Kamis, 03 Februari 2011

KONSEP DASAR INFEKSI

KONSEP DASAR INFEKSI
Oleh : JunaedI
Definisi
Infeksi adalah masuknya kuman patogen dalam tubuh dan berkembang biak serta menimbulkan gejala-gejala infeksi. (Barbara C. Long)
Infeksi adalah kolonisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan bersifat membahayakan inang. Organisme penginfeksi, atau patogen, menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak diri, yang pada akhirnya merugikan inang. Patogen mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik, gangrene, kehilangan organ tubuh, dan bahkan kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara umum, patogen umumnya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik, walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakup bakteri, parasit, fungi, virus, prion, dan viroid.
Simbiosis antara parasit dan inang, di mana satu pihak diuntungkan dan satu pihak dirugikan, digolongkan sebagai parasitisme.

"Kolonisasi" mengacu pada mikroorganisme yang tidak bereplikasi pada jaringan yang ditempatinya. Sedangkan "infeksi" mengacu pada keadaan di mana mikroorganisme bereplikasi dan jaringan menjadi terganggu. Semua organisme multisel mengalami kolonisasi oleh organisme lain sampai dengan tahap tertentu, yang umumnya bersifat mutualisme atau komensalisme. Contoh yang bersifat mutualisme adalah spesies bakteri anaerobik yang mengkolonisasi kolon manusia, sedangkan yang komensalisme adalah beberapa spesies staphylococcus pada kulit manusia. Jenis kolonisasi semacam itu tidak digolongkan sebagai infeksi. Perbedaan antara infeksi dan kolonisasi seringkali tergantung pada situasi dan kondisi. Organisme yang umumnya non-patogen bisa menjadi patogen pada kondisi tertentu. Selain itu, organisme yang sangat virulent sekalipun memerlukan kondisi tertentu untuk dapat menyebabkan infeksi yang berarti. Beberapa bakteri koloni, misalnya Corynebacteria sp. dan viridans streptococci, menghalangi pelekatan dan kolonisasi yang dilakukan oleh bakteri patogen, sehingga memberikan keuntungan bagi inang dengan mencegah infeksi dan mempercepat sembuhnya luka.
Patogen (Bahasa Yunani: παθογένεια, "penyebab penderitaan") adalah agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya. Umumnya istilah ini diberikan untuk agen yang mengacaukan fisiologi normal hewan atau tumbuhan multiselular. Namun, patogen dapat pula menginfeksi organisme uniselular dari semua kerajaan biologi. Ada beberapa substrat dan cara yang dapat digunakan patogen untuk menyerang suatu inang.
Dalam medis, penyakit menular atau penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan).
Mikroorganisme patogen adalah mikroorganisme atau bahan yang bisa menimbulkan penyakit.
Patogenitas adalah kemampuan kuman patogen menulari dan menimbulkan penyakit, ditentukan oleh kemampuan kuman untuk bisa bertahan hidup dan memperbanyak diri diluar tubuh orang, virulen, dosis, hospes yang dipilih.
Masa Inkubasi adalah Periode waktu setelah kuman patogen masuk kepada yang dihuni (hospes) sebelum timbul gejala-gejala infeksi.
Akut adalah serangan yang berlangsung cepat, respon segera dari yang diserang, gejala-gejala parah/berat, biasanya dalam waktu singkat.
Kronik adalah serangan yang berlangsung lambat. Respon dari yang diserang lambat, gejala-gejala ringan, berlangsung dalam jangka waktu panjang.
Kontaminasi adalah terdapatnya mikroorganisme atau bahan pada obyek yang tidak diketahui atau pada bahan tertentu.








TAHAPAN PROSES INFEKSI
1. Periode Inkubasi
Interval antara masuknya patogen kedalam tubuh dan munculnya gejala pertama (mis. Campak 2-3 mgg; pilek 1-2 hari, influenza 1-3 hr, gondong (mumps) 18 hari).
2. Tahap Prodromal
Interval dari awitan tanda dan gejala non spesifik (malaise, demam ringan, keletihan) sampai gejala spesifik muncul. (selama masa ini, mikroorganisme bertumbuh dan berkembang biak dan klien lebih mampu menyebabkan penyakit ke orang lain).
3. Tahap Sakit
Interval saat klien memanifestasikan tanda dan gejala spesifik terhadap jenis infeksi (mis : demam dimanifestasikan dg sakit tenggorokan, kongsti siunus, rinitis, mumps dimanifestasikan dengan sakit telinga, demam tinggi, pembengkakan kelenjar parotid dan saliva).
4. Tahap Pemulihan
Interval saat munculnya gejala akut infeksi (lamanya penyembyhan tergantung pada beratnya infeksi dan keadaan umum kesehatan klien; penyembuhan dapat memakan waktu beberapa hari sampai bulan)
INFLAMASI ATAU PERADANGAN
Respon inang terhadap infeksi adalah peradangan atau inflamasi dimana mikroorganisme patogen sudah berkembang biak dan mulai menimbulkan manifestasi klinik.

Manifestasi Klinik Inflamasi atau Peradangan adalah sebagai berikut :
1. Kalor atau panas atau hangat
Disebabkan karena hypervaskularisasi lokal pada tempat terinfeksi dan adanya sisa metabolisme kalor daripada antibodi.

2. Dolor atau nyeri
Adanya persepsi nyeri yang disebabkan karena adanya kerusakan jaringan karena mikroorganisme patogen tersebut akibat pengaruh zat pada ujung saraf perasa yang dilepaska oleh sel cedera, zat ini mungkin histamin.
3. Rubor atau kemerahan
Adanya kemerahan pada daerah yang terinfeksi. Hal ini disebabkan karena adanya vasodilatasi vaskuler lokal yang mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat berlebihan.
4. Tumor atau penumpukan cairan
Adanya kenaikan permeabilitas kapiler disertai dengan kebocoran banyak sekali cairan terutama larutan garam-garam dan larutan koloid (albumin, globulin dan fibrinogen) ke dalam ruang interstitial sehingga terjadi edema atau terjadi pembekuan cairan dalam ruang interstitial oleh fibrinogen dan protein lainnya yang bocor dari kapiler dalam jumlah berlebihan sehinga terjadi pembengkakan.
5. Functiolaesa
Adanya penurunan fungsi atau daya gerak pada jaringan yang terkena infeksi karena terjadi pembengkakan dan kerusakan jaringan sel terinfeksi.


PATOFISIOLOGI PERADANGAN
Gambar 2. Patofisiologi Peradangan















REAKSI SEL PADA PERADANGAN
Setelah aliran dalam pembuluh menjadi lambat, maka lekosit-lekosit melekat pada sel-sel endotel pembuluh (marginasi). Makin lama makin banyak sel lekosit yang melekat.

Sel-sel endotel pada radang mendadak menggelembung. Dengan pergerakan ameboid lekosit menyusup antara sel endotel dan kemudian keluar (emigrasi) keluar dari pembuluh darah ke jaringan arena tertarik oleh substansi yang dikeluarkan patogen dan zat-zat yang dikeluarkan sel radang. Pergerakan ini disebut Kemotaksis.

Teori Fagositosis :
Leukosit yang berada pada jaringan radang akan melekat pada dinding kuman patogen, hal ini dikarenakan adanya zat anti dari serum setelah infeksi di jaringan akan bersatu dengan antigen kuman sehingga dinding kuman berubah dan dapat dilekati oleh lekosit. Zat tersebut disebut Opsonin, yang termasuk golongan protein globulin.

Setelah lekosit melekat pada dinding kuman maka kuman akan bisa tertarik dan masuk pada lekosit dan kemudian dihancurkan.

Berbagai Jenis Lekosit :
• Polimorfonukleus (PMN) : netrofil, eosinofil dan basofil.
• Monosit;
• Limfosit.

Jumlah lekosit yang beredar antara 5000 – 8000/mm3. Pembagian prosentase lekosit kurang lebih 60% netrofil, 30% limfosit, 6% monosit, 3% eosinofil dan 1% basofil.

