik. Motivasi kerja petugas dilihat dari keaktifan petugas dalam membina desa binaan.
C. Alternatif Pemecahan.
Selanjutnya guna mengidentifikasi pemecahan masalah dan penetuan sasaran yang ingin dicapai, maka perlu dibuat beberapa alternatif sebagai acuan untuk menuju rangkaian pemecahan masalah sehingga terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas khususnya perawat, bidan, dan bidan-bidan desa melalui kegiatan-kegiatan seperti :
1. Melaksanakan study banding ke Puskesmas teladan.
2. Melaksanakan pelatihan petugas perkesmas.
3. Melaksanakan pembinaan.
4. Melaksanakan pembuatan petunjuk teknis pelajaran.
Dari beberapa kegiatan tersebut diatas kegiatan yang bisa dilaksanakan dan berpengaruh langsung terhadap peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas yaitu kegiaatan pelatihan bagi perawat, bidan dan bidan-bidan desa selaku pelaksana kegiatan Perkesmas.
Dengan adanya peningkatan kemampuan/keterampilan petugas Perkesmas oleh petugas yang selanjutnya akan memungkinkan tercapainya penurunan angka kesakitan pada keluarga rawan yang rentan terhadap maslah kesehatan dan pada akhirnya memungkinkan terwujudnya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Dengan adanya strategi pemecahan masalah dari sasaran yang diharapkan, dapatlah ditentukan sasaran umum dan sasaran khusus dari rencana kerja yang ingin dicapai. Adapun sasaran umum dan saran khusus yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Sasaran Umum :
Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perkesmas melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas.
2. Sasaran Khusus :
Terwujudnya peningkatan kemampuan /keterampilan petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat (bidan dan perawat) melalui pelaksanaan pelatihan petugas Perkesmas
D. Langkah-Langkah Kegiatan.
Kegiatan yang kiranya diselenggarakan guna mencapai sasaran adalah dengan melaksanakan pelatihan petugas perawatan Kesehatan Masyarakat untuk mewujudkan peningkatan kemampuan/keterampilan bidan perawat.
Kegiatan tersebut diatas pelaksanaannya dapat dibagi menjadi beberapa tahapan kegiatan antara lain :
1. Persiapan yang terdiri dari pembentukan panitia, pencairan dana, pembuatan jadwal, penyiapan perlengkapan serta pemberitahuan peserta pelatihan.
2. Pelaksanaan terdiri dari pembukaan pelatihan, penyajian materi serta penutup.
3. Pengendalian meliputi pemantauan, penilaian serta pelaporan dari semua kegiatan yang dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, 1993, Jakarta, Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat
Depkes RI, 1996, Jakarta, Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat.
Senin, 24 Januari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)