Polimorfonukleus (PMN)
Sel ini berasal dari mielosit sumsum tulang. Pada radang akut yang disertai pus (=nanah), sel ini akan meningkat jumlahnya sampai 20% atau lebih dari seluruh lekosit.
Netrofil; merupakan sel pertama yang tiba saat terjadai peradangan.
Eosinofil dan basofil; sel ini akan meningka pada reaksi alergi dan reaksi stress.

Monosit
Sel ini beperan dalam rekasi fagositosis kuman.

Limfosit; terdiri dari sel B dan sel T, memainkan peranan utama dalam imunitas humoral.

Eritrosit pada radang juga akan dapat melalui dinding kapiler dan masuk ke dalam jaringan, sehingga cairan radang akan berwarna kemerahan dan disebut radang hemoragik.

ABSES
Pada peradangan oleh stafilokokus akan menebabkan banyaknya penimbunan lekosit. Bila infeksi stafilokokus disertai dengan nekrosis jaringan (kematian jaringan), maka jaringan nekrotik ini kemudian akan mencair sehingga terjadi rongga. Rongga yang berisi cairan kental yang mengandung sisa-sisa jaringan yang telah mencair dan sisa-sisa lekosit yang musnah dinama Abses. Isi Abses adalah nanah (pus).

Pencairan jaringan nekrotik akan dipercepat karena lekosit yang musnah akan melepaskan enzim proteolitik, yaitu trypsin.

Jadi, Abses adalah rongga yang berisi nanah, sedangkan jaringan disekitar abses banyak mengandung lekosit yang sudah musnah.

Pecahnya molekul-molekul roein menjadi lebih kecil-kecil menyebabkan tekanan osmotik dalam abses akan meningkat sehingga cairan limfe diserap kedalam abss sehingga tekanan semakin meningkat yang menimbulkan abses semakin membengkak dan menimbulkan nyeri.














Patofisiologi Abses

























DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN INFEKSI DAN PERADANGAN

1. Discomfort disturbance : pain related to tissue discontinuitas;
2. Calor increasing / fever related to antigen antibody mechanisme respone;
3. Infection related to patogen microorganisme entry;
4. Descreasing of serum volume at vaskuler related to increasing capillary permeability;
5. Potencial of sleep disturbance related to pain, calor increasing.
6. etc.



SRIS (SYNDROMA RESPONS INFLAMASI SYSTEMIC)

DEFINISI

Hayden telah mengadaptasi konferensi konsensus American College of Chest Physicians (ACCP) dan Society of Critical Care Medicine (SCCM) untuk terminologi penyakit anak sebagai berikut:
Bakteremia: adanya bakteri didalam darah.
Infeksi: proses mikrobial yang ditandai dengan adanya respons inflamasi terhadap adanya mikroorganisme (bakteri, virus, parasit) atau invasi jaringan yang secara normal steril oleh organisme tersebut.
Sindroma respons inflamasi sistemik (SRIS): respons sistem terhadap berbagai kelainan klinis berat (misalnya infeksi, trauma, luka bakar). Sindroma tersebut muncul bila ditemukan dua atau lebih keadaan berikut ini:
- suhu tubuh > 380C atau < 360C - denyut jantung per menit > 2 SB diatas nilai normal untuk umur
- laju nafas per menit > 2 SB diatas nilai normal untuk umur
- hitung leukosit > 12 x 109/L (12.000/mm3), < 4 x 109/L (4.000/mm3) atau > 10% sel batang.
Sepsis: respons sistemik terhadap infeksi (SRSIS plus infeksi)
Sepsis berat: sepsis yang disertai disfungsi organ, hipotensi atau hipoperfusi; gangguan perfusi dapat berupa (tetapi tidak terbatas dengan hal ini saja) asidosis laktat, oliguria, atau penurunan status mental akut.
Syok septik: sepsis yang disertai hipotensi walaupun telah diberi resusitasi cairan adekuat, ditambah gangguan perfusi seperti pada sepsis berat. Anak dapat mengalami gangguan perfusi walaupun belum ditemukan hipotensi atau sedang mendapat terapi inotrop atau presor.
Hipotensi: tekanan darah sistolik > 2 SB dibawah rata-rata (disarankan memakai tekanan darah arterial rata-rata (TDAR)/mean arterial blood pressure [MAP] karena TDAR mencerminkan tekanan perfusi organ). Kegagalan sirkulasi terjadi bila:
- MAP < 40 mmHg untuk usia 3-6 bulan - MAP < 45 mmHg untuk usia 6-12 bulan - MAP < 50 mmHg untuk usia 1-4 tahun - MAP < 55 mmHg untuk usia 4-10 tahun - MAP < 60 mmHg untuk usia 10-14 tahun - MAP < 65 mmHg untuk usia 14-18 tahun TDAR dapat diukur langsung atau dihitung dengan rumus: TDAR = (tekanan sistolik) + ( 2 x diastolik) : 3 Sindroma disfungsi organ multipel (SDOM) (multiple organ disfunction syndrome [MODS]): terjadinya penurunan fungsi organ pada anak sakit akut berat sehingga homeostasis tidak dapat dipertahankan tanpa intervensi. Gambar 2. Progresi dari infeksi sampai sepsis, syok septik, dan disfungsi organ multipe Dikutip dari Powell, 2000 PATOFISIOLOGI SRIS Respons inflamasi sistemik timbul bila benda asing di dalam darah atau jaringan diketahui oleh tuan rumah. Respons ini bertujuan untuk menetralisir mikroorganisme dan produknya sampai bersih, tetapi dapat terjadi efek negatif pada tuan rumah, terutama kerusakan jaringan. Sitokin proinflamasi dan antiinflamasi yang diaktifkan di ruang intravaskular melalui kehadiran material mikroba mempunyai efek merusak. SRIS dapat diikuti oleh bakteremia atau pengeluaran produk toksis pada tempat infeksi. Pada sepsis gram-negatif, sitokin faktor nekrosis tumor  (TNF ) dapat diinduksi oleh endotoksin dalam sirkulasi dan kemudian dikeluarkan interleukin-1 (IL-1). Kedua zat tersebut menyebabkan berbagai sekuele fisiologis pada keadaan sepsis, misalnya perubahan set point suhu tubuh, baik demam maupun hipotermia, perubahan tahanan vaskular dan permeabilitas pembuluh darah, gangguan fungsi jantung, gangguan pada sumsum tulang, termasuk peningkatan produksi sel darah putih dan efek metabolik yang difasilitasi melalui aksi langsung terhadap enzim dan aksi tidak langsung melalui perubahan kadar substrat. Dengan eskalasi derajat beratnya respons, efek sitokin terhadap berbagai end organ disebabkan oleh mediator seperti nitrik oksida, prostaglandin, faktor pengaktivasi platelet, dan derivat lipooksigenase. Mediator tersebut terutama mengganggu koagulasi dan sistem fibrinolisis dan menyebabkan koagulopati intravaskular diseminata (KID). Gambar 3. Hipotesis patofisiologi terjadinya sepsis DIAGNOSIS BANDING SRIS Sepsis merupakan salah satu penyebab SRIS, yang mempunyai penyebab non infeksi. Karena manifestasi klinis sepsis sangat bervariasi, maka diagnosis banding sepsis sangat banyak, termasuk penyebab non infeksi. Tabel 1. Diagnosis banding sepsis Infeksi - Bakteriemia/meningitis (Streptokokus pneumonia, Haemofilus influenza tipe b, Neisseria meningitidis) - Penyakit virus (influenza, enterovirus, kelompok demam hemoragik, HSV, RSV, CMV, EBV) - Ensefalitis (arbovirus, enterovirus, HSV) - Rikettsiae (Rocky Mountain spotted fever, Ehrlichia, Q fever) - Sifilis - Reaksi vaksin (pertusis, virus influenza, campak) - Reaksi toxin-mediated (syok toksik, Staphylococcal Scalded Skin Syndrome) Kardiopulmonal - Pneumonia (bakteri, virus, mikobakteri, jamur, reaksi alergi) - Emboli pulmonal - Gagal jantung kongestif - Aritmia - Perikarditis - Miokarditis Metabolik-Endokrin - Insufiensi adrenal (Sindrom adrenogenital, gejala putus kortikosteroid) - Gangguan elektrolit (Hipo- atau hipernatremia, hipo- atau hiperkalsemia ) - Diabetes insipidus - Diabetes melitus - Gangguan metabolik (asidosis organik, urea cycle, defisiensi karnitin). - Hipoglikemia - Sindroma Reye Gastrointestinal - Gastroenteritis dengan dehidrasi - Volvulus - Intususepsi - Apendisitis - Peritonitis (spontan, akibat dari perforasi atau dialysis peritoneal) - Hepatitis - Perdarahan Hematologi - Anemia - Methemoglobinemia - Splenic sequetration crisis - Leukemia atau limfoma Neurologi - Intoksikasi (obat-obatan, CO, overdosis) - Perdarahan intrakranial - Infant botulism - Trauma - Sindroma Guillain-Barre - Myasthenia gravis Lain-lain - Anafilaksis (makanan, obat-obatan, sengatan serangga) - Sindrom hemolitik-uremik - Sindrom Kawasaki - Eritema multiform - Sindrom syok hemoragik-ensefalopati Dikutip dari Powell, 2000 MANIFESTASI KLINIS SRIS Infeksi serius dapat terjadi tiba-tiba, mengikuti gejala prodromal atau gejala klinisnya ringan dulu sebelum menjadi berat. Manifestasi klinis yang mungkin terjadi pada tahap awal atau tahap lanjut penyakit sangat bervariasi tetapi pada umumnya spesifik untuk usianya. Sebagai contohnya bayi sepsis, sering letargis, malas makan, suhu tubuh tidak stabil, sulit bernafas dan cenderung hipoglikemia. Sebaliknya, anak yang lebih besar mungkin menunjukkan tanda suhu yang naik, mungkin tidak diketahui oleh orang tua, atau mengeluh sakit kepala, mual atau kaku, menjadi bingung atau kejang dan koma. Sangat penting untuk mengenal berbagai penyebab yang paling mungkin untuk setiap tanda dan gejala, misalnya meningkatnya upaya nafas mungkin sekunder karena hipoksemia, hiperkarbia, inflamasi susunan saraf pusat, gangguan keseimbangan asam-basa, atau patologi paru primer. Manifestasi klinis yang sering ditemukan Sistemik Manifestasi sistemik meliputi demam (sering > 38,50C), suhu tubuh harus diperiksa tanpa melihat usia. Pada neonatus demam mungkin tidak ada. Bila ada, suhu 380C sudah merupakan indikasi untuk pencarian sepsis. Pada anak dibawah usia 3 tahun, adanya demam tinggi (>39,50C) harus meningkatkan kewaspadaan adanya bakteremia terselubung. Pada bayi suhu yang tidak stabil timbul bila suhu inti tubuh (suhu rektal) berfluktuasi diatas 370C atau dibawah 360C dalam 4 jam.
Penampilan menyeluruh sangat penting. Apakah anak tampak tidak sehat? Bila demikian, apakah ia sakit (distres atau agitasi), atau sakit kritis (letargis, tidak responsif)? Pada bayi bagaimana perhatian dan kemampuan minumnya? Anak yang tidak sehat tetapi tampak stabil memerlukan penilaian ulang yang sering untuk mendeteksi berbagai perubahan status yang menunjukkan progresifitas penyakitnya, yang dapat terjadi dengan cepat terutama pada bayi yang sangat muda.
Neurologis
Adanya tanda neurologis dapat menunjukkan infeksi serius. Tanda ini meliputi penurunan kesadaran yang jelas, misalnya iritabel, letargis, tidak ada kontak dengan sekeliling, tidak memberi respons yang sesuai terhadap stimuli, menangis lemah, hipotonia atau hipertonia, gerakan abnormal atau kejang yang nyata.
Kardiovaskular
Tanda kardiovaskular dari infeksi serius adalah peningkatan denyut jantung/takikardia (bradikardia mungkin ditemukan pada neonatus), perfusi perifer tidak adekuat, waktu pengisian kapilar memanjang (> 2 detik), ekstremitas dingin, produksi urin menurun (< 1 ml/kgBB/jam). Adanya syok, baik hangat (hipotensi dan vasodilatasi perifer) atau dingin (hipotensi dan vasokonstriksi perifer) atau tanda ancaman gagal sirkulasi merupakan sentral dari presentasi penyakit infeksi kritis. Respirasi Peningkatan laju respirasi atau upaya bernafas (neonatus cenderung menjadi apneu) menyebabkan berbagai derajat distres pernafasan, warna kulit pucat, dan mungkin sianosis yang jelas. Gastrointestinal Tanda gastrointestinal meliputi malas makan, cenderung muntah atau mencret (anoreksia dapat muncul), distensi abdomen dengan atau tanpa nyeri, organomegali (terutama liver), dan kemungkinan ileus. Kulit Kulit mungkin pucat, dan berbercak atau keabuan, dan ruam mungkin muncul, eksantema tertentu berhubungan dengan keadaan penyakit tertentu. Perhatikan dengan baik adanya petekie, purpura atau tanda perdarahan di membrana mukosa (indikasi kemungkinan adanya koagulasi intravaskular diseminata/KID). Lain-lain Setiap sistem organ dapat mengalami malfungsi yang berhubungan dengan aspek spesifik dari sepsis, misalnya efek metabolik meliputi hipoglikemia, hipokalsemia, atau konsekuensi gagal ginjal atau hati. PENILAIAN KLINIS PRIMER SRIS Nilai tanda vital (denyut jantung, laju nafas, tekanan darah, suhu tubuh). Anak demam dengan bradikardia signifikans mungkin sedang mendapat ancaman gagal sirkulasi. Takikardia terutama pada anak kecil, mungkin menunjukkan peningkatan denyut jantung kompensasi untuk mempertahankan curah jantung. Peningkatan laju respirasi dapat menunjukkan fokus infeksi paru lokal, edema pulmonal, atau kompensasi respirasi atau asidosis laktat sekunder terhadap gangguan penurunan perfusi. Penilaian kecukupan sirkulasi harus meliputi pengukuran tekanan darah tetapi harus juga meliputi indikator perfusi yang luas (pucat, suhu kulit, kualitas nadi) dan status mental (agitasi, tidak siaga terhadap lingkungan sekitarnya dan respons tidak sesuai dengan stimulus, atau penurunan derajat kesadaran yang nyata). Proteksi jalan nafas dan pemberian suplemen oksigen sangat penting pada anak sakit kritis yang diduga sepsis. Akses vaskular harus dipasang segera dan bolus cairan kristaloid, misalnya NaCl 0,9% 10-20 ml/kgBB harus difikirkan bila perfusi tampak dalam perbatasan atau tidak adekuat. Perbaikan denyut jantung dan perfusi sesudah bolus mengkonfirmasi adanya hipovolemia fungsional. Bolus cairan harus sering diulang beberapa kali pada sepsis berat. PEMERIKSAAN DAN PERAWATAN SELANJUTNYA PEMERIKSAAN FISIS LENGKAP • Ulang pemeriksaan tanda vital (yakinkan pemeriksaan tekanan darah tidak terlewat); fikirkan pencatatan skala koma Glasgow. • Kepala: periksa fundi (papiledema atau tanda endokarditis infektif), selalu periksa telinga untuk otitis media sebagai fokus infeksi. Singkirkan selulitis, sinusitis, benda asing di hidung, abses peritonsilar atau gigi dan faringitis. • Leher: kaku kuduk harus selalu diperiksa dan dicatat ada atau tidak ada. Bila disangka ada meningitis, nilai keamanan punksi lumbal diagnostik: bayi harus bebas jalan nafasnya, usaha nafas cukup dan tidak ada gangguan sirkulasi yang nyata (posisi yang diperlukan untuk punksi lumbal restriktif dan dapat mempresipitasi perburukan akut). Pada setiap anak, adanya tanda neurologis terlokalisir, kecurigaan adanya lesi desak ruang atau kemungkinan adanya peningkataan tekanan intrakranial memerlukan pemeriksaan CT scan sebelum punksi lumbal. Limfadenopati servikal sering terjadi pada bayi tetapi kelenjar yang besar atau pembesaran kelenjar multipel merupakan kelainan yang signifikans. Kelenjar jugulodigastrik pada sudut rahang adalah tempat drainase telinga tengah dan bantalan tonsil. Kelenjar servikalis posterior sering membesar karena infeksi kulit kepala atau infeksi yang mengenai rongga hidung posterior, dan juga karena rubela. • Paru: mungkin ditemukan tanda kelainan lokal. • Jantung: adanya murmur baru harus meningkatkan kecurigaan terhadap endokarditis. • Abdomen: cari nyeri tekan terlokalisir, masa atau tanda ileus. Pada pemeriksaan rektal dicari adanya nyeri, masa, atau darah). Pada bayi, bila pemeriksaan suhu rektal menyebabkan keluarnya feses encer, mungkin ada gastroenteritis. • Sistem muskuloskeletal: adanya nyeri, bengkak sendi, efusi, masa dan eritema menunjukkan adanya fokus infeksi. Rasa nyeri diatas tulang mungkin karena osteomielitis. • Kulit: cari selulitis, abses, purpura, petekie, bukti emboli, ruam, dan pemeriksaan yang seksama pada tempat integritas kulit terbuka (misalnya anak yang terpasang infus atau kateter urin). PEMERIKSAAN ADANYA INFEKSI Semua sumber infeksi baru harus diperiksa, dan kemungkinan penyebarannya harus dicari. Pemeriksaan laboratoris selalu diperlukan bila dicurigai adanya bakteremia, pneumonia atau meningitis. 1. Pemeriksaan sel darah putih. Leukositosis (walaupun tidak spesifik) menunjukkan adanya infeksi terutama bila > 15 x 109/L (15.000/mm3) dengan pergeseran ke kiri; leukositopenia dapat terjadi pada sepsis berat. Pada neonatus respons sel darah putih mungkin tidak terjadi karena kegagalan respons imun yang memadai. Jumlah sel darah putih dibawah 5 x 109/L (5000/mm3)atau diatas 30 x 109/L (30.000/mm3) menunjukkan adanya infeksi, terutama bila ada peningkatan jumlah sel muda (batang). Neutropenia adalah jumlah neutrofil absolut dibawah 1,0 x 109/L (1.000/mm3). Makin sedikit jumlahnya makin besar risiko infeksi seriusnya.
2. Jumlah trombosit. Bila trombositopenia < 100 x 109/L (100.000/mm3) fikirkan pemeriksaan koagulasi fibrinogen dan produk degradasi fibrin (koagulopati intravaskular diseminata [KID]). 3. Kultur dan pewarnaan Gram dari darah, cairan serebrospinal, urin, dan apusan atau cairan dari tempat yang terinfeksi. Siapkan kultur ulangan lebih awal (terutama bila diduga ada infeksi meningen), bila ditemukan gejala penyakit tetapi hasil kultur negatif. Kunci diagnosis akan hilang bila kesempatan untuk mengulang kultur tidak dilakukan. 4. Urinalisis. Untuk mencari sel darah merah, sel darah putih, bakteri dan nitrit, hemoglobin dan kas. 5. Laju endapan darah. Abnormal > 15 mm/jam dalam hari pertama kehidupan, > 30 mm/jam untuk berikutnya. Kesalahan pengukuran terjadi bila kelebihan alkohol sebelum pengambilan sampel darah kapilar, ada bekuan, KID, dan penyakit hemolitik dengan uji Coomb positif.
6. Radiografi dada. Biasanya relevan, terutama pada anak kecil yang diduga sepsis tetapi tidak ditemukan fokus infeksinya. Pemeriksaan radiologi lainnya berdasarkan anamnesis dan tanda fisis yang ditemukan.
7. Imunoelektroforesis, uji aglutinasi lateks, dan ELISA harus difikirkan untuk identifikasi antigen bakteri dari urin, darah atau cairan tubuh lainnya (misalnya streptokokus grup B, E. coli , Hib, pneumokokus, meningokokus).
8. Pemeriksaan laboratorium lainnya. Analisis gas darah arteri, urea, elektrolit, glukosa, uji fungsi hati. Untuk deteksi petanda infeksi serta membedakan SRIS dan sepsis, dapat dilakukan pemeriksaan prokalsitonin (PCT) dan protein C reaktif (CRP).
9. Pewarnaan Gram dari buffy coat sampel darah mempunyai nilai prediktif 50% untuk sepsis bakterial.
10. Pemeriksaan khusus sesuai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisis.
PEMANTAUAN
1. Observasi ketat tanda ancaman gagal nafas.
2. Observasi ketat tanda penurunan perfusi atau bukti adanya ancaman syok.
3. Pulse oximetry dan ECG (irama dan denyut jantung).
4. Tanda vital regular, dengan perhatian khusus pada kecenderungan dan respons terhadap a) bantuan hidup dasar, b) intervensi pengobatan.
5. Ulangi pemeriksaan laboratorium bila hasilnya abnormal (analisis gas darah dan kimia darah tiap 4 jam, hematologi tiap 12 jam, uji fungsi hati tiap hari).
6. Pemantauan lain sesuai indikasi adanya syok, gagal nafas, atau untuk tunjangan sistem organ, misalnya tekanan darah arterial dan/atau tekanan vena sentral.
PEMBERIAN ANTIBIOTIK
Anak dengan tanda infeksi serius dengan atau tanpa syok memerlukan pengobatan yang segera dengan antibiotik spektrum luas.
Anak sepsis dan ada bukti imunokompromais (misalnya neutropenia, mendapat terapi kanker, HIV positif, asplenia) juga memerlukan pemberian antibiotik segera.
Makin muda usia anak dan makin toksis penampilannya, harus makin cepat pemberian antibiotiknya. Pada neonatus antibiotik harus segera dimulai untuk mengantisipasi kemungkinan kultur kuman positif, dan diagnosis sepsis harus difikirkan pada setiap bayi sakit. Berikut adalah faktor risiko tetapi salah satu atau semuanya mungkin tidak ditemukan: prematuritas, ketuban pecah dini ( > 24 jam), ibu demam intrapartum ( >380C), kolonisasi berat streptokokus grup B pada ibu, asfiksia perinatal, aspirasi mekonium atau masalah perinatal lainnya.
Pemilihan antibiotik ditentukan oleh:
• Mikroorganisme yang paling mungkin pada anak usia tersebut
• Hasil kultur dan sensitivitas
• Alergi terhadap obat
Anak tidak perlu mendapat antibiotik sampai diagnosis penyebab infeksi ditegakkan bila:
a) anak tidak tampak toksis
b) imun kompeten
c) tidak mempunyai sumber spesifik dan tidak mempunyai tanda spesifik atau anamnesis yang menunjang untuk demamnya.
Keputusan untuk tidak memberikan antibiotik lebih mudah pada anak yang lebih besar, tetapi batasan untuk memberikan antibiotik pada bayi lebih longgar, terutama pada tahun pertama kehidupan. Kelompok usia ini juga memerlukan pendekatan pemantauan khusus.
TATALAKSANA
Tujuan akhir perawatan anak sakit kritis yang mengalami sepsis sama seperti anak sakit kritis lainnya:
1. Stabilisasi awal komprehensif di rumah sakit.
2. Bekerjasama dengan seluruh spesialis yang berhubungan dengan penyakitnya dan unit perawatan intensif terdekat untuk mendapatkan proses stabilisasi optimal dan memulai proses diagnostik.
3. Tentukan lokasi optimum untuk pengobatan selanjutnya.
4. Rujukan dini ke pusat perawatan dengan level yang lebih tinggi bila perlu.
5. Memberikan perawatan definitif, pemeriksaan diagnostik tambahan, pemantauan yang memadai, memberikan pengobatan tambahan supaya perbaikan cepat dicapai supaya perawatan selanjutnya dapat dilanjutkan di institusi pengirimnya.

STABILISASI AWAL
Perhatian ditujukan kepada upaya mempertahankan jalan nafas, upaya bernafas, dan sirkulasi. Perawatan tambahan terhadap intubasi harus diperhatikan bila ditemukan koagulopati, terutama untuk menghindari perdarahan dari nasofaring posterior bila dilakukan intubasi nasotrakeal. Akses vaskular harus cukup menjamin kecepatan volume cairan infus yang diberikan dan tambahan inotrop bila diperlukan.
Berikan terapi suportif dan spesifik untuk setiap kegagalan sistem organ atau ada ancaman kegagalan sistem organ.
Fikirkan bantuan nafas dini. Antisipasi kebutuhan pemberian tekanan positif akhir ekspirasi yang lebih tinggi dari normal (edema paru sering terjadi pada sepsis dan dapat berlanjut menjadi sindroma distres pernafasan akut [SDPA]). Sedasi dan/atau paralisis menurunkan risiko perdarahan dari tube endotrakeal, trauma iatrogenik karena ventilator, dan mengurangi konsumsi oksigen.
Hantaran oksigen optimal sangat penting, terutama melalui tunjangan sirkulasi yang agresif (preload dan kontraktilitas miokardium, tonus vaskular dan aliran darah ginjal).
Resusitasi cairan awal mungkin diperlukan lebih dari 40 ml/kgBB (60-80 ml/kgBB) dalam jam pertama. Tidak ada data definitif tentang jenis cairan yang optimal untuk resusitasi cairan. Larutan kristaloid Ringer-laktat, Ringer-asetat, dan NaCl 0,9% cukup murah dan mudah didapat sehingga sering dipakai; larutan koloid seperti hetastarch, gelatin, dan dextran merupakan alternatif lain; tranfusi komponen sel darah merah diperlukan bila ada anemia signifikans atau perdarahan aktif untuk mengoptimalkan kapasitas pengangkutan oksigen; gangguan koagulasi memerlukan plasma beku segar dan/atau trombosit. Albumin mungkin hanya diperlukan untuk pasien tertentu.
Penilaian ulang sistem kardiovaskular yang sering sangat penting (termasuk produksi urin dengan target kira-kira 1 ml/kgBB/jam).
Inotrop
Bila tidak ada perbaikan tekanan darah atau tanda perfusi sesudah pemberian dua kali bolus cairan masing-masing 20 ml/kgBB, inotrop harus diberikan. Dopamin biasanya merupakan obat pilihan pertama mulai dengan dosis 5-10 mcg/kgBB/menit dapat dinaikkan bila perlu. Norepinefrin (noradrenalin) merupakan vasopresor yang dipakai untuk hipotensi yang resisten terhadap pemberian bolus cairan plus dopamin dosis tinggi. Epinefrin kadang-kadang memperbaiki tekanan darah dan perfusi pada anak yang gagal dengan inotrop yang lainnya. Dobutamin kurang berguna pada sepsis kecuali gangguan kontraktilitas miokardium merupakan penyebab utama hipotensi dan kegagalan sirkulasi. Dosis inotrop dititrasi sesuai tekanan darah, denyut jantung, dan perfusi organ. Obat dan dosisnya dipilih untuk menghindarkan takikardia berlebihan dan perubahan tekanan darah atau resistensi vaskular yang mendadak. Efek hemodinamik sepsis menyulitkan penyesuaian inotrop. Perubahan variabel hemodinamik setelah penyesuaian inotrop merupakan indikator terbaik. Pada keadaan hiperdinamik yang disebabkan oleh proses infeksi, denyut jantung dan curah jantung biasanya meningkat dan tekanan darah serta tahanan vaskular sistemik menurun. Perburukan sepsis akan diikuti oleh perburukan fungsi ventrikel dan curah jantung. Pemberian inotrop akan menghasilkan penurunan denyut jantung, stabilisasi tekanan darah, perbaikan perfusi dan produksi urin.
Berikan antibiotik yang sesuai dengan dosis yang benar dan kombinasi yang optimal sesuai dengan diagnosis dan usia pasien.
Fikirkan risiko efek simpang obat dan inkompatibilitas. Dapatkan bantuan/konsultasi yang relevan dari bagian lain (anestesi, pediatrik, bedah, bedah saraf, bedah anak) dan dari ICU anak.

TRANSPORTASI PASIEN
Perburukan cepat atau penyakit yang progresif harus diantisipasi pada saat dini atau penyakitnya masih tampak ringan. Kunci lain pemberian perawatan optimal adalah kesiagaan terhadap pasien tertentu yang rentan terhadap perburukan yang cepat (misalnya usia sangat muda, infeksi serius seperti meningokoksemia dan pasien imunokompromais)
Semua anak sakit kritis dengan sepsis sangat rentan terhadap stres fisiologis saat transportasi, terutama dalam perjalanan jauh atau lebih dari satu kendaraan yang harus digunakan (atau pesawat terbang). Pasien tersebut pada umumnya memerlukan perawatan sirkulasi yang sama atau bahkan lebih banyak dari jalan nafas dan ventilasi. Edema paru harus diantisipasi dan tanda klinis peningkatan suara rales/crackles di paru, perburukan saturasi dan/atau perfusi harus segera diatasi dengan meningkatkan tekanan ventilasi. Pemasangan tube endotrakeal dan akses vaskular harus betul-betul baik. Diskusikan dan konfirmasi rencana kecepatan resusitasi cairan optimal untuk menentukan rencana pengobatan saat transportasi. Pasokan cairan intravena harus dibawa dan harus membawa inotrop yang sudah siap pakai dalam infus sebelum berangkat bila sebelumnya tidak memakai inotrop.
Yakinkan rencana pengobatan saat transport berjalan baik, misalnya bila perlu lanjutan pemberian antibiotik di perjalanan, supaya kadar obat dalam darah tetap terjamin.
Pantau saturasi oksigen, perfusi, tekanan darah, denyut jantung, laju nafas dan suhu tubuh, semuanya dicatat dalam flow sheet untuk melihat kecenderungan stabilitas atau perburukan pasien. Kebanyakan pasien anak sakit kritis dipasang kateter urin sehingga produksi urin dapat diukur setiap jam untuk menyesuaikan rencana terapi. Produk darah mungkin diinfuskan atau dibawa dalam perjalanan bila terdapat masalah koagulopati atau anemia. Cara penyimpanan dan identifikasi produk darah harus diperhatikan. Pemeriksaan laboratorium disamping tempat tidur (point of care testing) sangat bermanfaat bila tersedia pada saat transportasi (untuk memantau status asam-basa, hemoglobin, glukosa dan elektrolit).
SYOK SEPTIK DAN SINDROMA DISFUNGSI ORGAN MULTIPEL
Tindakan yang harus segera dilakukan pada anak yang dicurigai sepsis dan ditemukan adanya atau ancaman syok harus mengikuti prinsip A,B,C resusitasi (airway, breathing, circulation) diikuti terapi khusus untuk organisme yang mungkin menjadi penyebabnya.
Pengenalan
Gejala awal yang mendahului kolaps sirkulasi sangat bervariasi, terutama pada bayi. Hal ini memerlukan penilaian yang sangat hati-hati. Pada setiap anak dengan penurunan derajat kesadaran yang tidak bisa diterangkan penyebabnya (iritabel atau letargis), malas makan, muntah, pucat, atau ruam baru harus difikirkan kemungkinan adanya infeksi sistemik. Temuan dini, pengobatan suportif awal, dan memulai pemberian antibiotik dapat mencegah atau mengurangi konsekuensi keadaan klinis yang berat.
Penilaian awal
Pada kontak pertama, penilaian harus dibuat, meliputi derajat kesadaran, kemampuan mempertahankan jalan nafas dan fungsi respirasi. Bila keadaan ini telah dicatat, dan bila perlu pengobatan, maka harus dilakukan penilaian seksama status sirkulasi.
Denyut jantung, tekanan darah, dan waktu pengisian kapilar (normal < 2 detik) harus dinilai dan akses vaskular harus dipasang. Waktu pengisian kapilar yang memanjang (> 5 detik) harus segera diatasi dengan terapi cairan intravena 20 ml/kgBB (misalnya kristaloid NaCl 0,9%); biasanya dapat diulang dengan aman bila efek klinis yang diharapkan belum tercapai.
Pemeriksaan
Bersamaan dengan resusitasi awal diambil sampel darah untuk kultur, pemeriksaan darah lengkap, glukosa darah, elektrolit, tapisan koagulasi, dan reaktan fase akut seperti protein reaktif C. Pemeriksaan lanjutan seperti punksi lumbal dan foto toraks dapat ditunda sampai pasien stabil.
Antibiotik
Pemberian terapi antibiotik empirik untuk mengatasi kuman patogen yang paling mungkin sebagai penyebabnya sangat penting. Pasien infeksi nosokomial dan/atau mendapat akses vaskular sentral memerlukan tambahan antibiotik Gram-negatif (misalnya aminoglikosida) dan/atau tambahan vankomisin.
Penatalaksanaan selanjutnya
Resusitasi selanjutnya harus dipandu oleh penilaian regular tanda vital. Takikardia persisten dan hipotensi dengan waktu pengisian kapilar memanjang sesudah resusitasi cairan 40 ml/kgBB menunjukkan anak dalam gangguan kardiovaskular berat. Fikirkan intubasi semielektif dan ventilasi pada pasien tersebut untuk mempertahankan jalan nafas, memaksimalkan fungsi respirasi dan mengontrol edema paru (yang mungkin sudah timbul dan mungkin bertambah). Keputusan siapa yang akan melakukan intubasi harus dibuat oleh dokter senior dan akan mencerminkan kualitas dan keahlian staf medis lokal. Bila hasil laboratorium sudah ada dapat ditambahkan (tetapi tidak mengganti) estimasi klinis derajat penyakitnya, misalnya leukopenia, trombositopenia dan hipoglikemia.
Tatalaksana ideal selanjutnya akan meliputi pemasangan akses vena sentral dan titrasi pemberian cairan untuk mempertahankan tekanan pengisian jantung kanan (biasanya 8-12 cmH2O). Bila hipotensi persisten walaupun telah diberikan cairan yang adekuat, maka harus diberikan inotrop. Pada umumnya dimulai dengan dopamin 5-15 mcg/kgBB/menit, diikuti oleh epinefrin (adrenalin 0,1-0,5 mcg/kgBB/menit (atau lebih) bila tidak ada respons.
Sangat penting untuk diingat bahwa resusitasi optimal pada anak dengan sepsis dan syok septik tidak bisa ditangani dengan pengobatan tunggal. Pasien demikian harus ditangani secara komprehensif dengan dokter senior dan multidisiplin termasuk dokter di ruang perawatan intensif anak. Rujukan atau konsultasi dini ke ruang perawatan intensif anak harus difikirkan untuk nasihat tatalaksana dan/atau transportasi pasien.

KESALAHAN YANG SERING TERJADI
• Gagal memasang akses intravaskular pada anak syok berat:
- coba akses vena perifer (maksimum 90 detik atau tiga kali tusukan)
- bila gagal, lakukan akses intraoseus untuk terapi cairan dan obat-obatan


• Resusitasi cairan tidak adekuat:
- 20 ml/kgBB bolus cairan awal, diulang 2-3 kali bila perlu, mungkin jumlah totalnya sampai > 100 ml/kgBB
- pemberian terapi cairan yang banyak menunjukkan penyakit yang berat; fikirkan bantuan ventilasi dan titrasi cairan dengan pemantauan tekanan vena sentral (CVP)
• Intubasi dan bantuan ventilasi tidak dilakukan sampai henti kardiorespirasi. Fikirkan intubasi dan bantuan ventilasi semielektif (awal) bila ditemukan:
- penurunan derajat kesadaran
- gangguan kardiovaskular berat misalnya hipotensi, memerlukan terapi cairan yang banyak
- disfungsi respirasi berat, misalnya perlu penambahan suplemen oksigen
- adanya petanda penyakit berat (lihat petanda dibawah ini)
• Gagal mempertahankan stabilitas sesudah respons awal terhadap resusitasi. Indikator beratnya penyakit harus dinilai. Adanya penyakit berat harus difikirkan bila ada petanda berikut ini:
- leukopenia
- trombositopenia
- memerlukan resusitasi cairan yang banyak
- penyakit berjalan sangat cepat (< 6 jam)
- ruam yang menyebar sangat cepat
- tidak ditemukan meningitis
(dua indikator terakhir mengarah ke penyakit meningokokus)
Adanya meningitis berhubungan dengan 50% angka kematian.


KONSEP ASEPSIS

Asepsis; tidak adanya patogen penyebab penyakit.
Teknik Aseptik adalah usaha mempertahankan klien sedapat mungkin bebas dari mikroorganisme. Teknik asepsis dapat aseptik medis dan bedah.

Asepsis Medis atau teknik bersih; termasuk prosedur yang digunakan untuk mencegah penyebaran mikroorganisme. Contoh asepsis medis : mencuci tangan (scrubbing), mengganti linen tempat tidur, menggunakan cangkir obat.

Asepsis Bedah atau teknik steril; merupakan prosedur yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme dari suatu daerah. Sterilisasi adalah teknik untuk membunuh semua mikroorganism dan sporanya. Teknik steril wajib dilakukan saat melakukan prosedur invasif.


PRINSIP-PRINSIP UMUM SEPSIS ASEPSIS DALAM KAMAR BEDAH
a. Prinsip asepsis ruangan
Antisepsis dan asepsis adalah suatu usaha untuk agar dicapainya keadaan yang memungkinkan terdapatnya kuman-kuman pathogen dapat dikurangi atau ditiadakan, baik secara kimiawi, tindakan mekanis atau tindakan fisik. Termasuk dalam cakupan tindakan antisepsis adalah selain alat-alat bedah, seluruh sarana kamar operasi, semua implantat, alat-alat yang dipakai personel operasi (sandal, celana, baju, masker, topi dan lain-lainnya) dan juga cara membersihkan/melakukan desinfeksi dari kulit/tangan
b. Prinsip asepsis personel
Teknik persiapan personel sebelum operasi meliputi 3 tahap, yaitu : Scrubbing (cuci tangan steril), Gowning (teknik penggunaan gaun operasi), dan Gloving (teknik pemakaian sarung tangan steril). Semua anggota tim operasi harus memahami konsep tersebut diatas untuk dapat memberikan penatalaksanaan operasi secara asepsis dan antisepsis sehingga menghilangkan atau meminimalkan angka kuman. Hal ini diperlukan untuk meghindarkan bahaya infeksi yang muncul akibat kontaminasi selama prosedur pembedahan (infeksi nosokomial).
Disamping sebagai cara pencegahan terhadap infeksi nosokomial, teknik-teknik tersebut juga digunakan untuk memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan terhadap bahaya yang didapatkan akibat prosedur tindakan. Bahaya yang dapat muncul diantranya penularan berbagai penyakit yang ditularkan melalui cairan tubuh pasien (darah, cairan peritoneum, dll) seperti HIV/AIDS, Hepatitis dll.

c. Prinsip asepsis pasien
Pasien yang akan menjalani pembedahan harus diasepsiskan. Maksudnya adalah dengan melakukan berbagai macam prosedur yang digunakan untuk membuat medan operasi steril. Prosedur-prosedur itu antara lain adalah kebersihan pasien, desinfeksi lapangan operasi dan tindakan drapping.

d. Prinsip asepsis instrumen
Instrumen bedah yang digunakan untuk pembedahan pasien harus benar-benar berada dalam keadaan steril. Tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah perawatan dan sterilisasi alat, mempertahankan kesterilan alat pada saat pembedahan dengan menggunakan teknik tanpa singgung dan menjaga agar tidak bersinggungan dengan benda-benda non steril.





DESINFEKSI DAN STERILISASI

Desinfeksi : Suatu tindakan untuk membunuh kuman pathogen dan apatogen tetapi tidak termasuk sporanya pada peralatan perawatan dan kedokteran atau permukaan jaringan tubuh, dengan menggunakan bahan desinfektan atau dengan cara mencuci, mengoleskan, merendam dan menjemur.

Tujuan :
1. Mencegah terjadinya infeksi silang
2. Memelihara peralatan dalam keadaan siap pakai

Pelaksanaan :
1. Desinfeksi dengan cara mencuci
Misalnya :
• Mencuci tangan dengan sabun, dibersihkan dan kemudian disiram atau dibasahi dengan alcohol 70%.
• Mencuci luka, khususnya luka kotor dengan H2O2, bethadin.
• Mencuci kulit atau jaringan tubuh yang akan dioperasi dengan larutan iodium tincture 3% dan dilanjutkan dengan alcohol.
• Mencuci vulva dengan larutan sublimate 1/1000 atau PK 1/1000.
2. Desinfeksi dengan cara mengoleskan
Misalnya :
• Mengoles luka dengan merchurochroom.
• Mengoles luka pasca pembedahan dengan alcohol 70% atau bethadine.
3. Desinfeksi dengan cara merendam
Misalnya :
• Merendam tangan dengan larutan Lysol 0,5%.
• Merendam peralatan perawatan/kedokteran setelah dipakai dalam larutan Lysol 3% - 5% sekurang-kurangnya 2 jam.
• Merendam alat tenun setelah dipakai oleh pasien dengan penyakit menular dalam larutan Lysol 3% - 5% sekurang-kurangnya 24 jam.
4. Desinfeksi dengan cara menjemur dibawah sinar matahari
Misalnya :
• Menjemur kasur, bantal, tempat tidur dan lainnya sekurang-kurangnya 2 jam setiap permukaan.
• Menjemur peralatan perawatan, misalnya psipot, urinal dan lain-lain.

Sterlisasi : Suatu tindakan untuk membunuh kuman pathogen dan apatogen beserta sporanya pada peralatan perawatan/kedokteran dengan cara merebus, panas tingi, stoom atau menggunakan bahan kimia.

Jenis peralatan yang dapat disterilkan :
1. Peralatan yang terbuat dari logam, misalnya pinset, gunting, sekulum, dll.
2. Peralatan dari kaca, misalnya spuit, tabung kimia, dll.
3. Peralatan dari karet, misalnya kateter, handscoon, NGT, drain, dll.
4. Peralatan dari ebonite, misalnya kanule rectum, kanule trachea, dll.
5. Peralatan dari email, misalnya bengkok, baskom, dll.
6. Peralatan dari porselin, misalnya mangkok, cangkir, piring, dll.
7. Peralatan dari plastic, misalnya slang infuse, dll.
8. Peralatan dari tenunan, misalnya kassa, tampon, duk, baju, sprei, dll.

Pelaksanaan :
1. Sterilisasi dengan merebus
Mensterilkan peralatan dengan merebus dalam air mendidih (100 C) dan ditunggu antara 15 – 20 menit. Misal : peralatan dari logam, kaca, karet.
2. Sterilisasi dengan stoom
Mensterilkan dengan uap panas dalam autoclave dengan waktu, suhu dan tekanan tertentu. Misal : peralatan dari alat tenun, obat-obatan, dll.
3. Sterilisasi dengan cara panas kering
Mensterilkan peralatan dalam oven dengan panas tinggi. Misal : peralatan logam yang tajam, peralatan dari kaca, dll.
4. Sterilisasi dengan bahan kimia
Mensterilkan peralatan dengan menggunakan bahan kimia seperti alcohol, sublimate, uap formalin, khususnya untuk peralatan yang cepat rusak bila kena panas.Misal : handscoon, kateter, dll.

Perhatian:
1. Sterilisator harus dalam keadaan siap pakai.
2. Peralatan harus dalam keadaan bersih dan masih berfungsi.
3. Peralatan yang dibungkus harus diberi label dengan jelas mencantumkan : nama, jenis peralatan, tanggal dan jam disterilkan.
4. Menyusun peralatan dalam sterilisator harus sedemikian rupa agar semua bagian dapat tersterilkan.
5. Waktu yang diperlukan untuk mensterilakan tiap jenis peralatan harus tepat.
6. Dilarang menambahkan atau memasukkan peralatan lain dalam sterilisator sebelum waktu mensterilkan selesai.
7. Memindahkan peralatan yang steril ke tempat lain harus dengan korentang.
8. Untuk mendinginkan peralatan steril dilarang membuka bungkus atau tutupnya
9. Bila peralatan yang baru disterilkan terbuka, peralatan tersebut dianggap sudah tidak steril.

MENCUCI TANGAN
Adalah membersihkan tangan dari segala kotoran dimulai dari ujung jari sampai siku dan lengan dengan cara tertentu sesuai kebutuhan.

Tujuan :
1. Mencegah terjadinya infeksi silang melalui tangan.
2. Menjaga kebersihan perseorangan (personal hygiene).

Macam mencuci tangan :
1. Cuci tangan biasa.
2. Cuci tangan desinfeksi.
3. Cuci tangan steril.

1. Mencuci tanan dengan cara biasa
Adalah membersihkan tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir atau disiramkan.

Persiapan :
• Air bersih yang mengalir atau air dalam baskom.
• Sabun.
• Sikat lunak (bila perlu).
• Handuk dan/lap bersih kering.

Pelaksanaan :
• Asesoris yang ada ditangan dilepas.
• Tangan sampai siku dibasahi kemudian disabuni dan digosok atau disika bila perlu.
• Tangan selanjutnya dibilas dengan air bersih dan dilap sampai kering.

2. Mencuci tangan dengan cara desinfeksi
Adalah mencuci tangan dengan menggunakan desinfektan khususnya bagi petugas yang berhubungan dengan pasien yang berpenyakit menular.

Persiapan :
• Air bersih yang mengalir atau air dalam baskom.
• Larutan desinfektan, antara lain Lysol, savlon.
• Handuk dan/lap bersih kering.

Pelaksanaan :
Tangan mulai dari ujung jari sampai siku dibasahi dengan air mengalir, setelah itu direndam dengan larutan desinfektan sekurang-kurangnya 2 menit, kemudian dibilas dengan air bersih dan dikeringkan dengan handuk.

3. Mencuci tangan dengan cara steril / Srubbing Surgery / cuci tangan bedah
Mencuci tangan steril/suci hama, khususnya bila akan melakukan tindakan pembedahan.

Persiapan :
• Kran air mengalir yang mempunyai tangkai panjang atau khusus.
• Sikat steril dalam tempatnya.
• Alkohol 70% dalam tempatnya.
• Sabun.
• Lap kering steril (jika ada hairdryer)

Pelaksanaan :
• Bila memakai cincin dan asesoris lain harus dilepas. Lengan baju digulung sampai siku.
• Kran dibuka, tangan dibasahi sampai siku, disabun dan digosok denga jari sekurang-kurangnya 2 menit, kemudian dibilas (sabun tetap dipegang).
• Ambil sikat, kemudian tangan disabun lagi dan disikat mulai dari jari-jari terutama kuku, sela-sela jari, pungung dan telapak tangan sekurang-kurangnya 10 kali. Setelah itu penyabunan dan penyikatan dilakukan pada kedua lengan, masing-masing sekurang-kurangnya 6 kali.
• Tangan dibilas, disikat dan dibilas lagi seperti tadi. Ini diulangi beberapa kali dalam waktu sekurang-kurangnya 15 menit.
• Setelah selesai, sabun dan sikat dikembalikan ke tempatnya. Tangan dibilas dan tetap diarahkan ke atas sehingga air dari tangan mengalir ke siku.
• Kran ditutup dengan siku.
• Tangan dikeringkan dengan lap kering steril. Satu bagian lagi dari lap seyogyanya hanya dipakai untuk satu tangan, dan bagian yang lain untuk tangan sebelahnya.
• Selanjutnya sarung tangan dipasang, jika segera mau pembedahan.


INFEKSI NOSOKOMIAL

Adalah merupakan yang didapatkan di Rumah Sakit yang tidak ada dan tidak menginkubasi pada waktu masuk Rumah Sakit.

Infeksi Nosokomial Melalui darah (Bakterimia dan Fungemia)
Bakterimia didefinisikan sbg pembuktian laboratorium adanya bakteri dalam aliran darah.

Septikemia adalah adanya racun/toksin dalam aliran darah.
Sepsis adalah reaksi umum dari pejamu pada toksin ini. Bakterimia didiagnostik dengan darah mikrobiologik, sedangkan septikemia didiagnostik dengan mikrobiologik dan klinik.

Fungemia adalah infeksi aliran darah yang disebabkan oleh organisme jamur. Infeksi aliran darah serius dan membutuhkan pengenalan lebih dini.

Adanya septikemia ataupun bakterimia ini akan menunjukkan indikator terjadinya peningkatan Angka Leukosit dalam darah (AL atau WBC), juga akan meningkatkan angka SGOT dan SGPT dalam serum.

Faktor-Faktor Penyebab Utama Infeksi Nosokomial di Negara Berkembang :
�� Suntikan yang tidak aman dan seringkali tidak perlu
�� Penggunaan alat medis tanpa ditunjang pelatihan maupun
dukungan laboratorium
�� Standar dan praktek yang tidak memadai untuk
pengoperasian bank darah dan pelayanan transfusi
�� Penggunaan cairan infus yang terkontaminasi, khususnya di
RS yang membuat cairan sendiri
�� Meningkatnya resistensi terhadap antibiotik karena penggunaan antibiotik spektrum luas yang berlebih atau salah

Frekuensi Dan Jenis Infeksi Nosokomial Di Negara Sedang Berkembang :
�� Tingkat infeksi meningkat secara global, terutama di negara
dengan sumber daya yang terbatas
�� Jenis yang paling sering adalah infeksi luka bedah dan infeksi
saluran kemih dan saluran pernafasan bagian bawah (pneumonia)
�� Tingkat paling tinggi terjadi di unit perawatan khusus, ruang rawat
bedah dan ortopedi serta pelayanan obstetri (seksio sesarea)
�� Tingkat paling tinggi dialami oleh pasien usia lanjut, mereka yang
mengalami penurunan kekebalan tubuh (HIV/AIDS, pengguna
produk tembakau, penggunaan kortikosteroid kronis), TB yang
resisten terhadap berbagai obat dan mereka yang menderita penyakit bawaan
parah

Dampak Infeksi Nosokomial :
�� Setiap saat, lebih dari 3 juta pasien di seluruh dunia mendapat komplikasi infeksi yang didapat di rumah sakit (nosokomial)
�� Menyebabkan cacat fungsional, stress emosional dan dapat menyebabkan cacat yang permanen dan kematian
�� Dampak tertinggi pada negara-negara sedang berkembang dengan prevalensi HIV/AIDS yang tinggi
�� Meningkatkan biaya kesehatan di berbagai negara yang tidak mampu dengan meningkatkan
�� Lama perawatan di rumah sakit
�� Pengobatan dengan obat-obat mahal
�� Penggunaan layanan lain

Pencegahan Infeksi Nosokomial :
�� Sebagian besar dapat dicegah dengan berbagai cara pencegahan infeksi yang telah tersedia dan relatif murah
�� Terapkan Tindakan Pencegahan Baku khususnya cuci tangan (atau penggunaan larutan cuci tangan antiseptik) dan memakai sarung tangan
�� Memproses alat dan benda bekas pakai dengan benar
�� Mengurangi suntikan yang tidak aman dan tidak perlu
�� Meningkatkan praktek pencegahan infeksi di Kamar Operasi dan ruang lain yang beresiko tinggi untuk mencegah infeksi luka bedah dan mencegah penyakit yang ditularkan melalui darah
�� Tidak semua dapat dicegah, khususnya penyakit pada orang tua, sakit jantung kronis, penyakit paru-paru atau ginjal, kurang gizi parah dan akibat komplikasi AIDS

Panduan Dan Rekomendasi Isolasi Dari CDC

Dasar Pemikiran

1985
�� Pencegahan Universal bertujuan melindungi petugas kesehatan dari infeksi yang ditularkan melalui darah, namun pencegahan universal tidak:
�� Mengatasi resiko penularan kepada pasien, dan
�� Mengatasi resiko cairan tubuh lain yang mungkin terinfeksi (misal air mani, cairan maupun sekresi lendir)
�� Awalnya tidak diketahui bahwa sebagian besarpengidap HIV tidak menunjukkan gejala, sehingga pencegahan Universal perlu dirubah.

1987
�� Body Substance Isolation - BSI, yang menjawab sebagian besar kekurangan Pencegahan Universal, diperkenalkan dan walaupun lebih sederhana dan lebih mudah dipelajari tetapi:
�� Mahal (penggunaan sarung tangan meningkat),
�� Tidak menjawab pencegahan terhadap penyakit tertentu yg sudah jarang muncul pada pasien di rumah sakit, dan
�� Membingungkan petugas administrasi, petugas dan pasien.



1996
�� Bagian-bagian utama dari PU dan BSI dirangkum menjadi suatu rangkaian garis besar yang terbagi menjadi dua tingkatan yang disebut Tindakan Pencegahan Baku dan Pencegahan Berdasarkan Penularan



Pencegahan Berdasarkan Penularan
Definisi
�� Panduan yang dirancang untuk mengurangi resiko penularan infeksi yang disebarkan seluruhnya maupun sebagian melalui udara, percikan, atau kontak antara pasien rawat inap dan petugas kesehatan. Contoh Penularan melalui :
�� Udara : Cacar air (virus varicella), Campak dan Tuberkulosis
�� Percikan : Gondongan, rubella and meningitis (N. meningitides)
�� Kontak: Patogen enterik (virushepatitis A, echo) dan herpes simplex1

Fungsi Pencegahan Berdasarkan Penularan
�� Berlaku untuk pasien rawat inap yang diketahui atau diduga kuat telah terinfeksi atau terjangkit mikroorganisme pathogen yang ditularkan melalui udara, percikan, atau kontak
�� Bila pasien diduga terinfeksi tanpa diagnosa yang diketahui, Pencegahan Berdasarkan Penularan harus dilaksanakan berdasarkan tanda dan gejala klinis (berbasis empiris) sampai diagnosa dipastikan
�� Mungkin diperlukan lebih dari 1 kategori Pencegahan Berdasarkan Penularan untuk seorang pasien
�� Bila digunakan terpisah atau gabungan, Pencegahan Berdasarkan Penularan


DAFTAR PUSTAKA

1. Abraham E dkk. Consensus conference definitions for sepsis, septic shock, acute lung injury, and acute respiratory distress syndrome: Time for a revaluation. Crit care med 2000;28:232-235
2. Bone RC, Grodzin LI, Balk RA. Sepsis: A new hypothesis for pathogenesis of the disease process. Chest 1997;112:235
3. Carcillo JA. Septic shock. Dalam Singh NC penyunting. Manual of pediatric critical care. Philadelphia. WB Saunders company: 1997;h.223-232
4. Carcillo JA, Fields AI. Clinical practice parameters for hemodynamic support of pediatric and neonatal patients in septic shock. Crit care med 2000;30:6
5. Depkes RI, Prosedur Keperawatan Dasar, Jakarta, 1991.
6. Guyton, Arthur, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Texbook of Medical Physiology), EGC, Jakarta, 1997 : 549.
7. Jafari HS, McCracken GH. Sepsis and septic shock: a review for clinicians. Pediatr Infect Dis J 1992;11:739-748
8. Klein LW. Definition of sepsis: Not quite time to dump SIRS Crit care med 2002; 30:1-5
9. Peter MJ, Dobson S, Novelli V, Balfour J, Macnab A. Sepsis and fever. Dalam Macnab A, Macrae D, Henning R, penyunting. Care of the critically ill child. London. Churchill Livingstone:1999;h.103-119
10. Powell RK. Sepsis and shock. Dalam Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB penyunting. Nelson textbook of pediatrics, edisi ke-16. Philadelphia. WB Saunders Company: 2000; h.747-751
11. Saez-Llorens X, McCracken GH Jr. Sepsis syndrome and septic shock in pediatrics: Current concepts of terminology, pathophysiology, and management. J Pediatr 1993;123:497
12. Society of critical care medicine consensus conference committee: American college of chest physicians/Society of critical care medicine consensus conference: Definition for sepsis and organ failure and guidelines for the use of innovative therapies in sepsis. Crit care med 1992;20:864-874
13. Universitas Indonesia, Kumpulan Kuliah Patologi, Bagian Patologi Anatomi FK UI, Jakarta,1973; 466-55.






















Lampiran Gambar :















Gambar 1. Tempat dan Cara Mencuci Tangan Bedah (Surgical Scrubbing)









Gambar 2. Cara Memakai dan Melepas Handscoon (Gloving)








Gambar 3. Cara Memakai dan Melepas Baju Steril (Gowning)
















Gambar 4. Cara Memakai Masker dan Penutup Kepala (Masking)





















Gambar 5. Cara Membuka dan Menutup Instrumen Steril (Drapping)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar